minangkabaunews berita padang berita sumbar
headline
home berita Opini

Marhaban Ya Ramadhan, Mengaplikasi Makna Puasa

Sabtu, 20 Mei 2017 - 17:26:30 WIB - 814
Marhaban Ya Ramadhan, Mengaplikasi Makna PuasaIwin SB

Oleh: Iwin SB

"Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu menjadi orang-orang yang bertqwa". (QS. Al-Baqarah ayat 183)

Bulan yang selalu dirindukan dan ditunggu-tunggu kedatangannya oleh Rasulullah Saw dan para Shahabat beliau serta orang-orang Shaleh sesudahnya. Bulan Al-Quran yang didalamnya, Allah SWT menurunkan permulaan Kalamullah sebagai hudan (petunjuk) bagi manusia dan sebagai furqan (pembeda) antara yang haq (benar) dengan al-bathil (salah). Bulan penuh keberkahan yang didalamnya Allah Swt menetapkan satu malam saja yang lebih baik dari seribu bulan (Lailatul qadar).

Bulan yang dikatakan oleh Rasulullah Saw sebagai syahru ummati (bulan ummatku). "Yaa Allah Yaa Rahman, berkahilah kami di bulan Syaban ini dan sampaikanlah kami melalui bulan Ramadhan yang penuh Berkah, Rahmat dan Maghfirah-Mu itu kepada derajat kemuliaan insan berpredikat Taqwa sebagaimana yang telah Engkau janjikan dalam Firman-Mu". Amin.

Kata puasa sebagaimana yang sering kita gunakan untuk menggantikan sekaligus merepsesentasi istilah shaum/shiyam yang berasal dari bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia, menurut salah satu Kamus Bahasa Indonesia artinya berpantang atau menyengaja tidak mau melakukan sesuatu (misalnya makan dan minum) dalam waktu tertentu (contohnya puasa Ramadhan).

Dikaji dari sisi makna, secara harfiyah shaum/shiyam (bahasa Arab) berarti Imsak atau menahan. Dan menurut istilah, shaum/shiyam berarti menahan diri dari sesuatu yang akan membatalkan puasa semenjak terbit fajar hingga terbenam matahari. Maka dengan demikian secara sederhana kita dapat merangkum makna hakiki dari Puasa atau Shaum itu adalah "Berpantang, jeda, istirahat, rehat, reses, menyengaja atau menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat secara sadar disertai kemauan yang kuat dan bertanggung jawab secara benar dan tepat pada waktunya".

Dari pengertian di atas, tentunya kita semakin memahami bahwa istilah puasa atau shaum itu ternyata dapat mengalami perluasan makna serta bentuk aplikatif yang lebih universal sesuai dengan situasi, kondisi maupun urgensinya. Jadi, puasa bukan saja hanya dalam bentuk aktifitas fisik seperti menahan (kemauan) diri untuk tidak makan, minum atau menyalurkan kebutuhan biologis dan perkara lainnya yang akan membatalkan pahalanya pada waktu yang telah ditentukan. Melainkan juga dapat berupa aktifitas indrawi, verbal maupun psikomotorik yang terkait langsung dengan perilaku dan tabiat keseharian manusia itu sendiri. Seperti berbicara, mendengar, merasa, prasangka, berpikir, bertindak dan lain-lain.

Maka oleh karenanya, melalui momentum bulan Ramadhan yang diliputi banyak keistimewaan itu, tidak ada salahnya kita mulai mengajak dan membiasakan seluruh organ tubuh fungsional kita untuk mengikuti pemusatan latihan bernama puasa. Sebagai contoh, sudah tiba masanya bagi lubang telinga pendengaran kita untuk berupaya menahan diri dari mendengar suara-suara kotor dan jorok. Sumpah-serapah, carut-marut, caci-maki atau bahkan musik dan nyanyian tak senonoh. Yang kesemuanya itu tidak akan mendatangkan faidah atau meningkatkan kualitas kemanusiaan bahkan keimanan kita.

Seterusnya, mari pula kita mempuasakan hati yang letaknya di dalam dada dari kemungkinan terburuk terinfeksi virus penyakit hati. Riya, sombong, takabur dan su’udzhan (negative thinking). Atau dari sifat iri dan dengai kepada sesama insan, yang justeru (sebagaimana sabda Rasulullah Saw) akan menghabiskan amal-amal shalih manusia laksana api menghanguskan kayu bakar. Na’udzubillahi min dzalik. Maka Allah SWT telah mengingatkan kita melalui firman-Nya "Sesungguhnya pendengaran dan penglihatan serta hati semuanya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT" (QS. Al-Isra ayat 36).

Allah Swt kembali memberi kita peringatan dengan firman-Nya "Pada hari dimana Allah Swt mengunci mati mulut-mulut mereka, dan berbicaralah tangan-tangan mereka serta bersaksi pula kaki-kaki mereka terhadap apa-apa yang pernah mereka perbuat selama di dunia" (QS. Yasin ayat 65).

*/ Journalist Minangkabaunews.com

Berita ini bermanfaat?
sekarang juga!

Editor/Sumber: Ikhlas Bakri
Tag: bukittinggi,opini,reliji,sumatra-barat

SILAHKAN BERBAGI


BE SMART, READ MORE

Pengamat Sarankan KPK Periksa Wartawan Metro TV yang Sopiri Setnov

Pengamat Sarankan KPK Periksa Wartawan Metro TV yang Sopiri Setnov

NASIONAL - Pengamat Politik dari Lingkar Madani Ray Rangkuti menilai Hilman Mauttuch, wartawan Metro TV yang merupakan...

Polisi yang Anaknya Membakar Mapolres Dharmasraya Sumbar Minta Maaf

Polisi yang Anaknya Membakar Mapolres Dharmasraya Sumbar Minta Maaf

DHARMASRAYA - Salah satu pelaku pembakaran Mapolres Dharmasraya, Sumatera Barat (Sumbar) berinisial EFA merupakan anak...

Pelatih Timnas U-19 Indra Sjafri Dipecat PSSI?

Pelatih Timnas U-19 Indra Sjafri Dipecat PSSI?

BOLA - Indra Sjafri disebut-sebut tak lagi menjabat sebagai pelatih Timnas Indonesia U-19. Kabar yang mengejutkan itu...

Anggota DPR RI Hadiri Donor Darah Massal di Banuhumpu Agam

Anggota DPR RI Hadiri Donor Darah Massal di Banuhumpu Agam

AGAM - Memperingati Hari Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan masyarakat Banuhampu, Agam, Sumatera Barat (Sumbar), bekerja...

Gelar PJ-PDD dan Medsos, Muhammadiyah Sumbar Bumikan Jihad Literasi

Gelar PJ-PDD dan Medsos, Muhammadiyah Sumbar Bumikan Jihad Literasi

PADANG - Majelis Pustaka dan Informasi PW Muhammadiyah Sumbar, akan menggelar pelatihan jurnalistik dan pengelolaan...


KOMENTAR ANDA



kaos minang unik dan lucu