Apakah Pelepasliaran Satwa Liar ke Habitatnya Solusi Efektif Atasi Konflik dengan Manusia?

  • Whatsapp
melepaskan satwa liar
Ilustrasi (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: Fairuz Shafira

Satwa liar merupakan salah satu sumber daya alam yang tidak tertandingi harganya, sehingga perlu perlindungan dan penjagaan yang ketat agar tetap bisa hidup di habitatnya masing-masing dan tidak punah akibat faktor alam.

Read More

Perlindungan terhadap satwa liar ini sangat penting, oleh karena itu pemerintah membuat undang-undang tersendiri tentang konservasi satwa liar ini. Undang- undang ini sangat dibutuhkan dalam hal konservasi satwa liar sebab, undang- undang inilah yang nantinya akan mengatur seluruh kegiatan konservasi satwa liar di indonesia.

Berita yang sering terdengar di kalangan masyarakat mengenai satwa liar sebagian besar hanya tentang konflik satwa liar dengan manusia atau perdagangan satwa liar yang jelas- jelas dilarang.

Baru-baru ini beberapa BKSDA di berbagai tempat melakukan pelepasliaran satwa liar ke habitat aslinya, kegiatan ini merupakan suatu hal yang positif untuk konservasi satwa liar, sebab bagi satwa liar tempat hidup ternyaman adalah habitat asli mereka. Sebagaimana yang telah dilakukan BKSDA jakarta, melepasliarkan 65 ekor burung pada tanggal 28 mei 2021.

Spesies burung yang dilepasliarkan terdiri dari burung jalak putih, burung pecuk padi, burung kowak malam, burung kuntul kerbau, dan burung tekukur. Sebenarnya 65 burung ini merupakan burung yang dikembangbiakkan oleh berbagai taman burung di jakarta. Kegiatan menjadi bukti keberhasilan pemerintah yang sangat antusias dan sangat mendukung mengenai konservasi terhadap satwa liar.

Beberapa hari setelah pelepasliaran 65 burung oleh BKSDA Jakarta, pada selasa (1/7/2021) BKSDA Papua juga melepasliarkan 10 satwa liar yang dilindungi kehabitatnya dikawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop. Jenis – jenis satwa yang dilepasliarkan terdiri dari, burung nuri bayan, ular sanca hijau, ular sanca cokelat, ular boiga dan kadal panana. Jenis jenis ini juga merupakan hasil dari penyelamatan dan rehabilitas satwa liar di Papua. pada kesempatan ini, kepala BKSDA Papua menyatakan bahwa kegiatan ini termasuk kedalam rangkaian kegiatan Hari Konservasi Alam Nasional ( HKAN) tahun 2021 yang acara puncaknya akan dilaksanan di kupang pada Agustus 2021.

Sebelum dilakukan kegiatan release (pelepasliaran) tim BKSDA pastinya sudah melakukan kajian apakah satwa- satwa tersebut layak dilepasliarkan termasuk kajian mengenai apakah satwa ini lebih baik dilepasliarkan atau lebih baik dipenangkaran atau lembaga-lembaga konservasi.

Seperti yang telah banyak kita ketahui, adanya konflik satwa liar dengan manusia tidak luput juga karena habitat asli satwa liar yang dialihkan fungsinya sebagai perkebunan atau lahan pertanian oleh manusia yang menyebabkan satwa liar ini tidak memiliki tempat hidupnya lagi. Padahal Direktur Jenderal Konservasi dan Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK, Wiratno berpendapat bahwa tempat hidup yang paling indah bagi satwa adalah di alam mereka, meskipun ia akan mati, lebih baik mati di alam.

Menteri LHK, Siti Nurbaya mengatakan bahwa pihaknya akan lebih intensif lagi dalam kegiatan satwa liar ke alam, dan juga menegaskan bahwa LHK akan melakukan kegiatan pelepasliaran satwa setiap minggu. Kegiatan pelepasliaran satwa liar ke habitat asli mereka merupakan solusi yang efektif terhadap maraknya konflik manusia terhadap satwa liar yang ujung- ujungnya satwa liar ini akan dibunuh atau lebih parahnya satwa liar ini diperjuabelikan dengan ilegal. Lebih baik satwa liar ini dikembalikan ke habitat aslinya sehingga akan menghindari konflik terhadap manusia. Konflik manusia dan satwa liar telah menjadi faktor besar penyebab musnahnya satwa liar di Indonesia yang artinya sumber daya alam di Indonesia juga akan berkurang.

/* Penulis adalah Mahasiswa Biologi, FMIPA, Universitas Andalas.

Related posts