Tuesday, 31 Mar 2020
Minangkabaunews
headline
home berita Editorial

Cipratan SPJ Fiktif kepada Gubernur, Media adalah Kawan Bukan Musuh yang Harus Diperangi

Senin, 23 April 2018 - 23:15:24 WIB - 700
Cipratan SPJ Fiktif kepada Gubernur, Media adalah Kawan Bukan Musuh yang Harus Diperangi
Gubernur sumbar laporkan sebuah media di padang


EDITORIAL -- Reaksi Berlebihan dari Gubernur Sumbar Irwan Prayitno terhadap kasus SPJ Fiktif dengan terdakwa Yusafni Ajo menyedot perhatian masyarakat. Laporan gubernur ke Polda karena kecipratan kasus SPJ Fiktif, Gubernur tidak paham dengan kerja pers dalam menyajikan informasi berita, seharusnya persolan bisa diselesaikan dengan hak jawab dengan mediasi yang difasilitasi Dewan Pers. Sehingga akhirnya menimbulkan gerakan anti Irwan Prayitno Lawan IP.

Media adalah pilar demokrasi. Peran penting media setara dengan organisasi masyarakat sipil, lembaga peradilan, legislatif, maupun eksekutif. Media adalah mitra kritis pemerintah dalam berdemokrasi. Jika salah satu tidak bekerja dengan baik, maka ekosistem politik pasti akan terganggu.

Jika ada sengketa di antara pilar demokrasi, jelas ada metodenya masing-masing untuk menyelesaikan persoalan. Untuk silang pendapat media dan pemerintah, penyelesaian di Dewan Pers sudah menjadi kesepakatan di dalam Undang-Undang. Elit harusnya sudah paham aturan main tersebut. Apalagi, pejabat yang pernah duduk di legislatif pastinya lebih paham.

Tindakan Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno yang melaporkan media Harian Haluan ke Polda Sumatera Barat, Gubernur tidak paham mengenai konsep pilar demokrasi. Kedua, gubernur tidak paham tentang sistem kerja pers yang diatur dalam UU no.40 tahun 1999 tentang Pers

Sebagai ninik mamak warga Sumbar, Gubernur tidak memberikan teladan yang baik kepada anak kemenakan. Jika semua kepala daerah yang dikritik oleh media melaporkan kepada polisi, pemerintahan lokal tingkat kabupaten dan kota bisa tidak berjalan efektif. Kritik sudah menjadi sebuah dugaan kriminal.

Sekali lagi, ini bukan soal hukum. Ada seorang pemimpin melupakan etika, yang harus sama-sama kita ingatkan agar semakin dicintai rakyat. Harusnya, media kritis dipelihara agar bisa menjadi kucing yang membasmi tikus-tikus yang bersarang.

Oleh Karena itu Gubernur Sumbar paham dengan kerja pers dan sebagai ninik mamk sudah seharusnya mengayomi dan membina anak kemenakan, musyawarah mufakat. Gubernur harusnya lebih mengedepankan aspek argumentasi. Tentunya, itu adalah tanggung jawab akademik untuk memberikan pendidikan politik kepada media. Media adalah kawan, bukan musuh yang harus diperangi. (***)

Editor/Sumber: Rahmat Ilahi (Rijoe)
Tag: hukum,indonesia,padang,politik,sumatra-barat

SILAHKAN BERBAGI


BE SMART, READ MORE

Antisipasi Penyebaran Covid-19, Padang Anggarkan Rp4 Miliar

Antisipasi Penyebaran Covid-19, Padang Anggarkan Rp4 Miliar

PADANG - Pemerintah Kota Padang mengucurkan anggaran sebesar Rp4 miliar untuk mengatasi penyebaran Virus Corona atau...

Menang Dramatis, PSP Padang Boyong Piala Soeratin U-15 ke Ranah Minang

Menang Dramatis, PSP Padang Boyong Piala Soeratin U-15 ke Ranah Minang

PADANG - Sebuah sejarah ditorehkan klub Persatuan Sepakbola Padang (PSP) U-15 yang mampu membawa harum Ranah Minang di...

Polres Bukittinggi Sebarkan Maklumat Kapolri Melalui Spanduk di Fasum

Polres Bukittinggi Sebarkan Maklumat Kapolri Melalui Spanduk di Fasum

BUKITTINGGI -- Jajaran Polres Bukittinggi dan Polsek melakukan Spanduk Maklumat Kapolri di Fasilitas umum Wilayah Hukum...

Inilah 15 Rumah Sakit Rujukan Penanganan Covid-19 di Sumbar

Inilah 15 Rumah Sakit Rujukan Penanganan Covid-19 di Sumbar

PADANG -- Pemerintah Provinsi Sumbar telah menyiapkan 8 rumah sakit rujukan untuk menangani pasien covid-19. Hal...

Covid-19 Mengkhawatirkan, Polres Mentawai Perketat Pemeriksaan dan Pengawasan Setiap Kapal Masuk

Covid-19 Mengkhawatirkan, Polres Mentawai Perketat Pemeriksaan dan Pengawasan Setiap Kapal Masuk

MENTAWAI -- Menanggapi Virus Corona yang saat ini merebak, Kapolres Kepulauan Mentawai AKBP Dody Prawiranegara...


KOMENTAR ANDA



kaos minang unik dan lucu