Ancaman Mikroplastik Terhadap Upaya Konservasi Satwa Laut

  • Whatsapp
mikroplastik
Ilustrasi (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: Jupriadi

Dalam beberapa dekade terakhir sampah plastik menjadi persoalan yang sangat umum dikalangan masyarakat. Bahkan, masalah ini hampir setiap tahun menjadi pembahasan yang sangat hangat dan menarik sehingga seringkali dikaji dan dikaitkan dengan isu lingkungan. Hal ini tidak terlepas dari jumlah sampah plastik yang kian tahun semakin tinggi pertambahannya di lingkungan. Terhitung hingga akhir tahun 2020 berdasarkan data Menteri Lingkungan Hidup dan Lingkungan (KemenLHK) di Indonesia, kurang lebih terdapat sebanyak 67,8 juta ton timbunan sampah plastik. Hal ini menjadi kehawatiran yang besar bagi semua kalangan masyarakat terutama pemerhati lingkungan dan pemerintah setempat.

Read More

Seiring dengan permasalahan tersebut, dewasa ini muncul kekhawatiran baru terkait dengan isu mengenai mikroplastik. Mikroplastik ini merupakan fragmen terkecil dari plastik yang terdegradasi disebabkan oleh faktor biologis, kimiawi dan fisika/mekanis (bakteri, oksidasi dan sinar ultraviolet). Sifat dari mikroplastik ini sama halnya dengan plastik pada umumnya yaitu bersifat persisten dan akan tahan lama dengan kondisi fisik dan morfologi yang sama di lingkungan. Bahkan, bahayanya lagi mikroplastik ini dapat terakumulasi dalam sistem rantai makanan di ekosistem, terutama di ekosistem laut.

Laut dianggap sebagai ekosistem dengan akumulasi mikroplastik yang paling besar dibandingkan dengan ekosistem lainnya. Hal ini dikarenalkan, mayoritas sampah plastik yang tidak di daur ulang akan dibuang kelingkungan dimana sebagian besarnya bermuara di laut. Bahkan berdasarkan penelitian terkini, sekitar 60-80 % dari sampah di laut merupakan jenis sampah plastik. Persoalan ini juga didorong dengan proses degradasi sampah plastik di laut lebih cepat dan dibuktikan berdasarkan penelitian dimana saat ini terdapat sebanyak 14 juta ton sepihan plastik (mikroplastik) di lautan.

Dalam sistem rantai makanan di ekosistem laut, akumulasi mikroplastik terjadi secara kontinu dari satu organisme ke organisme lainnya. Akumulasi ini akan semakin besar jumlahnya sejalan dengan tingginya tingkat tropik dari sistem rantai makanan. Artinya jumlah mikroplastik yang terdapat di Fitoplankton akan jauh lebih rendah dibandingkan dengan jumlah mikroplastik yang terdapat di dalam tubuh ikan Hiu.

Adanya akumulasi mikroplastik dalam tubuh makhluk hidup, dapat merusak fungsi fisiologis tubuh sehingga lambat laun fungsi tersebut dapat mengalami perubahan. Perubahanyang dimaksud ialah kehilangan kemampuanhewan dalam beradaptasi terhadap perubahan dilingkungan (iklim). Akibatnya struktur anatomi dari tubuh hewan akan mengalami perubahan dan bahkan perubahan ini dapat merusak organ tubuh yang vital peranannya bagi pertumbuahn dan perkembangan. Hal ini tentunya dapat mengancam kehidupan semua satwa laut terutama satwa yang dilindungi, karena dampak yang diberikan bersifat kronik hingga dapat menimbulkan kematian bagi hewan.

Di Indonesia, banyak sekali satwa laut yang keberadaannya dilindungi dimana mayoritasnya merupakan hewan yang tergolong dalam kelompok hewan tingkat tinggi (Vertebrata) . Selain itu, kebanyakan dari satwa ini termasuk kategori hewan yang endemik, seperti Pari gergaji, Arwana Irian dan lain sebagainya. Dengan akumulasi partikel mikroplastik di ekosistem laut akan memperparah kekhawatiran terhadapnya ancaman kepunahan satwa ini di masa depan. Namun, tidak hanya kelompok hewan vertebrata saja yang menjadi perhatian, kelompok hewan invertebrata juga memiliki ancaman kepunahan seiring dengan akumulasi dampak dari faktor lingkungan (perubahan iklim), aktivitas manusia (penangkapan satwa laut secara ilegal) dan penumpukan sampah di lautan yang dapat menjadi kombinasi faktor pendorong ancaman kepunahan satwa laut.

Saat ini saja ancaman kepunahan satwa laut telah menjadi fakta yang menarik dan sangat sulit untuk dipecahkan. Faktanya dalam melakukan perlindungan satwa, selalu mendapati hambatan sejalan dengan pertambahan aktivitas manusia yang dapat mengancam kehidupan satwa laut seperti penangkan ikan secara ilegal, perdagangan satwa dilindungi dan perusakan habitat. Banyaknya kasus pelanggaran dan sulitnya monitoring pelaku pelanggaran masih menjadi faktor utama yang menyulitkan upaya konservasi. Apalagi dengan adanya akumulasi mikroplastik di ekosistem laut yang dapat menjadi batu halangan yang sangat berat dalam mencapai target pemerintah dalam program konservasi secara berkelanjutan.

Konservasi secara berkelanjutan merupakan hasil yang ingin dicapai oleh pemerintah dalam upaya konservasi satwa laut. Tak hanya konservasi terhadap satwa tetapi juga menitikberatkan konservasi terhadap ekosistem secara umum. Meskipun sekarang sudah dianggap sangat umum dilakukan, namun fakta dilapangan menunjukkan masih sangat sedikit perubahan yang dapat ditunjukkan ke masyarakat umum. Hal ini sangat berbanding lurus dengan kontribusi dan kerjasama antara semua pihak yang terkait

Begitu pula dengan upaya pengendalian sampah plastik yang sangat memerlukan kerjasama yang intensif antara masyarakat dengan pihak pemerintah dan lembaga terkait. Salah satu upaya dalam mewujudkannya, pemerintah bersama dengan lembaga terkait dapat membentuk sebuah karakter dari masyarakat melalui pendekatan secara konservasionis. Hal ini dapat diimplementasikan dengan memberikan pendekatan khusus didaerah tertentu untuk membentuk pemahaman secara eksplisit kepada masyarakat yang dapat dilakukan dengan program dan pelatihan yang terkait dengan aktivitas konservasi dan lingkungan hidup.

Hal demikian dapat diaplikasian dengan membentuk kelompok pemuda konservasi didaerah pesisir seperti yang dilakukan di kawasan pesisir Wakatobi dengan adanya pengambilan ikan dengan skema Bank ikan. Dan dapat juga diwujudkan dengan memperkenalkan gaya hidup konservasionis kepada generasi muda seperti kegiatan fotografi satwa dan lingkungan sebagai upaya pembentukan pola pikir masyarakat dalam memahami konservasi dan kepedulian terhadap lingkungan secara lebih gamblang. Kegiatan serupa juga dapat dilakukan untuk mengintegrasikan antara karakter masyarakat dengan kepedulian terhadap lingkungan sehingga hal yang tidak diinginkan dapat diminimalisir.

Meskipun sangat sulit untuk dilakukan, namun beberapa tindakan harus segera digencarkan untuk mengatasi permasalahan ini. Karena seiring dengan berjalannya waktu dengan perubahan pola hidup dan juga pola pikir secara horizontal dalam hal konservasi, akan meningkatkan probabilitas kepedulian terhadap konservasi satwa dan lingkungan hidup. Hal ini sangat perlu diterapkan untuk menunjang program pemerintah terkait konservasi dan hubungannya dengan pencemaran laut akibat akumulasi mikroplastik. Mikroplastik dapat diminimalisir keberadaannya dilingkungan jika hal yang demikian dapat diterapkan dan dijalankan dengan sebaik-baiknya. Artinya dalam mengatasi permasalahan ini tidak dapat dilakukan dalam jangka pendek saja tetapi diperlukan solusi yang menjamin keberlanjutan ekosistem laut dimasa depan dengan pendekatan yang tepat terhadap semua pihak yang terkait.

Terlepas dari semua hal tersebut, peran kaum terpelajar atau yang memahami arti konservasi serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan juga dapat diperhitungkan dalammengampayekan konsep dasar perlindungan dan kepedulian terhadap lingkungan kepada masyarakat umum yang notabennya kurang mengilhami hal tersebut.Dengan menerapkan beberapa solusi diatas ditambahkan dengan keikutsertaan stakholder untuk memberikan wawasan terhadap pentingnya konservasi, penulis pribadi dapat beranggapan bahwa kesadaran suatu masyarakat terhadap pentingnya lingkungan dan konservasi sangat mungkin mendapatkan feedback positif di masa yang akan datang sehingga permasalahan lingkungan baik itu terkait dengan mikroplastik, konservasi dan masalah lingkungan lainnya dapat diminimalisir dampak negatifnya.

/* Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Biologi, Universitas Andalas.

Related posts