AJI Padang Diskusikan Soal Ancaman Serangan Digital dan Pembatasan Bersuara

  • Whatsapp
Para peserta Nobar dan Diskusi pemutaran film A Thousand Cuts di Segeh Koffiehuis, Kota Padang, Kamis (4/11) malam. (Foto: Dok. AJI Padang)

MINANGKABAUNEWS.COM, PADANG – Topik soal ancaman serangan digital dan pembatasan bersuara menjadi pembahasan diskusi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Padang, dalam rangka Hari Internasional Impunitas Atas Kejahatan Terhadap Jurnalis yang diperingati setiap tanggal 2 November.

Diskusi tersebut bertema ‘Ancaman Serangan Digital dan Pembatasan Bersuara serta Penggelembungan Kekuasan Eksekutif Terhadap Demokrasi Indonesia’.

Read More

Jelang diskusi, AJI Padang juga sempat melakukan nonton bareng (nobar) pemutaran film A Thousand Cuts yang berlangsung di Segeh Koffiehuis, Kota Padang, Kamis (4/11) malam.

Ketua AJI Padang, Aidil Ichlas, mengatakan nobar Film a Thousand Cuts ini digelar di 10 AJI Kota yang tersebar di Indonesia. Puluhan peserta terdiri dari masyarakat sipil, jurnalis, aktivis, akademisi hingga pers mahasiswa.

“Film ini kita harapkan dapat menjaga semangat para jurnalis dan aktivis dalam membela HAM khususnya. Sekaligus mengingatkan adanya ancaman serupa di negara kita, seperti yang terjadi di Filipina,” kata Aidil.

Nobar dan diskusi ini, tambahnya, juga sebagai bentuk dukungan terhadap Maria Ressa. A Thousand Cuts merupakan film dokumenter garapan Sineas keturunan Filipina-Amerika Ramona Diaz.

Film tersebut mengangkat sosok Pemimpin Redaksi Portal Berita Online Rappler, Maria Ressa, yang mengeksplorasi konflik antara pers dan pemerintah Filipina di bawah Presiden Rodrigo Duterte.
Di mana pada akhirnya, Maria Ressa harus mendekam di dalam penjara selama 6 tahun karena tuduhan penipuan dan pencemaran nama baik.

Direktur Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) Universitas Andalas, Feri Amsari, yang menjadi pemantik diskusi melihat adanya persamaan antara Filipina dan Indonesia. Yaitu persamaan pihak yang sedang berkuasa ingin memperpanjang kekuasaan atau masa jabatan.

Dalam film a Thousand Cuts, Presiden Rodrigo Duterte tergoda untuk memperpanjang masa jabatannya lebih dari 7 tahun. Diketahui di Filipina, seorang presiden hanya boleh menjabat dalam masa satu periode selama 6 tahun.

Saat itulah arogansi pemerintahan mulai terasa dan cenderung anti-kritik. Kemudian Duterte mencoba membungkam media yang kritis kepada pemerintahannya. Seperti membungkam media yang dipimpin Maria Ressa, Rappler.

“Ketika jurnalis sudah dibungkam, apalagi ditangkap. Maka, tidak akan ada lagi apa-apa, karena tidak ada lagi yang memberitakan,” tutur Feri.

Direktur LBH Padang, Indira Suryani, yang juga hadir sebagai pemantik diskusi mengatakan, film A Thousand Cuts merupakan film yang memberikan motivasi untuk memperjuangkan hal-hal yang benar.

Indira menyebut, ketika seseorang memilih jati dirinya menjadi pembela HAM, harus siap dengan segala ancaman, teror dan hal lainnya. Tapi, pembela HAM, menurut dia akan berbahagia dengan apa yang mereka perjuangkan.

“Ketika Maria Ressa ditahan dan didiskriminasi, mereka tetap memiliki kekuatan yang luar biasa. Yang kita lihat sepanjang film ini, Maria Ressa selalu tersenyum,” katanya.

Ia juga menilai kesamaan antara Filipina dengan Indonesia dalam gambaran film tersebut yaitu oligarki. Ketika seorang ayah berkuasa, anaknya atau keluarganya juga akan berkuasa. Seperti anak Duterte yang juga menjadi wali kota.

Oligarki ini juga didukung oleh pasukan dunia maya atau buzzer pro pemerintah. Indira berharap masyarakat harus cerdas dan menyadari upaya penggiringan opini oleh buzzer pemerintah.

“Masyarakat sipil harus ikut menguasai jagat dunia maya untuk menyampaikan kebenaran dan fakta yang sebenarnya terjadi,” ajak Indira. (akg)

Related posts