Air Mata Gubernur Jatuh: “Sosok Pung Telah Pergi, Tapi Dedikasinya Abadi untuk Sumbar”

MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Duka menyelimuti ruang keluarga di Jalan Koto Baru No. 14 A, Sabtu siang itu. Rumah sederhana di Kelurahan Koto Baru Nan XX itu mendadak penuh sesak oleh pelayat, tatapan sendu, dan isak tangis yang tak terbendung. Di sanalah, untuk terakhir kalinya, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah memandang sahabat dan rekannya, Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar, Syaiful Bahri.

Pria yang akrab disapa Pung itu menghembuskan napas terakhir di usia 59 tahun, meninggalkan luka yang dalam, bukan hanya bagi keluarga, tapi juga bagi seluruh aparatur sipil dan masyarakat Minangkabau yang pernah merasakan sentuhan pengabdiannya.

Begitu tiba di rumah duka, Mahyeldi tak banyak bicara. Ia menghampiri istri almarhum, menggenggam tangannya erat, dan menyampaikan belasungkawa yang tulus. Suasana hening sejenak, sebelum doa-doa dipanjatkan untuk sang almarhum yang dikenal sebagai pegawai negeri sipil (PNS) berdedikasi tinggi.

Jenazah Syaiful Bahri dimandikan dengan khidmat di rumah duka, kemudian disalatkan berjemaah di Masjid Nurul Ikhlas yang tak jauh dari sana. Ratusan warga, kolega, dan pejabat pemerintahan tampak hadir memberi penghormatan terakhir. Dari masjid, iring-iringan mobil jenazah bergerak menuju Kantor Gubernur Sumbar, diadakan pelepasan simbolis, sebelum akhirnya almarhum dibawa ke peristirahatan terakhirnya di pemakaman keluarga di kawasan Andalas, Kota Padang.

Di tengah prosesi, Mahyeldi dengan suara bergetar menyampaikan kesan mendalamnya. Baginya, kepergian Pung bukan sekadar kehilangan seorang kepala dinas. “Saya sudah mengenal beliau sejak saya menjabat sebagai Wali Kota Padang. Saat itu, saya sudah mempercayakan berbagai posisi dan tugas padanya. Dan beliau tak pernah mengecewakan. Semua dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi yang luar biasa,” kenang Mahyeldi.

Lebih dari sekadar birokrat, Syaiful Bahri dikenal sebagai sosok yang rendah hati, pekerja keras, dan mencintai budaya Minangkabau. Selama menjabat di Dinas Kebudayaan, ia dinilai mampu merawat warisan leluhur dan mengangkat nilai-nilai lokal ke panggung yang lebih luas. Kontribusinya, kata Mahyeldi, adalah warisan tak ternilai bagi kemajuan Sumbar.

“Semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf dan kesalahan beliau, menerima seluruh amal ibadah, serta menempatkan beliau di tempat yang mulia di sisi-Nya. Dan kepada keluarga yang ditinggalkan, saya berpesan agar kepergian ini diterima dengan ikhlas. Semoga ibu dan anak-anak diberikan kekuatan dan ketabahan,” ujar Mahyeldi dengan mata berkaca-kaca.

Di akhir pernyataannya, Mahyeldi menitipkan doa agar semua kebaikan Syaiful Bahri selama hidup—dalam setiap tugas pemerintahan, setiap kebijakan budaya, dan setiap senyum yang ia tebar—menjadi amal jariyah yang terus mengalir. “Insyaallah, dedikasi beliau untuk Sumbar akan abadi, dan kelak akan mendapat balasan terbaik dari Allah SWT,” pungkasnya.

Syaiful Bahri kini telah tiada. Tapi namanya, kata orang-orang terdekatnya, akan tetap hidup dalam setiap upaya pelestarian budaya yang pernah ia gerakkan. Selamat jalan, Pung.

Pos terkait