Antisipasi Varian Baru Covid Melonjak, Perkuat Rujukan Perlindungan Anak, Ini Kata KPAI

  • Whatsapp
Komisoner KPAI Jasra Putra

MINANGKABAUNEWS.COM, JAKARTA — Pasca libur panjang, pemerintah mulai merasakan dampak tingginya kebutuhan masyarakat pada layanan kesehatan. Warganet banyak melaporkan kondisi layanan kesehatan yang cenderung penuh. Bahkan ada penolakan rumah sakit, karena penuhnya layanan kesehatan mereka.

Seperti dalam video singkat di ruang registrasi RS Wisma Atlet, nampak anak bayi di gendong, anak bersama orang tuanya di pelataran rumah sakit, karena menunggu antrian layanan. Artinya kondisi rumah sakit saat ini sedang butuh dukungan sektor lainnya. Dalam memastikan ketersediaan layanan rujukan perlindungan anak sementara, ketika orang tua antri mendapatkan perawatan. Artinya sejak di bawa dan dirujuk karena Covid, orang tua belum menemukan layanan dukungan untuk anaknya, karena kekhawatiran ketika di tinggal. Untuk itu perlu layanan jemput bola, dalam mengkoneksikan layanan rumah sakit, keluarga dan anak.

Read More

“Situasi ini juga menjadi keresahan keluarga Indonesia di tengah dimulainya kebijakan PTM yang akan dibuka seluruhnya di bulan Juli 2021. Bahwa situasi pendampingan anak dalam belajar juga akan dihadapi keluarga yang tengah di rawat di RS,” katanya

IDAI juga mengingatkan angka kematian anak yang meningkat 50 % selama pandemi. Tercatat 600 anak meninggal selama pandemi. Bahwa anak yang di perkirakan jauh dari pandemi, tapi pada kenyataannya juga tertular.

FKUI RSCM juga mengingatkan kondisi anak anak yang komorbid (penyakit penyerta) dan Penyakit genetik yang berakibat meninggal dunia akibat Covid. Mutasi virus juga harus di waspadai, karena sangat dinamis. Untuk itu sekolah dan orang tua perlu terus memantau dan memastikan pengembangan varian baru Covid, karena lebih mudah penularannya.

KPAI dalam survey Fasilitas Kesehatan Bertingkat pada 2020 di 6 wilayah. Menyatakan fasilitas layanan kesehatan yang masih belum terkoneksi dalam mendukung layanan dewasa, orang tua dan anak dalam perawatan. Begitupun rujukan bagi keluarga yang membutuhkan pengasuhan alternatif anak ketika menjalani perawatan. Meski sebelumnya beberapa protokol kebijakan perlindungan anak di tengah pandemi telah di keluarkan BNPB bersama Kementerian, Lembaga dan Organisasi Anak untuk menjangkau permasalahan keluarga. Hanya di tengah lonjakan Covid, efektifitas implementasi kebijakan ini, perlu jadi pengawasan bersama.

“Begitu juga dalam survey KPAI tentang Layanan Kesehatan menemukan tantangan untuk petugas dalam layanan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama di masa pandemi, seperti memenuhi pelaksanaan imunisasi dan pencegahan stunting. Yang merupakan agenda nasional dan amanat Presiden dalam mencegah generasi muda dan usia produktif terpapar penyakit berat tidak menular. Artinya ini jadi rangkaian mencegah pandemi Covid juga, karena tingginya angka kematian anak akibat covid, juga disebabkan penyakit berat atau penyakit penyerta. Untuk itu perlu kesadaran orang tua memeriksakan kesehatan anaknya sejak dini dan secara periodik. Agar situasi buruk dapat di cegah,” ujar Komisioner KPAI Jasra Putra

Untuk mengurangi potensi penelantaran anak di rumah sakit, KPAI mengajak pemerintah daerah untuk memperkuat kebijakan rujukan penempatan anak ketika orang tua menjalani perawatan. Memetakan kebutuhan layanan, apakah bisa di lakukan rumah sakit, keluarga atau membutuhkan pendamping.

Meski situasi tidak seperti Maret 2019 pertama kali Covid datang, karena relaksasi dan orang mulai terbiasa menghadapi pandemi, sehingga tidak sekaku dulu. Namun dengan adanya varian baru, dan perkiraan cepatnya penularan. Tentu tingkat kewaspadaan dan kesiapan Pemerintah Daerah harus lebih tinggi.

Beberapa fasilitas rujukan anak perlu di tambah dalam antisipasi angka lonjakan penularan, seperti di video antrian RS Wisma Atlet, bahwa ada kebutuhan di tengah orang tua mengantri sambil membawa anak dan mengendong anak. Memastikan akses kebutuhan anak, minimal ketersediaan dapur hangat, dapur nutrisi dan tempat istirahat sementara. Begitu juga untuk memastikan anak anak yang ditinggalkan orang tua tetap mendapatkan hak kesehatannya, agar tidak menjadi kluster baru di RS. Jika anak berkepanjangan bersama orang tua di perawatan, bagaimana hak pendidikan mereka, terutama di tengah ulangan, jelang kenaikan kelas dan pendaftaran masa ajaran baru. Dukungan para pekerja anak, kementerian dan lembaga yang bekerja untuk anak, pekerja sosial menjadi kebutuhan dalam mendukung layanan kesehatan di tengah wabah pandemi varian baru.

Tentu situasi ini sangat memprihatinkan kita semua, ditengah relaksasi dan kebijakan fasilitas publik yang terus melonggarkan. Tentu hal yang ketat, kaku bahkan tabu, kini tidak lagi menjadi permasalahan di masyarakat. Mau tidak mau pilihannya bagi pemerintah daerah dan Satgas Covid adalah menegakkan protokol kesehatan dan memperbanyak pemeriksaan di ruang publik. Data 600 anak meninggal dunia selama pandemic menjadi alarm kita semua.

Kita berharap layanan kesehatan yang sedang berat ini, di topang dari sektor yang lain, dalam pencegahan mengatasi fasilitas kesehatan kita yang hampir penuh, yang tentu ujungnya menumpuk menjadi dampak yang harus diterima anak, karena mereka tidak sekuat orang dewasa. KPAI mendorong orang tua, sekolah dan masyarakat untuk memotivasi anak anak melalui potensi yang dimilikinya untuk menjadi agen pengurang dampak bencana Covid varian baru ini.

Terakhir, pembahasan di atas, mengingatkan kita terkait dua mandat untuk anak anak kita di tengah situasi pandemi sekarang, pertama mandat Undang Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak pasal 44 yang bunyinya Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib menyediakan fasilitas dan menyelenggarakan upaya kesehatan yang komprehensif bagi Anak agar setiap Anak memperoleh derajat kesehatan yang optimal sejak dalam kandungan. Kemudian mandat kedua tentang Peraturan Pemerintah Nomor 44 tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pengasuhan Anak, bahwa dalam situasi pandemi kita diuji penyelenggaraan pengasuhan anak tetap secara referral berjalan dengan baik.

Related posts