minangkabaunews berita padang berita sumbar
headline
home berita Opini

Tiga Race Terakhir Sebelum Final di Pilpres 2019

Senin, 01 Mei 2017 - 18:10:57 WIB - 547
Tiga Race Terakhir Sebelum Final di Pilpres 2019Ilustrasi

Oleh: Mardiansyah


Tidak terasa Indonesia telah menyelesaikan serangkaian proses pemilihan kepala daerah serentak di tahun 2017 dengan aman, damai dan sangat demokratis. Tentu hal ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi kita sebagai warga negara Indonesia, bahwa kita sebagai rakyat yang menjadi elemen utama demokrasi telah berhasil menerapkan konsep demokrasi di negara tercinta ini. Namun ini belum mencapai akhir dari pesta demokrasi yang sebenarnya, negara masih punya satu agenda lagi yaitu pemilihan kepala daerah langsung 2018 sebelum mencapai puncak pesta demokrasi yaitu pemilihan umum dan pemilihan presiden di tahun 2019.


Jika dicermati pada proses pilkada 2017 ini, rakyat seperti disuguhkan pemandangan duel sengit antara dua kubu politik yang sedang bersebrangan saat ini, ada kubu koalisi pro pemerintahan dan kubu koalisi diluar pemerintahan, dan hal ini sangat terasa terutama dalam pilkada di wilayah yang menjadi sorotan publik seperti pilgub provinsi Banten dan DKI Jakarta, Jika diibaratkan proses pilkada serentak ini mungkin seperti balapan dalam Moto-GP yang melibatkan dua kekuatan besar yaitu Yamaha dan Honda.


Jika mengacu pada jumlah pemilih wajar saja kalau pilkada di pulau Jawa menjadi sorotan publik karena mengacu pada hasil sensus penduduk terakhir, di pulau Jawa jumlah penduduknya saat ini adalah sekitar 136.610.590 jiwa atau 57,5% dari total penduduk Indonesia. Jadi hampir bisa dikatakan bahwa pulau Jawa adalah tolak ukur dari suara pemilih nasional, tentunya tanpa mengesampingkan pemilih di pulau lainnya. Di pulau Jawa sendiri pada pilkada 2017 sudah menyelesaikan dua pemilihan gubernur yaitu untuk provinsi Banten dan DKI Jakarta, dimana dua pemilihan gubernur tersebut berhasil dimenangkan oleh koalisi di luar pemerintahan.


Sedangkan untuk tiga provinsi lainnya di pulau Jawa seperti Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur baru akan melaksanakan pemilihan gubernur di tahun 2018. Jika diibaratkan balapan Moto-GP maka ketiga daerah tersebut adalah race penentuan sebelum mencapai finalnya pada pemilu 2019 dan peluang bagi kubu koalisi pemerintahan untuk mengejar ketertinggalan masih sangat terbuka lebar. Tentunya perlu ada perubahan strategi baik dari kubu koalisi pemerintahan dan koalisi diluar pemerintahan jika ingin memenangkan pilgub di tiga daerah potensial tersebut.


Dan harus menjadi perhatian juga bahwa pilkada daerah lain di luar pulau Jawa harus pula mendapatkan perhatian karena daerah-daerah tersebut juga menyimpan potensi suara yang dibutuhkan untuk menghadapi pemilihan umum 2019, apalagi jika melihat arah politik saat ini sepertinya pada pemilihan umum 2019 akan terjadi perebutan suara yang sangat ketat terutama jika sudah sampai pada fase pemilihan presiden.


Pilkada Jawa Tengah dan Jawa Timur


Jawa Tengah dan Jawa Timur adalah provinsi yang memiliki jumlah suara lumayan banyak saat pilkada 2018 nanti, menurut data terakhir sensus penduduk, jika digabungkan maka kedua provinsi ini memiliki suara sekitar 69.859.414 Jiwa, tentunya dengan jumlah pemilih sebanyak itu wajar jika kedua provinsi tersebut kerap menyajikan pertarungan sengit dalam pemilihan kepala daerah. Saat ini di Jawa Tengah gubernur petahana adalah Bapak Ganjar Pranowo dan wakilnya Bapak Heru Sudjatmoko yang pada pilgub sebelumnya diusung oleh PDI-P, sedangkan untuk Jawa Timur gubernur petahana sekarang adalah Bapak Soekarwo dan wakilnya Bapak Saifullah Yusuf yang pada pilgub sebelumnya diusung oleh koalisi Partai Demokrat, Golkar, PAN, PKS, PPP, Hanura, Gerindra, PKNU, PBR dan PDS.


Untuk pilgub 2018 nanti di Provinsi Jawa Tengah sang gubernur petahana masih bisa mencalonkan kembali karena baru menjabat satu periode, sedangkan gubernur petahana Jawa Timur sudah tidak bisa mencalonkan kembali karena sudah menjabat dua periode. Dari fakta tersebut terlihat akan terjadi kontra strategi di kedua provinsi tersebut, dimana pada satu sisi ada yang mempertahankan posisi dan di sisi lain ada yang memperebutkan slot gubernur yang kosong, ini akan jadi seru karena daerah Jateng dan Jatim dikenal dengan mayoritas pemilih muslim nasionalis.


Selama ini diketahui bahwa Jateng merupakan basis suara PDI-P sedangkan Jatim adalah basis suara PKB. Jika dilihat dari peta politik tersebut sepertinya memang kedua provinsi tersebut akan berpeluang dimenangkan oleh kubu pro pemerintah karena PDI-P dan PKB adalah partai koalisi pemerintahan, namun terlalu subuh jika kita meyakini demikian karena tentunya kubu koalisi diluar pemerintahan juga sudah menyiapkan kartu truf dan pastinya pilkada di kedua provinsi ini akan menarik perhatatian publik. patut ditunggu siapakah yang akan memenangkan dua race ini pada 2018 nanti.


Pertarungan di Jawa Barat


Satu race lagi untuk pilkada di pulau Jawa adalah provinsi Jawa Barat, provinsi ini memiliki populasi sekitar 43.053.732 jiwa yang merupakan provinsi dengan penduduk terbanyak di Indonesia. Saat ini Jawa Barat dipimpin oleh Bapak Ahmad Heryawan didampingi wakilnya Bapak Deddy Mizwar, pasangan ini pada pilgub sebelumnya diusung oleh koalisi PKS, PPP, dan Hanura. Untuk pemilihan gubernur 2018 nanti sang petahana Bapak Ahmad Heryawan tidak bisa mencalonkan kembali karena sudah menjabat selama dua periode.


Pemilihan gubernur Jawa Barat dalam beberapa periode terakhir cukup menarik perhatian publik karena ada beberapa artis yang ikut dalam pemilihan ini, pada pemilihan terakhir di 2013 ada dua calon gubernur dari kalangan selebritis yaitu Rieke Diah Pitaloka dan Dede Yusuf, ditambah Deddy Mizwar yang maju sebagai calon wakil gubernur. Dan aroma perang bintang ini sepertinya masih akan berlanjut di pilkada 2018 nanti dengan tingginya elektabilitas beberapa selebritis seperti Deddy Mizwar, Dede Yusuf dan Desy Ratnasari.


PDI-P berhasil meraih suara terbanyak di provinsi ini pada pemilu 2014 lalu dengan hasil 20 kursi DPRD yang artinya PDI-P bisa mencalonkan gubernur sendiri tanpa harus berkoalisi dengan partai lain, sedangkan untuk calon gubernur sendiri sudah ada beberapa nama yang santer disebut punya elektabilitas tinggi di Jabar seperti Ridwan Kamil, Deddy Mizwar, Dedi Mulyadi, Dede Yusuf, TB Hasanudin, dll. Sedangkan untuk peta koalisi di Jabar masih belum ada pola yang terbaca karena begitu banyaknya calon-calon potensial yang bertebaran. Tentu sudah bisa dibayangkan betapa serunya jika nantinya nama-nama tersebut bersaing dalam pilgub Jabar 2018 dan pastinya pilgub Jabar akan sangat menarik perhatian publik.


Belajar dari Jakarta dan Banten


Pilkada di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur memang tampak akan berjalan sangat seru dan ketat karena merupakan race terakhir sebelum pemilu 2019, namun tetap harus diingat bahwa ketatnya persaingan jangan sampai menjurus ke arah yang keluar dari gerbong demokrasi, ketiga provinsi ini bisa belajar dari pilkada Jakarta dan Banten yang meskipun dinlanda pertarungan sengit saat pilkada namun pada akhirnya selesai dengan aman dan damai.


Pilkada 2018 adalah jembatan utama menuju pemilu 2019, tentunya diharapkan pilkada 2018 mampu memberikan pendewasaan demokrasi yang lebih mendalam setelah pilkada 2017 yang terbilang sukses. Masih banyak waktu untuk mengatur strategi serta mempelajari bagaimana pilkada yang sangat panas seperti di Banten dan terutama Jakarta bisa berakhir dengan sangat demokratis.


Sikap negarawan para pihak yang bertarung dalam pilkada mutlak dibutuhkan, karena tanpa sikap negarawan calon yang bertarung tentu hanya memikirkan kemenangan pribadi dan mengabaikan proses pendewasaan demokrasi yang sedang berjalan, sejatinya pesta demokrasi diadakan adalah untuk menyatukan bangsa bukan sebaliknya. Semoga pilkada 2018 bisa jadi jembatan penghubung untuk gerbong demokrasi Indonesia menuju ke arah yang lebih baik lagi. (*)



*/ Penulis adalah Mahasiswa Universitas Pamulang, Divisi Kebijakan Publik Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Kota Tangerang dan Pendiri Lingkaran Peneliti Politik Muda Indonesia (LIPPMI) / 087877674695 / marrdiansyah@gmail.com

Berita ini bermanfaat?
sekarang juga!

Editor/Sumber: Ikhlas Bakri
Tag: indonesia,nasional,pilkada,politik,tokoh

SILAHKAN BERBAGI


BE SMART, READ MORE

Konflik Rohingya, DPR: Ini Bukan Tragedi Tetapi Kejahatan Kemanusiaan

Konflik Rohingya, DPR: Ini Bukan Tragedi Tetapi Kejahatan Kemanusiaan

NASIONAL - Anggota Komisi IX DPR dari Fraksi Partai NasDem Amelia Anggraini tidak bisa menutupi kegeramamnnya atas...

Breaking News: Gempa 6,2 SR Hoyak Mentawai Tengah Malam, Guncangannya Terasa Kuat di Padang

Breaking News: Gempa 6,2 SR Hoyak Mentawai Tengah Malam, Guncangannya Terasa Kuat di Padang

PADANG - Gempa tektonik 6,2 SR mengguncang Kabupaten Mentawai, Sumatera Barat (Sumbar) dan sekitarnya, (1/9/2017)...

Dua Mahasiswa Sumbar yang Sempat Ditahan Aparat Mesir Akhirnya Pulang ke Ranah Minang

Dua Mahasiswa Sumbar yang Sempat Ditahan Aparat Mesir Akhirnya Pulang ke Ranah Minang

PADANG - Dua mahasiswa Universitas Al Azhar Kairo Mesir asal Sumatera Barat (Sumbar) yang sempat ditahan aparat...

Apakah Cuaca Ekstrem Masih Ancam Padang? Ini Kata BMKG

Apakah Cuaca Ekstrem Masih Ancam Padang? Ini Kata BMKG

PADANG - Masyarakat Kota Padang, dan daerah lain di pesisir barat Sumatra Barat masih bertanya-tanya terkait kondisi...

Sempat Terhenti, Pembangunan Museum PDRI Senilai 600 Milyar di 50 Kota Dilanjutkan Kembali

Sempat Terhenti, Pembangunan Museum PDRI Senilai 600 Milyar di 50 Kota Dilanjutkan Kembali

LIMA PULUH KOTA - Pembangunan Monumen Bela Negara yang sebelumnya sempat terhenti, akhirnya akan dilanjutkan kembali....


KOMENTAR ANDA



kaos minang unik dan lucu