10 Tahun Menjadi “Suara Nyinyir” di Negeri Sendiri: Pesan Buya Gusrizal Sebelum Meletakkan Jabatan yang Menggetarkan Hati

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Di Gedung MUI yang menjulang tinggi komplek Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Sumatera Barat, angin sore seolah turut membawa suasana haru dan khidmat. Aula HMD Dt Palimo Kayo, yang biasa menjadi saksi bisu berbagai diskusi dan musyawarah umat, pada Minggu, 15 Februari 2026 itu, berubah menjadi panggung keikhlasan. Seorang ulama kharismatik, Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa, tengah bersiap untuk meletakkan tongkat estafet kepemimpinan yang telah dipegangnya selama satu dekade penuh.

Sepuluh tahun sudah Buya Gusrizal memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat. Sebuah perjalanan panjang yang tidak hanya diisi dengan tausiah, Bayan dan himbauan, tetapi juga dengan keberanian luar biasa dalam menyuarakan apa yang diyakininya sebagai kebenaran. Di ruang-ruang publik, di hadapan pejabat pemerintah, suaranya kerap kali lantang. Ia tak segan memberikan kritikan, melontarkan masukan tajam, bahkan ketika sebagian kalangan menyebut apa yang dilakukannya sebagai “nyinyir”.

Ya, “nyinyir”. Sebuah kata yang kerap disematkan dengan nada negatif, seolah sebuah usaha sia-sia dari seorang tua yang tak lelah mengomel. Namun, di mata para pendukungnya dan mereka yang memahami kedalaman hikmah di balik tutur katanya, “kenyinyiran” Buya Gusrizal adalah bentuk cinta yang tak pernah pudar pada negeri dan agamanya. Ia adalah alarm yang terus berbunyi di tengah hiruk-pikuk kekuasaan yang kadang lupa diri. Ia adalah cermin yang dengan jujur memperlihatkan noda, bukan untuk mempermalukan, tetapi agar dibersihkan.

Hari itu, di hadapan para tokoh, ulama, dan umat yang hadir, momen haru itu tiba. Bukan karena kekalahan atau kegagalan, tetapi karena sebuah kepatuhan pada organisasi dan tanggung jawab baru yang lebih luas. Buya Gusrizal baru saja dikukuhkan sebagai Ketua Bidang Fatwa Metodologi di MUI Pusat. Sebuah amanah nasional yang menuntutnya untuk melangkah lebih jauh, namun secara organisatoris, ia harus melepaskan jabatan di daerah menjelang Musyawarah Daerah (Musda) MUI Sumbar.

Saat berdiri di mimbar, dengan sorot mata yang teduh namun penuh semangat, Buya Gusrizal Gazahar menyampaikan pesan perpisahan yang tak akan terlupakan oleh siapa pun yang hadir. Ia tak berpesan tentang gedung megah atau program kerja ambisius. Ia justru berpesan tentang hal yang selama ini menjadi ciri khasnya: teruslah bersuara.

Dengan suara yang mantap, beliau berpesan, “Teruslah nyinyir menyampaikan kebenaran, meskipun kenyinyiran itu belum tentu bisa menghentikan kemungkaran, tapi setidaknya kita sudah punya jawaban di hadapan Allah swt.”

Kalimat itu menggema di aula. Sebuah wejangan yang membalikkan paradigma tentang kata “nyinyir”. Baginya, diam di hadapan kemungkaran adalah pengkhianatan. Sedangkan bersuara, meski tak selalu membuahkan hasil instan di dunia, adalah sebuah investasi akhirat. Sebuah bukti bahwa hati ini masih hidup, bahwa iman ini masih berdenyut, dan bahwa tanggung jawab sebagai seorang ulama telah ditunaikan.

Pesan ini bukan sekadar seruan, melainkan juga sebuah legacy. Buya Gusrizal mengajarkan bahwa perjuangan menegakkan kebenaran tidak selalu harus diukur dengan seberapa cepat kemungkaran itu runtuh. Kadang, yang terpenting adalah bagaimana kita menjaga integritas diri untuk tetap berada di pihak yang benar. Bagaimana kita memastikan bahwa di hadapan Sang Pencipta kelak, kita memiliki alasan yang kuat: “Ya Allah, hamba telah berusaha. Hamba telah bersuara.”

Langkahnya meninggalkan kursi Ketua Umum MUI Sumbar adalah simbol dari keberlanjutan. Seperti obor yang tak pernah padam, semangat “nyinyir” kebenaran itu kini diwariskan. Para penggantinya diharapkan tidak hanya menjadi administrator organisasi, tetapi juga menjadi penjaga moral dan “lampu penerang” bagi para pemimpin dan masyarakat.

Masyarakat Sumatera Barat, para kolega, bahkan mungkin para pejabat yang pernah “dinyinyir”, pasti akan merasakan kehilangan. Aula HMD Dt Palimo Kayo mungkin tak lagi sesering dulu mendengar suara kritis nan tegasnya. Namun, pesan yang ditinggalkannya akan terus berkumandang, mengingatkan setiap insan bahwa di tengah arus dunia yang riuh, kita tetap butuh seseorang yang berani berkata benar di hadapan penguasa, yang rela dianggap “nyinyir” demi sebuah jawaban di hadirat Ilahi.

Selamat bertugas di tingkat nasional, Buya Gusrizal. Selamat menanamkan metode fatwa yang lurus bagi umat. Dan terima kasih untuk 10 tahun pelajaran berharga: bahwa terkadang, “nyinyir” adalah bentuk tertinggi dari cinta dan keberanian.

Related posts