MINANGKABAUNEWS.com, LIMAPULUH KOTA — Hiruk-pikuk di sebuah nagari kecil nan tenang di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, tiba-tiba berubah drastis. Jalan-jalan desa yang biasanya sepi kini dipenuhi kendaraan dari berbagai penjuru. Deretan mobil dan motor memadati area parkir yang seadanya. Ribuan orang berbondong-bondong menuju satu titik lokasi yang sama—sebuah fenomena alam yang muncul secara tiba-tiba dan mencengangkan: sinkhole atau lubang raksasa hasil runtuhan tanah di Nagari Situjuah Batua.
Lubang besar dengan diameter puluhan meter itu bukan sekadar tontonan semata. Di dasarnya, tampak air jernih bak telaga yang memantulkan cahaya matahari. Pemandangan yang indah sekaligus menakjubkan ini sontak menjadi magnet bagi warga lokal dan pendatang dari berbagai daerah. Dalam hitungan hari, tempat yang seharusnya menjadi zona berbahaya ini malah berubah menjadi semacam “objek wisata dadakan” yang penuh sesak pengunjung.
Namun, yang membuat situasi semakin rumit bukan sekadar antusiasme masyarakat untuk melihat fenomena geologi langka tersebut. Cerita mulai berkembang dari mulut ke mulut. Bisikan-bisikan tentang keajaiban mulai menyebar. Sebagian pengunjung tidak hanya datang untuk berfoto atau sekadar melihat. Mereka membawa jerigen, botol, bahkan ember untuk mengambil air dari sinkhole tersebut.
“Katanya air ini berkhasiat,” ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya. Klaim tanpa dasar ilmiah itu menyebar cepat bagaikan virus. Padahal, belum ada satupun penelitian ilmiah atau hasil uji laboratorium yang membuktikan khasiat khusus dari air tersebut. Namun keyakinan sudah terlanjur tertanam. Orang-orang pulang membawa seceruk demi seceruk air, berharap mendapat berkah atau kesembuhan dari cairan yang sesungguhnya perlu diteliti lebih lanjut kandungan dan keamanannya.
Fenomena ini tidak luput dari perhatian para ulama setempat. Buya Gusrizal Gazahar, yang menjabat sebagai Ketua Bidang Fatwa Metodologi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, segera memberikan peringatan keras. Melalui sambungan telepon pada Jumat pekan lalu, sosok ulama yang disegani ini menyampaikan kekhawatirannya dengan nada tegas namun penuh kepedulian.
“Jangan sampai ada alasan nyeleneh seperti ‘pariwisata’ atau ‘potensi ekonomi’ yang membuat kita membiarkan kesesatan akidah terjadi,” tegasnya. Buya Gusrizal memahami bahwa di balik antusiasme masyarakat, terdapat potensi bahaya yang jauh lebih besar dari sekadar kerumunan—yaitu penyimpangan keyakinan yang dapat merusak fondasi keimanan.
Peringatan Buya Gusrizal bukan tanpa alasan. Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa fenomena alam yang luar biasa sering kali dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu untuk kepentingan pribadi. “Kalau dibiarkan, akan ada saja tukang mimpi dan dukun yang membawa cerita pembenaran atas kesesatan masyarakat awam,” katanya dengan nada prihatin.
Pola ini sudah sering terulang di berbagai tempat. Dimulai dari keyakinan sederhana tentang khasiat suatu benda atau tempat, lalu muncul “sesepuh” atau “orang pintar” yang mengklaim mendapat mimpi atau bisikan gaib. Cerita dikemas sedemikian rupa hingga terdengar meyakinkan. Masyarakat awam yang kurang literasi keagamaan menjadi sasaran empuk. Ujung-ujungnya, tempat tersebut menjadi semacam tempat keramat yang dikunjungi orang untuk meminta berkah, kesembuhan, atau rejeki—praktik yang jelas bertentangan dengan ajaran Islam.
Mengantisipasi hal tersebut, MUI Sumatera Barat telah bergerak cepat. Koordinasi intensif dilakukan dengan MUI Kabupaten Lima Puluh Kota untuk memantau perkembangan situasi di lapangan. “Kami sudah amanahkan kepada MUI Kabupaten Lima Puluh Kota dan juga telah sampai ke MUI Nagari agar perbuatan masyarakat itu dihentikan,” jelas Buya Gusrizal.
Penjelasan teologis yang disampaikan Buya Gusrizal sangat gamblang dan mudah dipahami. Ia membedakan dua bentuk kesalahan keyakinan yang sedang terjadi. Pertama, meyakini sesuatu berkhasiat secara medis tanpa ada bukti atau penelitian medis yang mendukung. “Ini adalah kebodohan,” tegasnya tanpa basa-basi.
Kedua, dan ini yang lebih berbahaya, adalah meyakini sesuatu memiliki khasiat secara gaib tanpa ada dasar syar’i yang jelas—tanpa wahyu Allah yang merupakan satu-satunya sumber pengetahuan tentang hal-hal gaib. “Meyakini sesuatu berkhasiat secara ghaib tanpa kabar yang shahih berupa wahyu Allah—Pemilik seluruh kunci keghaiban—berarti keyakinan berdasarkan khayalan atau takhayyul yang kita kenal dengan istilah khurafat i’tiqad,” paparnya.
Lebih lanjut, Buya Gusrizal menjelaskan bahwa perbuatan yang lahir dari keyakinan khurafat tersebut adalah kesyirikan yang nyata. Dalam Islam, syirik merupakan dosa terbesar yang tidak akan diampuni jika seseorang meninggal dalam keadaan masih meyakininya. Oleh karena itu, peringatan ini bukan sekadar himbauan biasa, melainkan upaya penyelamatan akidah umat dari jurang kesesatan.
Sinkhole di Nagari Situjuah Batua sebenarnya adalah fenomena alam yang menarik untuk dipelajari dari sudut pandang ilmiah. Lubang runtuhan seperti ini terbentuk melalui proses geologis yang kompleks, biasanya akibat erosi batuan karst di bawah permukaan tanah. Keberadaannya bisa menjadi objek penelitian yang berharga bagi ahli geologi, hidrologi, dan berbagai disiplin ilmu lainnya.
Air yang tampak jernih di dasar sinkhole tersebut juga perlu diteliti komposisi kimianya. Bukan untuk membuktikan khasiat mistis, melainkan untuk memastikan keamanannya jika sampai dikonsumsi masyarakat. Air tanah yang keluar dari formasi batuan tertentu bisa saja mengandung mineral atau zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan jika tidak melalui proses pengolahan yang tepat.
Namun sayangnya, antusiasme masyarakat lebih condong ke arah yang tidak rasional. Alih-alih mendekati fenomena ini dengan rasa ingin tahu yang ilmiah, banyak yang justru mencari pembenaran mistis. Padahal, alam semesta dengan segala kejadiannya adalah ayat-ayat atau tanda-tanda kekuasaan Allah yang seharusnya membuat manusia semakin bertakwa, bukan malah tersesat dalam khurafat.
Pemerintah daerah setempat sebenarnya juga sudah memberikan peringatan terkait aspek keselamatan. Sinkhole adalah struktur yang tidak stabil. Dinding-dindingnya bisa saja runtuh sewaktu-waktu, terutama jika terlalu banyak beban di sekelilingnya. Namun, peringatan keselamatan fisik ini tampaknya belum cukup kuat untuk mengimbangi rasa penasaran dan keyakinan akan “keajaiban” yang sudah terlanjur menyebar.
Di sinilah pentingnya edukasi dari berbagai pihak—pemerintah, ulama, akademisi, dan tokoh masyarakat—untuk memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat. Fenomena alam harus dipandang sebagai fenomena alam. Jika ada manfaat yang bisa diambil, harus melalui pendekatan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan melalui klaim-klaim yang tidak berdasar.
Peran ulama dalam konteks ini menjadi sangat krusial. Di tengah masyarakat yang mayoritas Muslim, suara ulama memiliki pengaruh besar dalam membentuk cara pandang dan perilaku masyarakat. Langkah MUI yang cepat dan tegas dalam merespons situasi ini patut diapresiasi sebagai bentuk tanggung jawab moral dan keagamaan terhadap umat.
Kasus sinkhole di Lima Puluh Kota ini juga menjadi pengingat bagi kita semua tentang pentingnya literasi—baik literasi sains maupun literasi keagamaan. Tanpa pemahaman yang memadai tentang bagaimana alam bekerja, orang mudah percaya pada penjelasan-penjelasan yang tidak rasional. Tanpa pemahaman agama yang benar, orang mudah tergelincir ke dalam praktik-praktik yang menyimpang dari ajaran agamanya.
Masyarakat perlu diingatkan kembali tentang prinsip dasar dalam Islam: segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini adalah kehendak Allah dan tunduk pada hukum-hukum yang Dia tetapkan. Memahami hukum alam adalah bagian dari upaya kita mengenal kebesaran Sang Pencipta. Namun, mengaitkan fenomena alam dengan kekuatan gaib atau khasiat mistis tanpa dasar yang jelas adalah jalan yang membawa kepada kesyirikan.
Saat tulisan ini dibuat, situasi di lokasi sinkhole masih ramai dengan pengunjung. Upaya edukasi dan himbauan terus dilakukan oleh berbagai pihak. MUI tingkat nagari dan kabupaten aktif terjun ke lapangan untuk memberikan pencerahan kepada warga. Beberapa tokoh masyarakat juga mulai menyadari pentingnya mengarahkan antusiasme warga ke jalur yang lebih positif dan tidak bertentangan dengan ajaran agama.
Yang diharapkan adalah, fenomena ini bisa menjadi pembelajaran kolektif. Sinkhole bisa tetap menjadi objek yang menarik untuk dikunjungi dan dipelajari, tetapi dengan pendekatan yang benar. Pemerintah bisa memfasilitasi penelitian ilmiah tentang fenomena geologis tersebut. Jika memang aman dan layak, lokasi bisa dikembangkan sebagai destinasi wisata edukasi dengan standar keselamatan yang memadai.
Namun yang paling penting, masyarakat harus dilindungi dari keyakinan-keyakinan yang menyesatkan. Air dari sinkhole adalah air biasa yang terbentuk melalui proses alamiah. Tidak ada khasiat khusus, tidak ada kekuatan magis, tidak ada mukjizat di dalamnya. Jika seseorang ingin minum air tersebut, silakan saja setelah memastikan air tersebut aman melalui uji laboratorium—bukan karena percaya pada khasiat gaib yang tidak ada dasarnya.
Peringatan Buya Gusrizal Gazahar bukan untuk melarang orang mengunjungi sinkhole atau melarang orang memanfaatkan air jika memang terbukti aman. Peringatan itu adalah untuk menjaga kemurnian akidah umat dari praktik-praktik syirik yang bisa merusak iman. Dan ini adalah tanggung jawab bersama—ulama, pemerintah, akademisi, dan masyarakat—untuk memastikan bahwa antusiasme terhadap fenomena alam tidak berubah menjadi kesesatan dalam beragama.
Semoga kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua tentang pentingnya berpikir kritis, mencari ilmu, dan menjaga kemurnian keyakinan. Alam semesta dengan segala keajaibannya adalah bukti kekuasaan Allah, bukan objek untuk disembah atau dimintai berkah. Wallahu a’lam bishawab.






