minangkabaunews berita padang berita sumbar
headline
home berita Nasional

Heboh Ilmuwan Indonesia Ketahuan Bohong, Ternyata ini Sosok Sebenarnya

Senin, 09 Oktober 2017 - 05:51:06 WIB - 506
Heboh Ilmuwan Indonesia Ketahuan Bohong, Ternyata ini Sosok SebenarnyaDwi Hartanto

NASIONAL - Sosok pemuda bernama Dwi Hartanto tengah jadi sorotan. Beberapa waktu lalu namanya muncul di sejumlah media massa, ilmuwan muda Indonesia ahli dirgantara dan roket. Dwi yang mengaku kandidat profesor di Technische Universitet (TU) Delft, Belanda ini juga mengaku tengah diminta untuk mengembangkan pesawat jet tempur generasi keenam yang super canggih.

Namun ternyata semua itu bohong belaka. Apa yang disampaikan Dwi Hartanto lewat media massa dan akun media sosial miliknya rupanya tak seluruhnya benar. Banyak informasi bohong. Dwi pun mengaku melebih-lebihkan beberapa hal, terutama soal roket dan prestasinya di bidang kedirgantaraan.

Siapa sebenarnya Dwi Hartanto?

Dia adalah pria kelahiran 13 Maret 1982. Usianya kini 35 tahun, bukan 28 tahun seperti pengakuannya dalam sebuah wawancara.

Dwi lulus S1 dari Teknik Industri di Institut Sains dan Teknologi Akademi Perindustrian (Akprind) Yogyakarta tanggal 15 November 2005. Bukan lulusan Institut Teknologi Tokyo.

Dwi menyelesaikan S2 di Fakultas Electrical Engineering, Mathematics and Computer Science di Technische Universitet (TU) Delft tahun 2009.

Dia meneruskan S3 di bidang Intelligent System Technische Universitet (TU) Delft. Saat ini statusnya adalah kandidat Doktoral, bukan calon profesor.

Atas gelar PhD yang sering disebutkannya, kini Dwi tengah menghadapi serangkaian sidang di kampusnya.

Dia juga mengaku mendapat beasiswa S2 dari pemerintah Belanda di Technische Universitet (TU) Delft. Namun lagi-lagi itu bohong.

"Tidak benar kuliah S2 saya dibiayai pemerintah Belanda. Kuliah S2 saya di TY Delft dibiayai oleh beasiswa yang dikeluarkan Depkominfo, Republik Indonesia," kata Dwi Hartanto dalam surat permintaan maafnya yang dimuat di halaman resmi PPI Delft, Jumat (7/10) lalu.

Dwi pun mengakui dia bukanlah ahli dalam bidang kedirgantaraan dan roket seperti yang sering digembor-gemborkan selama ini.

Roket yang diakuinya sebagai proyek dari lembaga antariksa Belanda, nyatanya proyek roket amatir mahasiswa sebagai ekstrakulikuler di kampusnya.

Dia juga tak pernah membuat proyek roket dan satelit untuk lembaga antariksa Jepang, Eropa dan Airbus Defence.

Begitu juga dengan klaimnya menjadi otak pengembangan pesawat tempur generasi keenam. Semuanya tidak benar. Foto saat Dwi menang lomba bergengsi soal antariksa juga ternyata hanya foto editan yang ditambah cerita karangannya.

Dwi mengaku bersalah menyampaikan informasi yang tidak benar. Dia berjanji tak akan melakukan perbuatan serupa.

"Saya meminta maaf sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah dirugikan atas tersebarnya informasi yang tidak benar terkait dengan pribadi, prestasi dan kompetensi saya," sesal Dwi.

Sederet kebohongan Dwi Hartanto "ahli dirgantara" yang disebut The Next Habibie

Dia mengaku memiliki sejumlah prestasi di bidang kedirgantaraan. Sampai ada yang menjuluki ilmuwan muda ini sebagai The Next BJ Habibie.

Dwi Hartanto mengaku tengah merancang jet tempur generasi keenam yang akan jauh lebih canggih dibanding pesawat jet saat ini. Dia juga mengaku memenangkan lomba riset Space craft and Technology di Jerman dan mengalahkan sejumlah ilmuwan dari negara lain.

Baru saja pada perayaan HUT RI ke-72, 17 Agustus kemarin KBRI di Den Haag memberikan penghargaan kedirgantaraan pada kandidat Doktoral di Technische Universiteit Delft ini.

Namun hal tersebut rupanya memancing kecurigaan pada sejumlah rekan Dwi di Perhimpunan Pelajar Indonesia Delft. Penelusuran mereka ada beberapa kejanggalan. Satu per satu kedok Dwi pun terbongkar.

Puncaknya, KBRI Den Haag mencabut penghargaan yang kemarin diberikan. Mereka tak menyebut secara jelas apa penyebab dicabutnya penghargaan tersebut. Dubes I Gusti Agung Wesaka Puja hanya menyampaikan ada beberapa hal yang terjadi di luar praduga dan itikad baik dan mengharuskan penghargaan tersebut dicabut.

"Keputusan Kepala Perwakilan Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda Nomor SK/023/KEPPRI/VIII/2017 tentang Penghargaan kepada Dr. Ir. Dwi Hartanto dicabut dan dinyatakan tidak berlaku," tegas Dubes RI di Denhaag melalui halaman resminya.

Dwi Hartanto akhirnya menyampaikan permohonan maafnya. Dia mengakui memberikan informasi yang tidak benar, tak akurat dan cenderung melebih-lebihkan. Khususnya soal prestasinya di bidang dirgantara dan keilmuan soal roket.

"Saya minta maaf yang sebesar-besarnya," kata Dwi seperti dimuat dalam halaman PPI Delft.

Beberapa klarifikasi yang disampaikan Dwi Hartanto antara lain soal latar belakangnya. Dwi mengaku dia bukanlah lulusan Institut Teknologi Tokyo, Jepang. Namun lulus S1 dari Institut Sains dan Teknologi AKPRIND Yogyakarta.

Dwi juga menjelaskan dirinya memang benar menempuh S2 dan S3 di TU Delft.

"Posisi saya yang benar adalah kandidat Doktoral di TU Delft. Informasi mengenai posisi saya sebagai Post-Doctoral maupun Assitant Professor adalah tidak benar," beber Dwi.

Tak benar juga dia adalah kandidat Doktor di bidang space tecnology and rocket science. Yang benar adalah di bidang Interactive Intelligence (Departemen Intelligent System).

Kebohongan Soal Roket dan Jet Tempur

Di beberapa situs berita tanah air, Dwi disebut-sebut membuat roket TARAV7S yang merupakan proyek dari Kementerian Pertahanan dan Belanda dan Pusat Kedirgantaraan dan Antariksa Belanda. Diakuinya kemudian, roket TARAV7S itu tak pernah ada.

Dia hanya membuat Roket DARE Cansat 7S yang merupakan proyek amatir roket mahasiswa di Delft. Bukan pula proyek dari Dutch Space atau Airbus Defence. Mereka hanya sponsor yang memberikan bimbingan serta bantuan dana.

Yang mengejutkan, informasi yang disampaikannya soal pesawat jet tempur generasi keenam itu pun rupanya hanya karangan Dwi belaka.

"Informasi saya sedang mengembangkan pesawat tempur generasi keenam itu tidak benar. Informasi saya dan tim diminta untuk mengembangkan pesawat tempur Euro Typhon di Airbus Space and Defence menjadi Euro Typhon NG juga tidak benar," akunya.

"Teknology Lethal Weapon in the Sky dan klaim beberapa paten teknologi adalah tidak benar dan tidak pernah ada," lanjutnya.

Foto editan soal kemenangan di Jerman

Dwi juga mengaku sebenarnya tak pernah menang lomba bergengsi soal antariksa di Jerman. Ternyata dia mengedit foto dirinya tengah memegang plakat hadiah lomba dengan nominal 15.000 Euro.

"Saya mengakui bahwa ini adalah kebohongan semata. Foto tersebut saya posting di media sosial dengan cerita soal kemenangan saya," akunya.

Begitu juga dengan berita pertemuannya dengan BJ Habibie. Dwi mengaku bukan BJ Habibie yang mengajaknya untuk bertemu, melainkan dia meminta bantuan KBRI untuk dipertemukan dengan BJ Habibie.

Dia mengakui juga tak pernah diwawancara stasiun TV Belanda dan mengakui kebohongan soal ditawari pindah kewarganegaraan karena prestasinya.

Saat ini Dwi mengaku tengah menunggu keputusan resmi dari kampusnya soal deretan kebohongan yang telah dia lakukan. (mrd)

Berita ini bermanfaat?
sekarang juga!

Editor/Sumber: Rahmat Ilahi
Tag: indonesia,internasional,nasional

SILAHKAN BERBAGI


BE SMART, READ MORE

Kondisi Obyek Wisata Batu Malin Kundang Memprihatinkan, Ini Jawaban Kadis Pariwisata Padang

Kondisi Obyek Wisata Batu Malin Kundang Memprihatinkan, Ini Jawaban Kadis Pariwisata Padang

PADANG - Sejumlah pengunjung objek wisata pantai Air Manis di Kelurahan Air Manis, Kecamatan Padang Selatan, Kota...

Tujuh Tambang Galian C di Lima Puluh Kota Ditutup Satpol PP

Tujuh Tambang Galian C di Lima Puluh Kota Ditutup Satpol PP

LIMA PULUH KOTA - Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lima Puluh Kota beserta...

Besok Ketua PP Muhammadiyah Goodwill Zubir Hadiri Rapimwil di Lakitan Pessel

Besok Ketua PP Muhammadiyah Goodwill Zubir Hadiri Rapimwil di Lakitan Pessel

PADANG - PW Muhammadiyah Sumbar akan mengadakan Rapat Pimpinan (RAPIM) Muhammadiyah se-Sumbar di Gedung Kompleks...

Nagari Tabek Patah Paduan Keindahan Alam Minangkabau, Kuliner dan Wisata Agro

Nagari Tabek Patah Paduan Keindahan Alam Minangkabau, Kuliner dan Wisata Agro

TANAH DATAR - Tak lengkap kunjungan wisata anda jika belum singgah di Panorama yang berada di Nagari Tabek Patah,...

Tekan Pungli, Mulai 2018 Padang Larang Sekolah Jual Buku LKS

Tekan Pungli, Mulai 2018 Padang Larang Sekolah Jual Buku LKS

PADANG - Pemerintah Kota Padang berniat melarang sekolah-sekolah, khusus SD dan SMP, untuk menjual buku Lembar Kerja...


KOMENTAR ANDA



kaos minang unik dan lucu