minangkabaunews
Redaksi - Info iklan - Disclaimer - Kontak
Senin, 28 Juli 2014  
facebook twitter
MAKNA HALAL BI HALAL
Jumat, 07 September 2012 - 22:13:59 WIB
Oleh Nurman Agus -- “(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, maka Kami melaknat mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah firman (Allah) dari tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka. Engkau (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka kecuali sekelompok kecil di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”. (QS. 5. Al-Maidah:13).

Sukses dan berbobotnya puasa yang kita kerjakan tergantung kepada sikap, perilaku dan perbuatan kita untuk masa mendatang, setelah lebaran ini. Ada tanda-tanda dan ciri-ciri yang menunjukan puasa kita berhasil atau tidak.

Suatu kekeliruan yang fatal apabila setelah kita melakukan puasa selama sebulan, ketaqwaan kita kepada Allah SWT tidak mengalami kemajuan dan peningkatan, malahan mengalami kemunduran, Tanda-tanda bahwa kita telah sukses dalam melakukan ibadah puasa adalah di hari-hari mendatang semakin banyak melaksanakan perintah-perintah Allah, dan semakin kecil dan sedikit kita melakukan dosa dan maksiat.

Secara individual akhlak kita semakin karimah, budi pekerti semakin terpuji, misalnya sikap riya, dendam, iri hati, suka marah, suuzhan, dan lain-lain penyakit hati dan jiwa sudah berkurang, karena sikap itu dilarang selama berpuasa. Dalam ibadah Ramadhan kita rasakan perih laparnya simiskin dalam lingkaran tiada, kita rasakan duka laranya siyatim yang tiada tumpuan belaian kasih sayang.

Inilah yang mendidik kita untuk menengok ke kanan dan ke kiri sehingga menumbuhkan rasa kasih sayang dalam membina ukhuwwah Islamiyah, sehingga rela memberi bantuan serta menggerakkan rasa tolong menolong sesama umat manusia. Hidup ini mesti bermasyarakat dan saling ketergantungan.

BERHASILKAH MERAIH PIALA TAQWA ?

Pertarungan iman dengan nafsu selama sebulan suntuk dalam Ramadhan kemarin, akan berakhir dengan kemenangan disatu pihak dan kekalahan dilain pihak. Apakah kita berhasil keluar sebagai sang juara atau tidak. Silahkan introsfeksi masing-masing.

Umat Islam di dalam puasa Ramadhan telah diperintah berpuasa dari makan, minum, dan menghentikan segala macam yang menbatalkan puasa selama sebulan penuh. Apabila umat Islam selama satu bulan dilatih menghentikan yang halal pada siang hari, menahan diri dari pembicaraan yang kotor, maka akan mudah menahan diri melakukan perbuatan terlarang diluar bulan Ramadhan.

Pada akhir bulan Ramadhan umat Islam diperintahkan membayar zakat fitrah untuk disampaikan kepada kaum fakir miskin yang berhak menerimanya.

Idul Fitri maksudnya ”kembali kepada hari berbuka setelah melaksanakan kewajiban puasa Ramadhan. Fitri berasal dari akar kata ”Fatara” yang artinya ”berbuka”.

Kemudian ucapan selamat hari raya Idul Fitri diiringi dengan ucapan : ”MINAL ’AAIDIINA WAL FAA IZIINA”.

Maksudnya adalah : ”Semoga kita termasuk golongan yang kembali kepada ajaran ” ’aaidiina” dan semoga kita termasuk golongan yang menang ”Faaiziina”. Kembali kepada ajaran agama yang benar sesuai dengan petunjuk Allah dalam Al-Quran, dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW yang diajarkan di dalam Hadits-hadits Nabi Muhammad SAW.

Kedua ucapan itu mengandung do’a dan harapan :
Do’a, karena kita telah selamat menunaikan puasa selama bulan Ramadhan. Harapan, agar ibadah puasa Ramadhan yang telah mendidik umat Islam DISIPLIN melaksanakan ibadah, melatih diri bersikap sabar dan diakhiri membayar zakat fitrah untuk memberikan bantuan kepada kaum yang lemah supaya dipelihara dan dipertahankan dalam kesucian dan kebenarannya.

Kata Ied, akar katanya berarti ”kembali”
Kata Fitrah dapat diartikan dalam berbagai makna, sesuai dengan sasarannya, diantaranya :
Fitrah berarti ”asal kejadian”, Fitrah dalam arti ”kesucian”, Ftrah yang berarti ”Agama yang benar”

Dari arti kata Ied dan tiga kata Fitrah tersebut, maka ucapan selamat hati raya Idul Fitri dapat dirumuskan dalam kalimat yang ringkas, yaitu : ”Bagi umat yang telah mengakhiri Puasa Ramadhan dan membayar zakat fitrah dia kembali kepada asal kejadiaannya yang suci, dan mengikuti petunjuk agama Islam yang benar”.

Tujuan ibadah puasa Ramadhan dan membayar zakat fitrah adalah untuk mencari rasa bahagia dalam memberi dan menggembirakan sesama manusia, yaitu : melatih membiasakan diri kita mencari rasa bahagia dan menikmatinya.

Semua ini bila dilakukan dengan sadar dan ikhlas, dengan tidak mengharapkan sesuatu apapun melainkan keridhaan Allah SWT semata-mata, maka semua amal perbuatan itu akan memberikan bekas pada jiwa yang melakukan ibadah :
1. Bekas, berupa ketenangan dan ketentraman jiwa, yang senantiasa dapat dinikmati oleh tiap-tiap orang yang menjalankan ibadah dengan ikhlas dan khusyu’, sebagai hasil dari rasa dekat dan akrab kepada Allah SWT.
2. Bekas, berupa pembaharuan kesadaran kepada kewajiban kita yang harus dipenuhi terhadap sesama manusia, para anggota masyarakat yang lemah dan tak punya.
3. Bekas, berupa tambahan kekuatan untuk memberantas sifat rakus, tamak, dan bakhil, berupa sifat a-sosial yang merusak kesejahteraan hidup masyarakat.
4. Bekas, berupa tambahan kekuatan baru untuk mengendalikan hawa nafsu, itulah yang mengendalikan keinginan dan tingkah laku manusia.

Kepada umat Islam yang telah lulus melaksanakan ibadah puasa Ramadhan itu, hasil kemenangan yang diperoleh di bulan Ramadhan adalah :

”Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman)”. (QS.87. Al-A’la:14).

Yang dimaksud dengan menang adalah :
1. Menang dari perlawanan terhadap dorongan hawa nafsu yang selalu ingin menindas manusia, karena perbuatan zhalim aniaya.
2. Menang terhadap mempertahankan kesucian diri dari merampas hak orang lain, karena menuntut komisi dalam transaksi dagang atau korupsi ketika diserahkan amanah.
3. Menang terhadap perbuatan dosa lainnya, sehingga alam pikiran dan sukma jiwa kita bebas dari kekotoran berfikir, dan bebas dari sifat iri dan dengki yang tergores di dalam hati.

Maka pantas dan wajarlah “Kemenangan umat Islam” merayakan IDUL FITRI, tapi pertanyaan tadi belum terjawab, apakah saya berhak mendapatkan gelar taqwa atau tidak ?. Dalam kenyataannya banyak orang mukmin yang gagal dalam pertarungannya, seperti apa yang disinyalir oleh Rasulullah SAW :

Artinya : “Banyak orang puasa (yang gagal menaklukan nafsunya), keuntungan puasa hanya lapar dan haus semata”. (HR. Thabrani dari Ibnu Umar).
Namun sarana untuk memperoleh itu sudah disiapkan oleh Allah SWT yaitu :
1. Menekuni pengamalan ibadah.
2. Mendalami isi Al-Quran serta berpegang teguh dengannya.

C. MAKNA HALAL BI HALAL

Halal bi halal, dua kata berangkai yang sering diucapkan dalam suasa Idul Fitri, adalah satu dari istilah-istilah “keagamaan” yang hanya dikenal oleh masyarakat Indonesia. Istilah tersebut seringkali menimbulkan tanda tanya tentang maknanya, bahkan kebenarannya dari segi bahasa, walaupun semua pihak menyadari bahwa tujuannya adalah menciptakan keharmonisan antara sesama.

Halal bi halal artinya secara logot (bahasa) ialah “Halal dibahas dengan halal atau halal timbulnya karena halal”.

Tapi kenyataan dalam masyarakat Indonesia ialah : Halal bi halal itu, ialah : “Suatu pertemuan kekeluargaan yang penuh kesyukuran dan kemesraan, serta saling bermaafan habis hari raya Idul Fitri”.

Dalam Kamus Arab – Indonesia oleh Prof. H. Mahmud Yunus, artinya ”dihalalkan, diizinkan” dan dalam kamus Arab – Indonesia – Inggris oleh Abd. Bin Nuh dan umar bakry, artinya halal bi halal dalam bahasa Inggris : “Mutual congratulition at the end of the fast”. Artinya : “Saling memberi ucapan selamat habis melaksanakan puasa”. Halal bi halal pertama kali diadakan oleh Presiden Soekarno di Yogyakarta pada tahun 1946 dalam agresi Belanda.

ANJURAN BERMAAFAN

Tujuan utama acara halal bi halal ini tampak dalam prakteknya ialah : “Saling bermaafan secara masal”, demi utuhnya ukhuwwah Islamiyah, sehingga terwujud masyarakat yang penuh damai yang diridhai Allah SWT.

Jika demikian, berhalal bi halal merupakan suatu bentuk aktivitas yang mengantarkan para pelakunya untuk meluruskan benang kusut, menghangatkan hubungan yang tadinya membeku sehingga cair kembali, melepaskan ikatan yang membelenggu, serta menyelesaikan kesulitan dan problem yang menghadang terjadinya keharmonisan hubungan.

Sehubungan dengan pemaaf ini Rasulullah SAW berkata :
Artinya : “Ada tiga macam akhlak mulia disisi Allah :
1. Engkau beri maaf orang yang zalim kepada engkau
2. Engkau beri orang yang bakhil kepada engkau
3. Engkau hubungi orang yang memutuskan hubungan dengan engkau”. (Al Khatib dari Anas)

NABI MEMBERI MAAF LAWAN DAN KAWAN

1. Nabi memberi maaf seorang wanita Yahudi yang meracuninya. Nabi memberi maaf
2. Penduduk Thaif yang melempari Nabi dengan batu secara masal Rasul memberi maaf mereka.
3. Penduduk Makkah yang menganiaya Rasul bertahun-tahun. Ketika menaklukan Makkah, semua meraka dimaafkan dan dibebaskan, diberi amnesti dan abolisi.
4. Pada suatu ketika, seorang lawan pernah mendatangi rumah beliau dengan membawa kotoran onta yang basah dan melemparkannya kemuka Nabi. Waktu itu, puteri beliau, Siti Fatimah. Lari datang dari dapurdan memaki-maki pengecut itu. Rasulullah SAW berkat kepada puterinya, ”Tidak usah dia dimaki-maki, ambilkan sajalah air supaya kotoran yang memercik kemuka ayah ini, dapat dibersihkan”.
5. Diceritakan pula, bahwa pada suatu hari, seorang wanita Yahudi datang menemui Nabi ke rumah dan mengucapkan salam yang bersifat olok-olokan : ”Assamu ’alaikum”, artinya mudah-mudahan mampuslah engkau. Isteri Nabi, Siti Aisya, yang pada waktu itu mendengar ucapan yang tidak wajar itu, dengan spontan berkata kepada wanita Yahudi itu : ”Hendaknya kamu sendirilah yang akan mampus”. Mendengar reaksi Siti Aisyah, Rasulullah SAW berkata kepada isterinya : ”Allah tidak senang mendengar perkataan kasar yang mengandung nada dendam”.

Menghayati kejadian ini, maka lagu ”TIADA MAAF BAGIMU”, bukanlah lagunya seorang Muslim, karena Al-Quran hanya menganjurkan agar memberi maaf kepada kawan dan lawan.

”... Dan kemaafanmu itu, lebih dekat kepada taqwa...”. (QS. 2. Al-Baqarah: 237).

Itulah peristiwa yang terjadi pada diri Nabi sendiri yang menunjukan kebesaran jiwanya pada sisi kawan dan lawan.

(Penulis adalah Da’i yang juga Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat)



Baca juga :
  • KOTA RELIGIUS DAN TENDA CEPER
  • Maksiat dan Pengaruhnya
  • Wawako Padang : Jangan Sentuh Narkoba!
  • Idul Fitri Sebagai Momentum Intropeksi Diri
  • Waspadai Aksi Kriminal Jelang Lebaran

  • TERKINI
    TERPOPULER
    website murah

     
    Redaksi | Info iklan | Disclaimer | Kontak

    - Pilkada - Pos Polisi - BNK Padang - Pariwisata - Kesehatan - Kosmo - Kriminal - Olahraga - Nasional - Otomotif - Bola - Makan - Metro - ShowBiz - Sosial - Internasional - Peristiwa - Pendidikan - Ekonomi - Seni Budaya - Opini - Muhammadiyah - Bisnis - Minangkabau - Daerah - Perempuan - Tokoh - Teknologi - Politik
     
    Copyright 2011 - 2014 Minangkabaunews All Rights Reserved
    facebook twitter