Ancaman Kehidupan Satwa Liar di Sumatra Barat

  • Whatsapp
Harimau Sumatera
Harimau Sumatera (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: Nasya Hafifah Putri

Pulau Sumatra adalah pulau yang memiliki potensi keanekaragaman flora dan fauna yang tinggi, hal tersebut disebabkan oleh posisi geografis daerah ini berada dijalur lintas Pegunungan Bukit Barisan yang melintang di sepanjang Pulau Sumatra sehingga memiliki bentang alam yang sangat mendukung untuk keberagaman hayati. Hal ini tentu memberikan keuntungan tersendiri bagi daerah ini karena memiliki tingkat endemisitas hayati yang tinggi, artinya banyak flora dan fauna yang hanya dapat ditemukan pada daerah ini. Beberapa diantaranya seperti harimau Sumatra, gajah Sumatra, badak Sumatra, berbagai jenis burung, berbagai jenis reptile, dan lainnya.

Read More

Sumatra Barat adalah salah satu provinsi yang terdapat di pulau Sumatra yang memiliki beberapa flora dan fauna andemik.  Salah satu contoh fauna endemik yang terdapat di Sumatra Barat adalah Burung Kuau Raja yang juga ditetapkan sebagai fauna identitas Provinsi Sumatra Barat. Tetapi burung kuau raja saat ini menurut IUCN Redlist memiliki status vulnerable atau berada pada kondisi rentan keberadaannya. Kondisi tersebut disebabkan banyaknya perburuan liar serta hilangnya habitat asli mereka yang disebabkan oleh pembukaan lahan untuk pertanian ataupun perindustrian. Perburuan liar yang dilakukan terhadap hewan ini bertujuan untuk mendapatkan bulu dan daging burung hewan ini.

Permasalahan perburuan liar untuk satwa di Indonesia mendapat perhatian yang serius dari pemerintah, dibuktikan dengan dibuatnya Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan NomorP.20/Menlhk/Setjen/ Kum.1/11/2018 Tentang Jenis Tumbuhan Dan Satwa Yang Dilindungi, burung kuau raja termasuk kedalam hewan yang statusnya dilindungi. Pada undang-undang tersebut juga sudah dijelaskan sanksi pelanggaran bagi pelaku yang melakukan perdagangan flora dan fauna yang dilindungi akan mendapat hukuman penjara maksimal lima tahun dan denda maksimal seratus juta rupiah. Akan tetapi kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai regulasi hukum ini dan kurangnya kepedulian masyarakat terhadap keseimbangan ekosistem amupun eksistensi satwa, membuat perbruan illegal masih tetap terjadi. Tidak hanya burung kuau raja, tetapibanyak satwa liar lain yang statusnya dilindungi dan banyak juga yang diperjual belikan seperti harimau Sumatra, tringgiling, kukang, beruang madu, burung rangkong dan masih banyak lagi. Padahal satwa-satwa ini memiliki peran penting bagi ekologi dan keseimbangan alam termasuk dalam kehidupan manusia.

Pada tahun 2020 diketahui sebanyak empat kasus perdagangan satwa liar di Sumatra Barat telah terjadi. Jumlah kasus tersebut meningkat dibanding tahun 2019 yang terdapat tiga kasus perdagangan satwa dilindungi yang berhasil digagalkan oleh tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Kementrian Lingkungan Hidup (LHK) dan Satuan Resor Kriminal Polres (Sartreskrim) Sumatra Barat. Kejadian tersebut menjadi bukti bahwa adanya peraturan yang ditetapkan tidak menjadi penghalang bagi para pelaku perdagangan satwa liar untuk terus melakukan pekerjaannya. Terlepas dari apapun yang mereka lakukan, pemahaman dan edukasi mengenai pentingnya menjaga flora dan fauna pada masyarakat saat ini masih belum banyak dilakukan. Padahal edukasi mengenai pengenalan, penjagaan dan pelestarian satwa liar ataupun flora saat ini sangat penting dilakukan untuk mempertahankan kondisi alam yang terus memburuk dari waktu ke waktu.

Di era modern saat ini, sudah banyak media digital yang menyediakan wadah untuk masyarakat dan para penggerak untuk menyuarakan dan mengajak semua orang untuk peduli akan perlindungan satwa. Fokus perlindungan tentunya tidak hanya mengarah ke satu spesies atau populasi saja, tetapi juga pada ekologi dan habitat tempat mereka tinggal nantinya. Hal ini tentu menjadi keuntungan jika semua bisa terlaksana dengan baik, hutan-hutan akan tetap terjaga dan satwa liar yang hidup didalamnya tetap bisa hidup dengan baik pula. Memberikan edukasi dan ajakan secara langsung dan merata pada seluruh daerah di Indonesia, tentunya akan memberikan dampak yang baik terhadap seluruh satwa liar yang ada. Mengingatkan sesama akan pentingnya menjaga alam serta memberikan contoh yang baik saat ini dapat dilakukan dengan mudah, karena didukung oleh kemajuan teknologi yang semakin berkembang.

Dalam mengatasi masalah lingkungan yang semakin kompleks ini dibutuhkan kerja sama antara masyarakat dan apparat pemerintah untuk upaya konservasi dan memberikan perlindungan kepada satwa liar. Selain perburuan liar, pembukaan lahan secara terus menerus dan dalam jumlah besar untuk pertanian, wilayah perindustrian ataupun pengembangan kota yang terjadi di sejumlah wilayah, tidak hanya di Sumatra Barat tetapi juga di seluruh Indonesia merupakan ancaman besar bagi keberadaan satwa liar. Akibat yang ditimbulkan adalah banyak satwa-satwa liar masuk ke pemukiman warga karena hilangnya habitat asli hewan tersebut dan tentunya dapat menjadi ancaman bagi keselamatan manusia dikawasan tersebut. Jadi dengan menyelamatkan ekologi satwa, satwa yang terdapat dikawasan tersebut dapat terselamatkan, keseimbangan ekosistem terjaga, dan ancaman bagi keselamatan manusia pun dapat diatasi.

/* Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Biologi, Universitas Andalas.

Related posts