Apakah Badak Putih Utara Benar-benar Punah?

  • Whatsapp
Badak Putih Utara Nothern White Rhinoceros
Badak Putih Utara (Nothern White Rhinoceros) (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: Kiki Dwi Liani

Badak Putih Utara (Nothern White Rhinoceros) saat ini menjadi trending topic di sosial media, sebab dikabarkan bahwa Badak Putih Utara ini kini telah punah. Satwa dengan nama latin Ceratotherium simum ssp. Cottoni menjadi viral sebab unggahan akun @SlemanYouthCrew pada Minggu (6/6/2021) di akun twitternya. Ia menuliskan “Badak Putih Utara, Punah! Bertahan selama 55 juta tahun di Bumi, saksi dari perubahan bumi, merasakan seleksi alam yang hebat, namun tak dapat bertahan dari ganasnya Manusia. Selanjutnya hewan apa yang punah atas ganasnya manusia? Komodo? Harimau Sumatera? Gila memang”. Unggahan ini pada Rabu (9/6/2021) pukul 08.00 WIB telah mendapat 5,8 ribu retweet dan 13 ribu like.

Read More

Hewan dengan berat 1,6 sampai 4 ton ini memiliki bentuk bibir persegi dengan wilayah sebarannya yaitu di Dataran Rumput Afrika. Nothern White Rhinoceros merupakan hewan herbivora yang memiliki 2 cula dan siklus reproduksi hanya setiap 2,5 – 5 tahun sekali dengan lama kehamilan 16-18 bulan. Daya pikat cula badak inilah yang tidak bisa dihindari oleh para pemburu yang menyebabkan penurunan drastis populasi Badak Putih Utara di alam. Harga cula Badak Putih Utara sangat fantastis, yaitu 75 ribu dolar AS per kilogram atau sekitar 1,05 miliar rupiah.

Tidak hanya dari daya pikat cula saja, tetapi keegoisan manusia untuk memiliki seluruh sumber daya alam membawa kerusakan habitat dan krisis lingkungan terhadap Badak Putih Utara. Perburuan dan perdagangan ilegal serta eksploitasi alam besar-besaran membawa dampak negatif bagi banyak kehidupan termasuk Badak Putih Utara yang saat ini terancam punah.

Pada tahun 2018, jumlah populasi Badak Putih Utara di dunia hanya 3 individu. 1 jantan dengan nama Sudan dan 2 betina yaitu Fatu dan Najin. Namun nahasnya pada Maret 2018, Sudan mati akibat usia tua yaitu 45 tahun di Ol Pajeta, Kenya.

Menurut para ahli, selain usia tua, fisik Sudan juga telah lemah dan lumpuh dari pinggang ke bawah. Kaki belakangnya juga goyah sehingga tidak mampu untuk melakukan kawin dengan badak betina sehingga para ilmuwan mengumpulkan dan membekukan sperma Sudan untuk berjaga-jaga apabila Sudan mati. Dengan
kematian Sudan ini mengakibatkan Badak Putih Utara menjadi “Punah secara fungsional”. Suatu spesies disebut punah secara fungsional ketika beberapa individu dalam spesiesnya masih hidup tetapi tidak dapat berkembang biak karena usia tua atau hanya ada satu jenis kelamin.

Dikutip dari IFL Science, Jum’at (21/8/2020) Ilmuwan dari The Ol Pajeta Conservancy di Kenya mengupayakan penyelamatan subspesies tersebut dengan menggunakan sperma Sudan yang telah dibekukan untuk membuahi sel telur dari Fatu dan Najin secara artifisial. Namun, banyak faktor yang dianggap dapat menyebabkan kegagalan dari proses ini, salah satunya yaitu kekerabatan genetik Fatu dan Najin dengan Sudan sangat dekat sehingga dikhawatirkan nanti akan apabila tetap dilakukan pembuahan dan berhasil, bayi yang lahir akan menjadi
cacat. Namun saat ini, peneliti juga mengusahakan untuk melakukan upaya lainnya yaitu dengan menggunakan sperma Sudan untuk membuahi sel telur Badak Putih Selatan. Sehingga nantinya keragaman genetik dari Badak Putih Utara dapat diselamatkan.

Para ahli berharap dengan adanya program ini dapat membantu mengembalikan populasi Badak Putih Utara dan bisa segera dilepaskan ke alam liar. Richard Vigne, Direktur Pelaksana Konservasi juga berharap dengan adanya permasalahan ini mampu memberikan kesadaran kepada masyarakat luas untuk menjaga alam dan tidak melakukan perburuan ilegal serta eksploitasi berlebihan. Sebab, mengupayakan proses perbaikan struktur populasi suatu spesies sangat sulit dan butuh usaha ekstra untuk melakukannya. Jangan sampai kelalaian dan keegoisan manusia, flora dan fauna menjadi korbannya. (*)

/* Penulis adalah Mahasiswa Biologi Universitas Andalas

Related posts