Alam Takambang, Masih Jadi Gurukah?

  • Whatsapp
Istana Pagaruyung
Istana Pagaruyung (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: Siti Nur Aisyah dan Yudha Okprianda

“Alam Takambang Jadi Guru”. Berbicara tentang Minangkabau, tentu kita tidak asing lagi dengan falsafah yang satu ini. Orang Minangkabau menjadikan alam sebagai sumber pembelajaran dalam kehidupan. Manusia dapat belajar setiap hal dari alam. Hal ini dimaknai bahwa di Minangkabau, segala bentuk pepatah terinspirasi dari kehidupan yang ada di alam ini, di mana hal ini dijadikan sebagai aturan, hukum, dan ketentuan adat di Minangkabau.

Read More

Contohnya seperti pepatah “Satitiak Jadikan Lauik, Sakapa Jadikan Gunuang” yang bermakna setiap ilmu, pelajaran adat dan budaya, serta nilai dan norma-norma yang kita dalami, harus diamalkan sebaik mungkin, meskipun hanya kecil dan sederhana. Serta alam memiliki semua yang dibutuhkan oleh manusia, sekaligus mengajarkan banyak nilai-nilai kehidupan bagi manusia. Di mana semua yang ada di alam, dapat dijadikan unsur pendidikan, mulai dari air, angin, tanah, manusia, tumbuhan, hewan, dan makhluk hidup lainnya.

Namun, fakta yang kita lihat sekarang, alam di Minangkabau terutama di Sumatera Barat seakan perlindungannya dilupakan. Bahkan, berdasarkan informasi tim Geographic Information System Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi pada tahun 2020, hutan alam Sumatera Barat hilang 31 ribu hektare sejak 2017. Tutupan hutan Sumatera Barat tinggal 1,8 juta hektare atau 44 persen dari luas wilayah. Faktor berkurangnya tutupan hutan itu di antaranya disebabkan oleh pembukaan lahan baru untuk perladangan, izin baru untuk perusahaan logging, kebakaran hutan, serta pembukaan lahan tambang emas ilegal.

Diperkirakan terdapat empat ribu hektare kawasan sempadan sungai yang sebagiannya berada dalam kawasan hutan dirusak oleh penambangan emas ilegal. Padahal kita tahu bahwa potensi kawasan hutan Sumatera Barat melingkupi lebih dari separuh wilayah Sumatera Barat sendiri. Sumatera Barat merupakan daerah dengan luas kawasan hutan mencapai 2.342.893 hektare atau 55,39 persen dari luas wilayah administratifnya. Dari luas hutan tersebut, 791.671 hektare diantaranya merupakan kawasan dengan fungsi hutan lindung.

Kehilangan tutupan hutan ini telah menyebabkan berbagai bencana dan konflik yang tak kunjung usai di Sumatera Barat. Dalam catatan Warsi tahun 2020, tercatat enam kali galodo yang menyebabkan empat orang tewas, tiga orang luka dan 18 rumah rusak. Selain

itu, banjir juga kerap terjadi hampir di semua kabupaten/kota di Sumatera Barat. Tidak hanya itu, juga tercatat kasus konflik satwa dengan manusia yang cukup tinggi. Sedikitnya lima ekor harimau yang terlibat konflik dengan manusia di beberapa tempat dan beberapa ekor harimau sudah ditangkap oleh tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

Belum lama ini, Sumatera Barat diresahkan dengan tambang emas ilegal di Batanghari, Solok Selatan. Tambang emas ini dikhawatirkan berpotensi menyebabkan kerusakan lingkungan yang parah di wilayah tersebut, karena sebagian besar lubang-lubang bekas tambang dibiarkan menganga tanpa adanya reklamasi. Bahkan, berdasarkan hasil pemantauan Tim Gabungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Harian Kompas, dan pemerhati lingkungan hidup di Solok Selatan pada akhir 2019, ditemukan fakta bahwa kawasan hutan lindung yang berada di daerah aliran sungai Batanghari telah mengalami kerusakan yang parah. Padahal, Hutan Lindung Batanghari memiliki kekayaan hutan yang alami dan asli, yakni kekayaan jenis flora dan fauna. Seperti gajah dan hasil hutan seperti batang bulian, kayu gaharu, rotan dan damar, serta madu kelulut.

Belum lama ini, Kota Padang sering dilanda banjir, hal ini tak heran karena banyaknya peralihan hutan menjadi pemukiman seperti yang terjadi di daerah Jondul Rawang, di mana kawasan yang dulunya merupakan hutan telah beralih menjadi pemukiman. Dan daerah yang dulunya rawa telah beralih fungsi menjadi pemukiman dan ditambah lagi banyaknya galian-galian atau tambang pasir yang dapat menyebabkan menurunnya kemampuan tanah dalam menyerap air hujan, sehingga tak heran saat terjadi perubahan iklim dan curah hujan yang tinggi akhir-akhir ini langsung berdampak mengakibatkan banjir. Karena akar-akar pohon yang tadinya menyerap air hujan tidak ada lagi, diperparah lagi dengan lahan-lahan yang kemampuan penyerapan airnya semakin berkurang.

Beberapa tahun belakangan ini, Pantai Padang seolah telah berubah menjadi lautan sampah. Terutama apabila hujan deras turun mengguyur Kota Padang, Sumatera Barat dengan durasi lebih dari 4 jam. Sampah tersebut diketahui merupakan kiriman dari sungai-sungai yang bermuara di Pantai Padang tersebut. Beragam jenis sampah menumpuk di sana, mulai dari ember pecah, ban mobil, hingga popok bayi. Padahal kita tahu pantai itu selalu dikunjungi oleh wisatawan. Tidak hanya pemandangan pantai yang dipenuhi oleh sampah, namun bau tak sedap juga ikut menyeruak di lokasi tersebut. Hal ini tak heran mengingat sampah-sampah yang tidak terkelola di Kota Padang kini mencapai 62,8 ton. Di mana sampah tersebut banyak ditemukan di muara sungai, bantaran pesisir pantai, serta tempat yang dijadikan penumpukan sampah liar. Sebagaimana menurut Mairizon yang merupakan Kepala Dinas Lingkungan Hidup atau DLH Kota Padang mengungkapkan bahwa

timbunan sampah yang terdapat di Kota Padang sebanyak 641 ton per harinya, masih menyisakan sampah yang tidak terkelola sebesar 62,8 ton atau 14 persennya. Hal ini tak lain salah satunya disebabkan oleh perilaku dan budaya masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan dan memandang sungai dan pantai sebagai tempat untuk membuang sampah.

Cukup miris bukan? Alam di kawasan daerah dengan falsafah “Alam Takambang Jadi Guru” yang artinya alam merupakan suatu objek yang sakral, justru alamnya mendapatkan perlakuan yang kurang baik. Kita seakan tak pandai berterima kasih kepada alam yang telah memberikan banyak pembelajaran dan kebermanfaatan sebagai rahmat Tuhan yang Mahakaya. Sedangkan dari kita kebanyakan justru hanya mementingkan keuntungan sendiri tanpa memikirkan dampaknya ke depan. Lantas, Alam Takambang Masih Jadi Gurukah?

/* Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Biologi, Universitas Andalas

Related posts