minangkabaunews berita padang berita sumbar
headline
home berita Solok

Aktifis Lingkungan Bantah Tambang Geothermal Gunung Talang Solok Tak Rusak Lingkungan

Selasa, 01 Agustus 2017 - 12:58:23 WIB - 1237
Aktifis Lingkungan Bantah Tambang Geothermal Gunung Talang Solok Tak Rusak LingkunganDua lubang di sumur pertama PLTP Daratei Mataloko yang mengelurakan gas dan lumpur panas

SOLOK - PT Hitay Daya Energy Melalui Senior Project Manager PT Hitay Daya Energy, Novianto, dan Field External Relation and Health, Safety and Environmental Manager, Nurkholis Hariyadi dengan didampingi Asisten I Pemkab Solok, Edisar Dt Manti Basa, Rabu (26/7) lalu memaparkan kepada sejumlah awak media di Arosuka bahwa aktifitas penambangan Geothermal yang akan dilakukan di Gunung Talang, Bukit Kili, Kabuaten Solok, Sumatera Barat (Sumbar) sama sekali tidak merusak lingkungan, seperti yang diberitakan salah satu media online pada (26/7) lalu.

Menanggapi komentar ini, Bosman Batubara, salah satu aktifis lingkungan yang juga gencar menyoroti dunia pertambangan di berbagai daerah di Indonesia sejak beberapa tahun lalu yang juga merupakan Alumnus Jurusan Teknik Geologi UGM (2005) dan Interuniversity Programme In Water Resources Engineering, KU Leuven dan VU Brussel, Belgia (2012) dengan predikat cum-laude ini membantah paparan yang disampaikan oleh pihak PT Hitay Daya Energy ini.

Menurut Bosman Batubara kepada awak media, Minggu, (30/7) lalu, ia malah memiliki pendapat sebaliknya dengan pejabat perusahaan ini. Setidaknya ada 3 dampak negative terhadap lingkungan.

"saya justru memiliki pendapat sebaliknya dari pejabat perusahaan itu, bahwa sistem pembangkit energi geothermal memiliki, setidaknya, tiga dampak negatif terhadap lingkungan yaitu fracking dan gempabumi minor, pencemaran air, serta amblesan," ungkapnya.

Bosman menjelaskan, menurutnya fracking dapat menyebabkan terjadinya gempabumi minor karena menurunkan kohesivitas (daya ikat) batuan.

"Fracking adalah singkatan dari hydraulic fracturing, yaitu sebuah cara yang umum dipakai dalam ekstrasi energi geotermal dan gas untuk memperbesar permeabilitas (kemampuan melalukan fluida) batuan dengan tujuan meningkatkan nilai keekonomisan sebuah lapangan pembangkit geotermal atau gas," katanya.

"Namun, fracking dapat menyebabkan terjadinya gempabumi minor karena menurunkan kohesivitas (daya ikat) batuan. Injeksi fluida ke dalam reservoir (batuan sarang) menekan reservoir sehingga mengalami pergerakan (slip) karena gaya gesek statis (static friction) nya terlampaui. Terjadinya slip pada batuan adalah salah satu kunci terjadinya gempa bumi. Gempa bumi yang dipicu oleh fracking umumnya berada di bawah magnitude 5 skala Richter," paparnya.

Menurutnya, secara umum, ada empat mekanisme pembentukan gempa bumi mikro yang terjadi karena adanya slip dalam sistem energi geothermal yang menggunakan fracking. Pertama, kenaikan tekanan pori kemudian penurunan suhu, perubahan volume karena injeksi atau produksi serta alterasi kimia pada permukaan rekahan.

Selain itu, lulusan Teknik Geologi UGM dan Teknik Sumber Daya Air, Belgia ini juga menjelaskan bahwa pencemaran air juga dapat terjadi, karena larutan hidrothermal mengandung kontaminan seperti Arsenik, Antimon, dan Boron.

"Arsenik (As) adalah penyebab terjadinya kanker pada manusia. Ia berkontribusi terhadap tingginya penyakit kulit dan kanker di lokasi pemukiman yang tepapar terhadap kandungan As yang tinggi dalam air minum. Antimon (Sb) memiliki tingkat beracun yang memperlihatkan karakter yang sama dengan As. Boron (B) dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan permasalahan pada kesehatan manusia seperti menurunnya tingkat kesuburan. As, Sb, dan B, adalah material yang terdapat secara alamiah, namun proses ekstraksi panas dalam produksi energi di pembangkit geothermal, menyebabkan ia termobilisasi dan mengkontaminasi perairan. Contoh kasus kontaminasi As, Sb, dan B ini terjadi di Lapangan Geothermal Balcova, Turki," jelas Bosman.

Dampak terakhir yang dikhawatirkan yakni, adanya Ambelasan karena sistem energi geothermal yang terjadi karena adanya ekstraksi panas (dalam bentuk gas) pada kedalaman yang relatif dangkal dari sumur ekstraksi geotermal.

"Contoh kasus amblesan seperti ini terjadi di lapangan geothermal Wairakei, Selandia Baru. Ekstraksi telah menyebabkan menurunnya tekanan di dalam formasi batuan sekitar 25 bar. Amblesan yang terjadi yang telah mencapai antara 14±0,5 m pada 1997, dan diperkirakan masih akan terus berlangsung dengan kecepatan 200 mm/tahun dengan prediksi akan mencapai 20±2 m pada 2050," tutupnya. (Wandre DP/AMOI)

Berita ini bermanfaat?
sekarang juga!

Editor/Sumber: Romeo/AMOI
Tag: daerah,metro,solok,solok-selatan,sumatra-barat

SILAHKAN BERBAGI


BE SMART, READ MORE

Polresta Payakumbuh Ringkus Dua Pemuda Terduga Perampasan dengan Kekerasan

Polresta Payakumbuh Ringkus Dua Pemuda Terduga Perampasan dengan Kekerasan

PAYAKUMBUH - Dua pemuda yang diduga melakukan aksi kejahatan perampasan dengan kekerasan (Curas) diringkus jajaran...

Peran Guru Tak Tergantikan Dalam Tentukan Masa Depan Bangsa

Peran Guru Tak Tergantikan Dalam Tentukan Masa Depan Bangsa

NASIONAL - Presiden Joko Widodo menegaskan pentingnya peran guru dalam menentukan masa depan bangsa Indonesia. Meskipun...

Wali Kota Padang Mahyeldi Sambut APEC Seminar Disaster Risk Financing

Wali Kota Padang Mahyeldi Sambut APEC Seminar Disaster Risk Financing

PADANG - Wali Kota Padang Mahyeldi Ansharullah menyambut baik digelarnya Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC)...

Indonesia Panggil Dubes AS Terkait Jerusalem

Indonesia Panggil Dubes AS Terkait Jerusalem

Nasional - Pemerintah telah memanggil Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia, Joseph R. Donovan Jr, terkait...

NasDem Usul Pendidikan Formal tidak Jadi Syarat untuk Jadi Pejabat Publik

NasDem Usul Pendidikan Formal tidak Jadi Syarat untuk Jadi Pejabat Publik

Willy Aditya, Ketua Departemen MNASIONAL - Pendidikan formal diusulkan tidak menjadi syarat bagi calon pejabat publik....


KOMENTAR ANDA



gtv the next boy girl band season 2 padang kaos minang unik dan lucu
minangkabaunews social media