minangkabaunews berita padang berita sumbar
headline
home berita Feature

Fenomena Asnimar, Perempuan Tangguh Padang Pariaman Melawan Kegetiran

Senin, 13 Maret 2017 - 20:01:18 WIB - 1742
Fenomena Asnimar, Perempuan Tangguh Padang Pariaman Melawan Kegetiran

OLEH : IKHLAS BAKRI

"Alhamdulillah.. Terima kasih.. terima kasih," kata Bastian Desa Putra, anggota DPRD Padang Pariaman dari Partai Hanura saat memarkir kendaraannya setengah berteriak kepada sejumlah wartawan keluarga besar PWI setempat yang sedang gotong royong membangun rumah Asnimar (37), janda tujuh anak dalam kegiatan peringatan hari pers nasional (HPN) 2017 tingkat lokal.

Belasan wartawan yang tengah bekerja memasang bata, memotong kayu dan mengaduk semen di Minggu (12/3) sore sedikit keheranan. Mereka sejenak menghentikan pekerjaannya, menunggu Bastian sambil berjalan beberapa meter ke arah mereka.

"Saya mengapresiasi kawan-kawan wartawan yang membantu membuatkan rumah dunsanak kami. Atas nama keluarga saya mengucapkan terima kasih," katanya.

Ternyata, Asnimar sama-sama bersuku Piliang dengan Bastian dan berasal dari kecamatan yang sama, VII Koto Sungaisariak.

SIMAK JUGA : Potret Kemiskinan di Padang Pariaman, Pondok Tak Muat, Anaknya Tidur di Atas Becak

Tapi beda kenagarian Meski nagari asalnya berbeda, Bastian kini juga berdomisili di Balah Aia, nagari yang sama dengan Asnimar. Jarak tempat tinggalnya kurang dari 1 km. Selain itu, istri Bastian juga merupakan tenaga medis di sana dan bertugas di Puskesmas Sungaisariak.

"Saya tahu persis keseharian Asnimar ini. Apa yang diberitakan wartawan beberapa waktu lalu adalah fakta yang sesungguhya, tapi mungkin rutinitas itu ada pengecualian untuk waktu-waktu tertentu," jelas Bastian. Pada kesempatan itu Bastian turut berpartisipasi gotong royong dalam bentuk dana.

Sekilas Asnimar

Asnimar janda dengan tujuh anak yang masih kecil, anak tertuanya Sahrul berusia sekitar 10 tahun. Si kecil sekitar 2 tahun.

Suaminya yang sudah dua orang meninggal dunia sekitar 3 tahun lalu. Untuk menghidupi anak-anaknya Asnimar memulung plastik bekas kemasan minuman. Juga mengumpulkan pelepah kelapa di tanah pusakanya yang luas.

Pelepah itu ia potong-potong menjadi kayu api dan dijual ke rumah makan di Kuraitaji.

Pendapatannya berkisar Rp 50.000-100.000 setiap hari kalau ia tidak sakit. Pernah, mereka sekeluarga makan nasi setengah bubur, ditemani garam secukupnya. Pola makan yang masih belum sehat, apalagi sempurna.

Untuk menjalankan kedua profesi ini, Asnimar selalu dibantu anak-anaknya. Moda transportasi yang ia gunakan adalah becak kayuh.

Empat anak Asnimar bertugas mendorong becak, dua orang duduk di bagian depan. Si kecil didekap Asnimar kedalam pangkuannya dengan tangan kiri, tangan kanan memegang stang becak.

Bila kecapean si kecil dipindahkan Asnimar ke stang becak dalam posisi duduk menghadap ibunya.

Asnimar hidup selalu berpindah-pindah sejak beberapa waktu terakhir setelah pulang merantau dari tanah jawa. Pernah menumpang di rumah keluarga ayahnya di Batangtajongkek, Kuraitaji, sekitar 2,5 km dari rumah ibunya. Pernah juga tidur di mushala. Sejak lima bulan terakhir ia tinggal di tanah pusaka, di samping rumah oragtua perempuannya yang permanen.

Asnimar tidur beralaskan tikar berdinding dan beratapkan terpal, Demi beberapa hal, Asnimar lebih memilih tinggal di "rumah"nya sendiri dan memasak sendiri. Untuk urusan memasak ini Asnimar melansungkannya di alam terbuka, dekat tempat ia bersama anak-anaknya sering tidur.

Jika dihitung-hitung, dalam rentang waktu Oktober 2016 hingga awalFebruari 2017, Asnimar bersama anak-anaknya jauh lebih sedikit beraktifitas di rumah orangtuanya. Asnimar lebih memilih tenteram di tempat seadanya daripada menetap di rumah permanen dalam ketidaknyamanan.

Rutinitas agak janggal yang dilakoni Asnimar, Kartini masa kini yang berjuang melawan kegetiran hidup ini memicu sejumlah wartawan Padangpariaman menuangkannya ke dalam pemberitaan, termasuk media televisi lokal dan nasional pada awal Februari lalu. Mereka melaporkan seadanya tanpa maksud dan tujuan tertentu.

Padangpariaman dan Sumatera Barat sedikit hiruk. Pada awal-awal Februari 2017 itu banyak orang berkunjung ke kediaman Asnimar dari berbagai daerah. Ada yang sekedar mencari pembuktian, dan tak sedikit pula membawa buah tangan.

Berita Hoax?

Tiba-tiba saja, apa yang menjadi pemberitaan banyak media ini coba dibantah oleh pihak-pihak yang berkemungkinan terusik kepentingannya, atau yang selama ini terbiasa menyampaikan laporan kesuksesan saja kepada atasannya.

Sayang bantahan tersebut beraninya cuma lewat media sosial sekelas Facebook yang tanpa data. Entah kenapa mereka enggan berdiskusi dan berdialog dengan wartawan yang punya data valid berupa video, jika memang serius untuk membantah atau sekedar klarifikasi.

Di antara yang mereka bantah itu adalah persoalan di mana Asnimar tidur. Mereka meyakini bahwa Asnimar beserta tujuh anaknya selalu tidur di rumah permanen milik orangtuanya. Mereka mendapatkan informasi entah darimana sumbernya.

Selanjutnya masalah kekurangan gizi anak Asnimar. Karena sebelumnya mereka terlanjur memproklamirkan bahwa Padangpariaman sudah bebas gizi buruk sejak 2015, juga kesuksesan Padang Pariaman Sehat, programnya BAZ.

Sementara diagnosa dokter melalui sebuah surat keterangan yang masih disimpan Asnimar menyatakan bahwa kondisi seorang anaknya merupakan ciri-ciri penderita gizi buruk pada tahun 2015. masalah ini mendapat perhatian serius dari Yurnaldi, wartawan senior Harian Kompas dan juga anggota Komisi Informasi Provinsi Sumbar.

Lewat tulisannya di kolom opini Harian Padang Express edisi 9 Februari 2017, diawali dengan kalimat Hoax kata orang, hoax pula kata waang, Da Nal, begitu yuniornya sering menyapa, menceritakan adanya kecenderungan pihak-pihak tertentu menuduh berita wartawan yang faktual sebagai berita hoax.

Namun, tak bertepuk sebelah tangan, wartawan sebagai pembuat berita,juga harus melakukan penggalian informasi, melakukan konfirmasi kepada pihak-pihak yang memiliki keterkaitan dengan objek berita dan menyajikannya seimbang kepada pembaca. Terhadap kasus Asnimar, konfirmasi tentu hanya wajib dilakukan kepada Asnimar sendiri dan orang-orang yang menyaksikan kesehariannya.

Dikunjungi dan Disantuni Bupati

Dalam waktu relatif singkat, hanya beberapa hari saja setelah kemunculan berita Asnimar yang fenomenal, Bupati Padang Pariaman Ali Mukhni bersama sejumlah pejabat turun ke lokasi menyaksikan dan berhadapan lansung dengan Asnimar, keluarga dan anak-anaknya.

Kepada bupati, anak-anak Asnimar menyebutkan bahwa mereka tidur di rumah permanen milik neneknya.

Akan tetapi aroma bahwa telah terjadi semacam pengondisian sebelum kehadiran bupati begitu kental terasa. Asnimar terlihat begitu segeh, seolah-olah mau berangkat pesta.

Potongan-potongan kayu plus tungku dari bata dan abu bekas memasak sudah tidak terlihat lagi di alam terbuka, tempat di mana Asnimar biasa mengerjakan aktifitas memasak.

Hanya saja, rak piring beserta alat perangkat memasak dan rak kayu masih tetap berdiri di tempat biasa. Ia terselimuti oleh terpal yang biasa digunakan Asnimar sebagai atap dan dinding tempat ia tidur.

Asnimar mengakui, sejak kemunculan beriita dirinya di berbagai media, Babinkamtibmas setempat pernah berkunjung dan menginstruksikan kepada Asnimar dan keluarganya agar Asnimar harus tidur di rumah permanen orangtuanya. Tidak boleh lagi tidur di bawah terpal.

Dalam kunjungan mendadak tersebut, bupati menyantuni Asnimar beberapa juta rupiah yang kemudian menjadi dana tambahan untuk membangun rumah semi permanen.

"Jika aturan yang ada menghalangi kita sebagai lembaga untuk membantu, maka badoncek (patungan) secara pribadi-pribadi dapat kita lakukan," kata Ali Mukhni.

Membangun Rumah Memperingati HPN

Setelah menjadikan Asnimar sebagai sumber berita, wartawan Padang Pariaman yang bernaung di bawah PWI merasa bertanggungjawab membangunkan rumah sederhana untuk dia yang telah dijanjikan sebelumnya.

Meski dengan Rp 0, janji yang sudah terucap tentu harus ditunaikan. Jadilah kegiatan membangun rumah sederhana ini sebagai bagian dari peringatan HPN di Padangpariaman.

Adalah keluarga Darmansyah (wartawan Singgalang dan Wakil Ketua PWI Padang Pariaman) yang berdomisili di Jakarta merupakan penyumbang perdana sebesar Rp 5,2 juta, disusul Jon Kenedi Aziz (anggota DPR RI) Rp 3 juta, kawan-kawan Asnimar alumni SMP 3 Pariaman Rp 5 juta, Budi Herman dan Dasril Jambak (PT Trikon Sejatama Karya, developer perumahan Ketaping Residence) dalam bentuk kusen, pintu dan tanah timbunan, serta para donatur lain, baik dalam bentuk dana maupun material.

Keluarga besar PWI Padang Pariaman gotong royong setiap Sabtu dan Minggu seharian. Diawali pada Sabtu (24/2).

Hingga minggu ke tiga ini, kondisi rumah Asnimar sudah siap 70 %. Sementara Dandim 0308 Pariaman Letkol Endro Nurbantoro sudah bersiap-siap pula membangun MCK plus.

"Meskipun saya sudah mutasi ke Mabes TNI, MCK plus tetap tanggung jawab saya," tegasnya. (ib)

Berita ini bermanfaat?
sekarang juga!

Editor/Sumber: Rahmat Ilahi
Tag: feature,padang-pariaman,perempuan,sumatra-barat,tokoh

SILAHKAN BERBAGI


BE SMART, READ MORE

Gerakan Anak Negeri Minta Anies-Sandi Berkomitmen Tegas Tolak Reklamasi Teluk Jakarta, Ini Alasannya

Gerakan Anak Negeri Minta Anies-Sandi Berkomitmen Tegas Tolak Reklamasi Teluk Jakarta, Ini Alasannya

JAKARTA - Gerakan Anak Negeri (GAN) Dalam keterangan persnya Kamis (12/10/2017) menolak reklamasi Teluk Jakarta dan...

Karena Hal ini, Pelatih Semen Padang FC Didenda 20 Juta Rupiah Oleh Komdis PSSI

Karena Hal ini, Pelatih Semen Padang FC Didenda 20 Juta Rupiah Oleh Komdis PSSI

BOLA - Komisi Disiplin (Komdis) PSSI menjatuhkan sanksi kepada pelatih Semen Padang FC Nil Maizar serta pelatih...

Mantapkan Verifikasi, Inilah Struktur DPW PAN Sumbar yang Baru

Mantapkan Verifikasi, Inilah Struktur DPW PAN Sumbar yang Baru

PADANG -- DPW PAN Sumbar mempunyai formasi pengurus baru pasca keluarnya SK DPP PAN Nomor : PAN/A/Kpts/KU-SJ/059/X/2017...

Timnas U-19 Indonesia Hadapi Kamboja, Indra Sjafri Tak Mau Takabur

Timnas U-19 Indonesia Hadapi Kamboja, Indra Sjafri Tak Mau Takabur

BOLA - Pelatih tim nasional (timnas) U-19 Indonesia, Indra Sjafri tak mau timnya merasa akan bisa menang dengan mudah...

Terobos Lampu Merah Sianik Pariaman, Xenia Tabrak Motor Hingga Terseret Sejauh 20 Meter

Terobos Lampu Merah Sianik Pariaman, Xenia Tabrak Motor Hingga Terseret Sejauh 20 Meter

PARIAMAN - Sebuah Mobil Daihatsu Xenia menabrak kendaraan roda dua, Mobil itu menabrak motor Mio yang sedang berhenti...


KOMENTAR ANDA



kaos minang unik dan lucu