minangkabaunews berita padang berita sumbar
headline
home berita Opini

Pertumbuhan Ekonomi Kreatif Sebagai Dampak dari Pembangunan Pariwisata di Kota Pariaman

Senin, 19 Juni 2017 - 15:45:41 WIB - 335
Pertumbuhan Ekonomi Kreatif Sebagai Dampak dari Pembangunan Pariwisata di Kota PariamanSulaman Pariaman

Oleh: Warman


Seiring meningkatnya arus wisatawan masuk ke Kota Pariaman semenjak 2013 hingga 2016 berdampak pula pada berbagai kegiatan ekonomi baik perdagangan maupun jasa wisata meskipun di masing-masing sektor ada yang menunjukkan peningkatan dan ada pula penurunan


Dalam kurun waktu dua tahun terakhir pertumbuhan industri kreatif mengalami kenaikan di tahun 2015 jumlah IKM jenis sulaman ada sebanyak 122 unit, bordir 528 unit, rajutan 45 unit dan cindera mata/souvenir 11 dengan jumlah 706 unit usaha sedangkan di tahun 2016 sulaman 129 unit, bordir 530 unit, rajutan 60 dan cindera mata 13 unit berjumlah 732 unit usaha dengan persentase pertumbuhan 3,7% (Diskoperindag Pariaman).


Sulaman merupakan salah satu sektor kerajinan tangan andalan di Kota Pariaman bicara tentang kerajinan sulaman ini, maka tidak lengkap jika tidak menyebutkan nama sebuah desa yang menjadi pusat produksinya, Naras atau yang lebih dikenal dalam dialek Pariaman dengan Nareh merupakan centra sulaman terbesar di Kota Tabuik.


Puluhan tahun Naras menjadi pemasok aneka jenis kerajinan sulaman berkualitas unggul ke berbagai pelosok daerah di Sumatera hingga Jawa bahkan hingga ke negara tetangga seperti Malaysia, Brunei dan Singapura.


Sulaman Naras merupakan kerajinan tangan yang diteruskan secara turun temurun dari generasi ke generasi, dikerjakan dengan sangat teliti sehingga hasil motif sulaman yang dihasilkanpun sangat rapi dengan kualitas yang terjaga meskipun dikerjakan secara manual. Tidak mengherankan jika proses pengerjaannya pun bisa memakan waktu hingga berbulan-bulan. Sebagai gambaran, sebuah busana terusan wanita dengan aksesoris selendang yang waktu pengerjaannya tiga bulan dapat terjual pada kisaran harga antara Rp. 3-5 juta per set.


Sudah tidak asing lagi jika kemudian hasil karya para pengrajin asal Naras disukai banyak konsumen dan pedagang di daerah luar misalkan Payakumbuh, Padang, Dumai, dan Pekanbaru meskipun daerah ini ada juga menampung sulaman ternama seperti Silungkang dan Pandaisikek.


Menurut informasi dari salah seorang pengrajin sulaman di Naras pembuatan kerajinan ini sudah ada sekitar tahun 1960-an. Ketika itu, kain sulam yang dibuat oleh masyarakat masih terbatas pada motif sulaman tradisional Minangkabau yang umum digunakan dalam baju pengantin dan kegiatan adat yang dikombinasikan bersama kain selendang.


Seiring berkembangnya jangkauan dan selera pasar para pengrajin Naras melakukan pengayaan variasi jenis dan motif sulaman. Sehingga produk sulaman di Naras pun semakin bervariasi, mulai dari busana pengantin, gaun, selendang, busana muslim, mukena, bed cover, sandal, hingga beraneka jenis tas tersedia di sana.


Bahkan hasil kerajinan sulaman Naras telah dipakai juga oleh perancang busana dalam ajang Pariaman Fashion Parade semenjak dua tahun lalu dengan modivikasi terkini dalam menjangkau pasar internasional, seperti sulaman benang emas dan kapalo samek.


Bordir adalah salah satu jenis sulaman yang menggunakan mesin dalam hal pengerjaannya menggunakan pemindangan sebagai alat bantu untuk membentangkan dan mengencangkan kain saat dibordir.


Pembordiran memakai dua metode manual dan komputer. Pola manual merupakan dengan cara menggambar atau menulis terlebih dahulu di atas kain yang akan dibordir, sedangkan cara komputer ialah dengan menggambar model yang akan di jahit pada komputer setelah itu di cetak dan ditempelkan pada dasar kain yang akan di bordir.


Pada umumnya bordiran dipakai untuk mukena, jilbab, pakaian sholat, kaos dan tas. Sedangkan sebagai centra bordir Kota Tabuik terletak di daerah Jati dan Padusunan, sama halnya dengan sulaman bordiran Pariaman banyak juga diminati oleh pangsa luar daerah dan bahkan di ekspor hingga ke Malaysia dan Singapura.


Selama dua dekade terakhir sektor industri kreatif mampu menampung tenaga kerja pada 2015 sebanyak 8.926 orang dan 2016 sebanyak 8.956 dengan demikian solusi dalam mengurangi angka penggangguran di kota Pariaman sudah dapat diwujudkan.


Usaha Pemko Pariaman ini merupakan upaya untuk mewujudkan Peraturan Presiden Republik Indonesia No.6 Tahun 2015 Tentang Badan Ekonomi Kreatif yakninya dengan telah di bentuknya Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif) yang mana lembaga ini bertanggung jawab terhadap perkembangan ekonomi kreatif indonesia. Yang juga bertugas membantu presiden dalam merumuskan, menetapkan, mengkoordinasikan dan sinkronisasi kebijakan di bidang ekonmomi kreatif.


Ekonomi kreatif memang tepat rasanya diterapkan di kota tabuik sesuai dengan visinya pemko Pariaman sebagai daerah tujuan wisata dan ekonomi kreatif yang tidak memiliki SDA (Sumber Daya Alam) andalan sehingga sektor realnya sangat layak menjadi prioritas dalam ekonomi kreatif.


Berbeda dengan sektor lain yang sangat tergantung pada eksploitasi sumber daya alam, kekuatan ekonomi kreatif lebih bertumpu kepada keunggulan sumber daya manusia. karya seni, arsitektur, buku, inovasi teknologi, dan animasi, berasal dari ide-ide kreatif pemikiran manusia.


Melalui ekonomi kreatif (Ekraf) ahun 2015 lalu, indonesia mencatatkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) 4,79%, lebih tinggi daripada pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan hanya mencapai 2,4%. Iklim yang positif ini tentunya menjadi momen yang tepat bagi pemerintah untuk mengokohkan fondasi perekonomian, terutama pada sektor riil (Web BPS Nasional).


Secara real sektor Ekraf Kota Pariaman dalam dua tahun terakhir menunjukkan peningkatan dan mampu menciptakan lapangan kerja, namun statistik laju pertumbuhan PDRB menurut lapangan usaha mengalami penurunan dalam tiga tahun terakhir di 2013 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Pariaman di angka 6,06% , di 2014 turun menjadi 5,99% dan pada 2015 juga menunjukkan penurunann menjadi 5,78% (BPS Kota Pariaman).


Jika kita kembali mengacu ke dasar ekonomi kreatif yang artinya sebuah konsep di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan pengetahun dari sumber daya manusia sebagai faktor produksi yang utama dan konsep ini biasanya didukung dengan keberdaan industri kreaif itu sendiri sebagai pengejawantahannya.


Berdasarkan konsep dan ide kreatif di atas tampaknya Pemko. Pariaman telah banyak merealisasaikannya melalui dinas Koperindag dan Pariwisata namun kenapa laju PDRB nya dalam tiga tahun terakhir mengalami penurunan tentunya ini perlu kajian bersama kembali. (***)

Berita ini bermanfaat?
sekarang juga!

Editor/Sumber: Ikhlas Bakri
Tag: opini,pariaman,sumatra-barat

SILAHKAN BERBAGI


BE SMART, READ MORE

BMKG : Curah Hujan Padang dan Mentawai Tinggi, Warga Diminta Waspada Banjir

BMKG : Curah Hujan Padang dan Mentawai Tinggi, Warga Diminta Waspada Banjir

PADANG - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat di Kota Padang dan Kabupaten...

Ini Langkah Kota Padang Selamatkan Bendi Agar tak Punah

Ini Langkah Kota Padang Selamatkan Bendi Agar tak Punah

PADANG - Bermunculannya moda transportasi online, membuat alat angkut tradisional semakin ditinggalkan. Bendi...

Gempa 8,2 SR Guncang Meksiko, Lima Orang Tewas

Gempa 8,2 SR Guncang Meksiko, Lima Orang Tewas

MEKSIKO - Gempa berkekuatan 8,2 skala Richter mengguncang lepas pantai Meksiko akibatnya lima orang dilaporkan tewas,...

Bukittinggi Gelar Sosialisasi Pariwisata Halal Sumbar

Bukittinggi Gelar Sosialisasi Pariwisata Halal Sumbar

BUKITTINGGI - Guna memberikan pemahaman terkait Destinasi Pariwisata Halal dan Sertifikasi Halal serta mendorong...

Gempa Laut 3,9 SR Hoyak Solok Sumbar, Ini Kata BMKG

Gempa Laut 3,9 SR Hoyak Solok Sumbar, Ini Kata BMKG

SOLOK - Gempa laut 3,9 SR mengguncang Kota Solok, Sumatera Barat, Kamis pagi (21/9/2017) sekira pukul 09.03wib, gempa...


KOMENTAR ANDA



kaos minang unik dan lucu