minangkabaunews berita padang berita sumbar
headline
home berita Perempuan

Rohana Kudus, Wartawan Perempuan Pertama dari Sumatra Barat

Senin, 30 April 2012 - 21:46:28 WIB - 4481
Rohana Kudus, Wartawan Perempuan Pertama dari Sumatra Barat

Oleh Pepi Rosanti -- Banyak para pejuang yang telah berjasa membela bumu pertiwi ini, laki-laki dan perempuan, sebagian telah mengapung ke tingkat nasional, bahkan internasional, namun sebagian yang lain seakan terabaikan, padahal mereka tidak kalah banyak berbuat demi kemaslahatan khalayak ramai, salah satu diantara mereka adalah Rohana Kudus.


Riwayat Hidup Rohana Kudus
Tidak banyak yang tahu siapa gerangan Rohana Kudus, bahkan untuk tingkat Sumatera Barat, negeri asalnya, dia nyaris tidak dikenal. Mungkin orang hanya mengenal nama itu sebagai narna jalan, nama gedung, nama usaha kripik balado dan sebagainya. Padahal Rohana Kudus diakui Negara sebagai “Perintis Pers Nasional”. Soal kiprahnya, mungkin juga hanya segelintir orang yang tahu, itupun mungkin tidak persis detailnya, padahal perjuangannya sangat besar, tidak kalah juka dibandingkan pejuang perempuan lainnya, namun hingga saat ini dia belum juga memperoleh gelar 'Pahlawan Nasional'.


Rohana Kudus dengan nama asli, Siti Rohana, lahir pada tanggal 20 Desember 1884 di Koto Gadang Bukittinggi, Kabupaten Agam. Rohana adalah anak pertama pasangan Moehammad Rasjad Maharadja Soetan dengan Kiam. Ayahnya seorang jaksa dan adik tirinya seorang pedana menteri pertama RI, Sutan Syahrir.


Sejak usia yang sangat dini, yaitu delapan tahun, Siti Rohana Kudus sudah mulai mengajar membaca, membagi ilmu dan kepandaian kepada teman-teman sebayanya. Rohana Kudus mengajari perempuan-perempuan agar dapat membaca dan berbagai berbagai keterampilan, sehingga mereka bisa menjadi perempuan yang kreatif dan mandiri. Awalnya secara sembunyi-sembunyi, dari satu rumah ke rumah lainnya, mengajarkan para gadis saat mereka menjadi pingitan, sebab keluar rumah bagi perempuan, dianggap hal tercela di kalangan masyarakat Minang saat itu.


Kemudian berangsur kemajuan berskala kecil, dengan memanfaatkan tempat seadanya, selanjutnya Siti Rohana memberanikan diri mendirikan tempat pendidikan yang diberi nama “Amai Setia” pada tahun 1892 di Koto Gadang Bukittinggi.


Pada tahun 1911, sebagai permulaan industri rumah tangga di Minangkabau, Rohana Kudus membentuk organisasi 'Kerajinan Amai Setia', dengan mengbimpun para perempuan untuk diberi bekal keterampilan. Tahun 1915 organisasi ini dapat pengakuan badan hukum olehpemerintahan Hindia Belanda, dan hingga saat ini pusat keterampilan ini masih masih eksis sebagai pusat penjualan hasil kerajinan khas Minang Kabau, yang berlokasi di Koto Gadang Bukittinggi, Kabupaten Agam Sumatera Barat.


Di saat tindakan penjajah Belanda yang semakin membabi buta, Rohana Kudus turut membantu pergerakan politik dengan tulisannya yang membakar semangat juang pam pemuda. Rohana Kudus ikut berpartisipasi mempelopori berdirinya dapur umum dan badan sosial untuk membantu para gerilyawan. Rohana juga mencetuskan ide bernas, penyelundupan senjata dan Koto Gadang ke Bukittinggi melalui Ngarai Sianok dengan cara menyembunyikan diantara buah-buahan dan sayuran, yang kemudian dibawa ke daerah-daerah lain dengan keretapi.


Hingga ajalnya menjemput, Rohana Kudus masih terus berjuang, termasuk ketika merantau ke Lubuak Pakam, Kota Medan. Di sana, pejuang perempuan Minang ini, mengajar dan memimpin surat kabar Perempuan Bergerak. Setelah tiga tahun lamanya di rantau orang, kemudian Rohana pulang ke kampung halamannya dengan menjadi Redaktur Surat Kabar Radio, yang diterbitkan Cina Melayu di Padang dan surat kabar Cahaja Sumatera.


Di usianya yang matang sebelum dan setelah menikah dengan Abdul Kuddus, Rohana mengalami berbagai benturan sosial dengan pemuka agama, adat, dan masyarakat. Rohana dipuji dan dikagumi, tetapi sekaligus difitnah dan dicaci maki, yang mengakibatkan dengan terpaksa Rohana pernah meninggalkan
kampung halamannya. Dalam situasi seperti itu Rohana tetap berjuang, Rohana Kudus mendirikan Rohana School di Bukittinggi. Dia pun aktif dalam Partai Pergerakan Bawah Tanah yang menentang kolonial Belanda.


Ternyata perempuan yang mempunyai nama Rohana Kuddus ini, betul-betul amazing (luar biasa) pada masa itu dan mungkin juga untuk era sekarang ini. Dia mampu berkiprah ditengah-tengah pergolahkan bangsa, mampu banyak berbuat tanpa pendidikan formal. Rohana Kudus berperan menjadi guru, berkat kegigihannya pun telah dapat berdiri Rohana School dan Sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS).


Demikian juga halnya dalam bidang jurnalistik juga tanpa belajar secara formal, Rohana dipercaya menjadi wartawan pada beberapa surat kabar dan bahkan bisa mendirikan sebuah surat kabar. Bila melihat kiprah hidup Rohana Kudus, untuk istilah zaman sekarang adalah perempuan multidimensi.


Rohana Kudus (1884-1972), selama puluhan tahun mengabdikan dirinya kepada masyarakat, bangsa dan negara, serta menjadi kebanggaan bagi kaum hawa yang diperjuangkannya. Rohana Kudus berjuang untuk kaumnya, menulis berbagai hal demi meningkatkan harkat dan martabat bangsa, tentang perempuan, seperti persoalan rumah tangga, agama, politik, sosial, dan lain sebagainya. Demi memajukan kaum perempuan, agar tercapainya kesejahteraan dan kemaslahatan bagi kaum perempuan.

Melalui tulisannya, Rohana Kudus berusaha membuka mata perempuan, memberikan pemehaman dan pengajaran.
Karya-karya jurnalistik Rohana, tersebar pada beberapa surat kabar di Sumatera Barat, dan beberapa pulau di Indonesia. Di antaranya, Sunting Melayu, Saudara Hindia, Perempuan Bergerak, Radio, dan Suara Koto Gadang. Rohana juga pemah menulis pada beberapa surat kabar yang terbit di Pulau Jawa, seperti Mojopahit, Guntur Bergerak, Fajar Asia.



Rohana Kudus mengungkapkan dan memuat fakta-fakta yang tampak pada masyarakat, mengungkapkan kekhawatirannya serta memberikan solusinya, memanfaatkan kepandaian serta fasilitas yang ada, sehingga kerajinan yang dihasilkan sekaligus membantu perekonomian masyarakat. Rohana menghimbau kaum perempuan untuk ikut berpartisipasi melawan penjajah, sebagai wujud cinta tanah air. Hal ini tergambar dari karya-karya jurnalistiknya, salah satu diantaranya melalui syairnya yang terbit di surat kabar Sunting Melayu, tanggal 23 Mei 1913, yang berjudul,:


“Setia Gerakan Perempuan Zaman ini”
Apabila diperhatikan bagaimana gerakan bangsa waktu ini, dan diperbandingkan dengan gerakan Hindia dan difikirkan bagaimana gerakan Sumatera waktu ini, maka taulah kita bahwa masih jauh jalan yang kita tembuh ke padang yang bernama kemajuan.


Akan tetapi hal ini janganlah disia-siakan terutama bagi orang yang berperasaan cinta, kasih sayang kepada bangsa dan lanah airnya. Hingga wakiu sekarang lerang kelihatan benar bagaimana gerakan bumi putera hendak meniru gera/can bangsa Eropa yang telah maju. Sepakat mendirikan perkumpulan dan lain-lain men genai pelejaran. Di Alam Minang Kabau kita sudah pula berbunga dengan mendirikan beberapa perserikatan.


Biarpun banyak perserikatan terutama buat laki-laki, akan tetapi marilah kaum perempuan berani minta terima kasih kepada ahli-ahli supaya kita dihelanya dari lembah kegelapan kejalan yang terang.


Beberapa tempat telah bertambah juga munid-munid perempuan dan belajar dengan rajinnya. Dan diharapkan mudah-mudahan sekalian bangsa Melayu yang ingin akan kemajuan dan keselamatan dan bangsa serta tanah airnya akan memperhatikan hal ini.


Berkat mendirikan Surat Kabar Sunting Melayu, sejak 12 Juli 1912, yang merupakan koran khusus wanita pertama di Indonesia. 25 Agustus 1974, Rohana memperoleh gelar pelopor wartawan perempuan Sumatera Barat dan dapat penghargaan pebagai perintis pers oleh pemerintah atas jasa-jasanya dalam perjuangan bangsa melalui dunia jurnalistik.


Sembilan November 2007, Rohana Kudus kembali dapat penghargaan dari pemerintah,dengan putusan perda nomor 068/ PK/ 2007, pengargaan 'Bintang Jasa Utama'. Penghargaan tersebut diserahkan melalui Gubemur Sumbar, Gamawan Fauzi, diterima cucu Rohana Kudus, Juneydi Juni
pada acara puncak Hari Pers Nasional tingkat Sumbar di Istana Negara Bung Hatta, Bukittinggi, pada tanggal 16 Februari 2008.


Melimpah kiprah Rohana Kudus demi bangsa ini, namun bintang jasa yang diberikan untuk menghargai jasa-jasa tersebut tidak seberapa, belum setimpal dengan perjuangannya. Pantaslah kiranya Rohana Kudus memperoleh gelar "Pahlawan Nasional".

Berita ini bermanfaat?
sekarang juga!

Editor/Sumber:
Tag: perempuan

SILAHKAN BERBAGI


BE SMART, READ MORE

Semarak Sambut Tahun Baru Islam 1439 H di Pariaman Diwarnai Pawai Obor dan Tabligh Akbar

Semarak Sambut Tahun Baru Islam 1439 H di Pariaman Diwarnai Pawai Obor dan Tabligh Akbar

PARIAMAN - Pawai obor Tahun Baru Islam dan tabligh akbar 1 Muharram 1439 Hijriyah, dilaksanakan pada Rabu malam (20/9)...

Ratusan Massa FMM Gelar Aksi Solidaritas Rohingya ke Kantor Gubernur Sumbar

Ratusan Massa FMM Gelar Aksi Solidaritas Rohingya ke Kantor Gubernur Sumbar

PADANG - Ratusan Massa Forum Masyarakat Minangkabau (FMM) menggelar aksi solidaritas terhadap etnis muslim Rohingya di...

Oknum Anggota DPRD 50 Kota Tedy Sutendi Akhirnya Diinapkan di Sel Polda Sumbar

Oknum Anggota DPRD 50 Kota Tedy Sutendi Akhirnya Diinapkan di Sel Polda Sumbar

PAYAKUMBUH - Oknum anggota DPRD Kabupaten Lima Puluh Kota, Tedy Sutendi, yang terlibat dugaan tindak penganiayaan...

Lakukan Perbuatan Terlarang, Pengumpul Barang Bekas ini Digiring ke Mapolres Payakumbuh

Lakukan Perbuatan Terlarang, Pengumpul Barang Bekas ini Digiring ke Mapolres Payakumbuh

PAYAKUMBUH - Ada-ada saja ulah pedagang barang buruak (barang bekas.red) bernama DF (18) warga Kelurahan Padang Tinggi...

Ini Langkah Kota Padang Selamatkan Bendi Agar tak Punah

Ini Langkah Kota Padang Selamatkan Bendi Agar tak Punah

PADANG - Bermunculannya moda transportasi online, membuat alat angkut tradisional semakin ditinggalkan. Bendi...


KOMENTAR ANDA



kaos minang unik dan lucu