Tuesday, 20 Feb 2018
Minangkabaunews
headline
home berita Opini

Wawasan Kebangsaan dan Nalar yang Terus Memudar

Selasa, 12 September 2017 - 07:16:01 WIB - 645
Wawasan Kebangsaan dan Nalar yang Terus MemudarRiyan Beltra Delza, Ketua DPD IMM Sumbar

Oleh Riyan Betra Delza -- Banyak kalangan mulai mempermasalahkan mengapa sekarang ini begitu banyak pemahaman kelompok atau golongan, sikap individualistik dan wawasan sempit lainnya semakin berkembang dalam kehidupan masyarakat. Kenyataan ini membuat mencuatnya kembali pembahasan mengenai pentingnya reaktualisasi wawasan kebangsaan. Nilai-nilai moral, adat, agama banyak yang dilanggar, kerukunan antar suku, agama, ras dirusak, dan kedamaian dicabik-cabik. Perkelahian antar etnis makin besar, pertarungan antar golongan makin keras, permusuhan antar pemeluk agama makin meletup, pertikaian antar elite politik makin mengembang. Itu semua melambangkan makin lemahnya manusia Indonesia sekarang dalam mengaplikasi nilai-nilai kebangsaan.
Masalah wawasan kebangsaan dalam negara kesatuan yang multietnik dan struktur masyarakatnya majemuk, seperti “srigala berbulu domba” atau penuh ambivalensi (ambigu). Perfomancenya menampakan sebuah keseimbangan (equillibrium) diantara struktur sosial, politik, dan kebudayaan, tetapi isinya penuh dengan intrik, ketidakpuasan, paradoks, etnosentrisme, stereotipisme, dan konflik sosial yang tidak kunjung selesai.

Samuel Hutingthon pernah berkomentar pada akhir abad ke-20, bahwa Indonesia adalah negara yang mempunyai potensi paling besar untuk hancur, setelah Yugoslavia dan Uni Soviet akhir abad ke-20 ini. Demikian juga Cliffrod Gertz , antropolog yang Indonesianis ini pernah mengatakan, kalau bangsa Indonesia tidak pandai-pandai memanajemen keanekaragaman etnik, budaya, dan solidaritas etnik, maka Indonesia akan pecah menjadi negara-negara kecil.
Wawasan kebangsaan atau nasionalisme adalah ideologi yang memandang seluruh rakyat yang menginginkan membangun masa depannya secara bersama sebagai suatu nation atau bangsa. Ir Soekarno sebagai tokoh pergerakan nasional Indonesia amat gemar mengutip penjelasan Ernest Renan dan Otto Bauer. (Heriyadi, 2004). Ernest Renan menerangkan, nation adalah mereka yang mempunyai hasrat kuat untuk hidup bersama.

Hal yang menjadi penekanan Renan, asumsi hidup sebagai suatu bangsa adalah suatu keputusan rakyat dan keputusan tersebut didasari oleh adanya keinginan dari segenap komponennya. Keinginan sendiri itulah yang akhirnya menjadi satu-satunya kriterium atau tanda pengenal dan pegangan yang sah dan harus selalu diperhatikan. Ketidakmampuan bangsa memelihara dan memenuhi keinginan komponen bangsa itu, akan menjadi pemicu awal gagalnya suatu bangsa menjaga kemampuan survivalnya (bertahan hidup).
Otto Bauer menambahkan suatu faktor lagi untuk terbentuknya bangsa, yaitu persamaan watak yang terbentuk dari persamaan nasib. Ciri khas suatu nation adalah adanya persamaan status dari seluruh rakyat walaupun beraneka ragam latar belakang agama, ras, etnik atau golongannya.

Dalam lingkup Indonesia, berkembang pula berbagai pemikiran yang membatasi pengertian wawasan kebangsaan. Salah satunya adalah pandangan Siswono Yudohusodo (1996) yang mengatakan, substansi dari rasa kebangsaan adalah kesadaran untuk bersatu sebagai suatu bangsa akibat kesamaan sejarah dan kepentingan masa depannya dan merupakan perekat yang mempersatukan sekaligus memberi dasar kepada jati diri bangsa. Operasionalisasi dari rasa kebangsaan itu kemudian disebut sebagai wawasan kebangsaan.
Ada beberapa kriteria yang dapat digunakan untuk memaknai pemahaman itu. (1) Adanya keputusan rakyat untuk bersatu sebagai bangsa. (2) Perasaan senasib dan sepenanggungan. (3) Adanya kepentingan bersama dan kepentingan dari unsur-unsur pembentuk bangsa. (4) Kesadaran mendahulukan kepentingan yang lebih besar ketimbang kepentingan pribadi atau golongan. (5) Semangat untuk mempertahankan rasa dan semangat kebangsaan itu.(6) Adanya kemampuan bangsa untuk secara terus-menerus memenuhi kepentingan unsur-unsur pembentuknya. (Heriyadi, 2004)
Dalam wawasan kebangsaan kita dewasa ini, unsur tadi dirasakan semakin mengalami kemunduran yang drastis. Bahkan ada yang mengatakan telah kehilangan “greget” . Misalnya, mencuatnya paham kelompok/golongan, miskin nasionalisme, warga bangsa seperti kehilangan daya rekat, konflik horizontal, konflik vertikal. (Ryakudu, 2004).

Karena itu, dalam upaya  merekonstruksi konsepsi kebangsaan kita di era reformasi ini, setidaknya ada tiga tantangan yang terlebih dahulu harus mendapat perhatian serius. Pertama, jika kita mengartikan Indonesia sebagai nation state sebagaimana pembentukan nation state di Eropa, maka konsepsi kebangsaan kita memang telah “membingungkan” sejak awal (complecatted). Jika rasionalitas  pembentukan nation state di Eropa adalah pengelompokkan sosiokultural yang dibangun bersama dalam dan melalui state, maka pembentukan nation state di Indonesia lebih karena “beban” politik yang mesti ditanggung sepeninggal  hengkangnya pemerintah kolonial.
Kedua, nation dan state adalah dua domain yang berbeda namun berimpit posisinya dalam konteks  pembentukan negara modern. Namun yang terjadi selama dekade rezim Orde Baru lebih sebagai perebutan dan penaklukan domain nation oleh state. Pluralitas diakui namun lebih bersifat artifisial dan berikutnya beranjak menjadi haram dalam pengelolaan wacana kebangsaan dan kenegaraan. Kebutuhan strategis yang hendak dielaborasi adalah bagaimana ada perimbangan baru antara wilayah nation dan state ini dalam lingkup Indonesia yang multikultural. Yang diharapkan kemudian adalah munculnya kebijakan-kebijakan politik yang lebih adil dan sensitif terhadap pluralitas keindonesiaan.

Jika selama ini negara tampil sebagai aktor yang dominan di atas masyarakat, maka kerangka pengelolaan ke depan  membutuhkan pelibatan  yang lebih besar dari masyarakat.
Ketiga, kegagalan untuk menemukan satu faktor yang secara kuat dapat menumbuhkan kebanggaan kolektif atau membuat berbagai komponen masyarakat merasa satu. Identitas kolektif seperti Pancasila, yang sebelumnya dipercaya sebagai sumber perekat bangsa, seperti kehilangan  makna, tenggelam oleh bangkitnya sentimen primordial yang cenderung eksklusif. Karena itu, pencarian kebanggaan kolektif merupakan kebutuhan yang mendesak sebagai upaya untuk merevitalisasi wawasan kebangsaan yang mulai menurun.
Namun, terlepas dari tiga tantang tersebut, hal pokok yang harus dipetik dan disepakati bahwa persatuan bangsa yang kita bangun tidak tersaji atas landasan dan kepentingan etnik, maupun primordialisme. Tidak juga bersifat temporer dan untuk waktu sementara. Persatuan nasional itu dibangun dan ditegakkan justru lebih didasari oleh landasan etik dan kesadaran bersama sebagai satu bangsa sehingga nilai-nilai etika kebangsaan yang menyangkut persatuan dan kesatuan terbangun cukup kuat untuk mengakomodasikan berbagai perbedaan dan bahkan konflik kepentingan.

(Penulis adalah Ketua DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sumbar)

Berita ini bermanfaat?
sekarang juga!

Polling Calon Walikota dan Calon Wakil Walikota Padang 2018-2023
Editor/Sumber: Rahmat Ilahi
Tag: opini,padang,sumatra-barat

SILAHKAN BERBAGI


REKOMENDASI


BE SMART, READ MORE

Saring Berita Hoax, Dinas Kominfo Padang Optimalisasi Peran KIM Melalui Bimtek

Saring Berita Hoax, Dinas Kominfo Padang Optimalisasi Peran KIM Melalui Bimtek

PADANG - Dinas Kominfo Kota Padang menggelar Bimbingan Tekhnis bagi 54 perwakilan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM)...

Fakultas Pariwisata UMSB Bukittinggi Go International

Fakultas Pariwisata UMSB Bukittinggi Go International

BUKITTINGGI - Penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding) antara Dekan Fakultas Pariwisata...

Partai Berkarya Ditetapkan Sebagai Peserta Pemilu 2019

Partai Berkarya Ditetapkan Sebagai Peserta Pemilu 2019

PASAMAN - Partai Berkarya ditetapkan sebagai peserta Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU),...

Detik-detik Ketua BM UI Di-skakmat Moeldoko dan Adian Napitupulu di Mata Najwa

Detik-detik Ketua BM UI Di-skakmat Moeldoko dan Adian Napitupulu di Mata Najwa

NASIONAL - Aksi Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI), Zaadit Taqwa minggu lalu mendapat...

Stand Bukittinggi Ikut Ramaikan Minangkabau Summits di HPN 2018

Stand Bukittinggi Ikut Ramaikan Minangkabau Summits di HPN 2018

BUKITTINGGI - Hari Pers Nasional (HPN) 2018 yang dilangsungkan di Padang Sumatera Barat merupakan kesempatan bagi...


KOMENTAR ANDA



kaos minang unik dan lucu
minangkabaunews social media