Thursday, 27 Jun 2019
Minangkabaunews
headline
home berita Editorial

Cipratan SPJ Fiktif kepada Gubernur, Media adalah Kawan Bukan Musuh yang Harus Diperangi

Senin, 23 April 2018 - 23:15:24 WIB - 506
Cipratan SPJ Fiktif kepada Gubernur, Media adalah Kawan Bukan Musuh yang Harus Diperangi
Gubernur sumbar laporkan sebuah media di padang


EDITORIAL -- Reaksi Berlebihan dari Gubernur Sumbar Irwan Prayitno terhadap kasus SPJ Fiktif dengan terdakwa Yusafni Ajo menyedot perhatian masyarakat. Laporan gubernur ke Polda karena kecipratan kasus SPJ Fiktif, Gubernur tidak paham dengan kerja pers dalam menyajikan informasi berita, seharusnya persolan bisa diselesaikan dengan hak jawab dengan mediasi yang difasilitasi Dewan Pers. Sehingga akhirnya menimbulkan gerakan anti Irwan Prayitno Lawan IP.

Media adalah pilar demokrasi. Peran penting media setara dengan organisasi masyarakat sipil, lembaga peradilan, legislatif, maupun eksekutif. Media adalah mitra kritis pemerintah dalam berdemokrasi. Jika salah satu tidak bekerja dengan baik, maka ekosistem politik pasti akan terganggu.

Jika ada sengketa di antara pilar demokrasi, jelas ada metodenya masing-masing untuk menyelesaikan persoalan. Untuk silang pendapat media dan pemerintah, penyelesaian di Dewan Pers sudah menjadi kesepakatan di dalam Undang-Undang. Elit harusnya sudah paham aturan main tersebut. Apalagi, pejabat yang pernah duduk di legislatif pastinya lebih paham.

Tindakan Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno yang melaporkan media Harian Haluan ke Polda Sumatera Barat, Gubernur tidak paham mengenai konsep pilar demokrasi. Kedua, gubernur tidak paham tentang sistem kerja pers yang diatur dalam UU no.40 tahun 1999 tentang Pers

Sebagai ninik mamak warga Sumbar, Gubernur tidak memberikan teladan yang baik kepada anak kemenakan. Jika semua kepala daerah yang dikritik oleh media melaporkan kepada polisi, pemerintahan lokal tingkat kabupaten dan kota bisa tidak berjalan efektif. Kritik sudah menjadi sebuah dugaan kriminal.

Sekali lagi, ini bukan soal hukum. Ada seorang pemimpin melupakan etika, yang harus sama-sama kita ingatkan agar semakin dicintai rakyat. Harusnya, media kritis dipelihara agar bisa menjadi kucing yang membasmi tikus-tikus yang bersarang.

Oleh Karena itu Gubernur Sumbar paham dengan kerja pers dan sebagai ninik mamk sudah seharusnya mengayomi dan membina anak kemenakan, musyawarah mufakat. Gubernur harusnya lebih mengedepankan aspek argumentasi. Tentunya, itu adalah tanggung jawab akademik untuk memberikan pendidikan politik kepada media. Media adalah kawan, bukan musuh yang harus diperangi. (***)

Editor/Sumber: Rahmat Ilahi (Rijoe)
Tag: hukum,indonesia,padang,politik,sumatra-barat

SILAHKAN BERBAGI


REKOMENDASI


BE SMART, READ MORE

Breaking News : Kantor Baznas Padang Pariaman Dilalap Si Jago Merah

Breaking News : Kantor Baznas Padang Pariaman Dilalap Si Jago Merah

Padang Pariaman - Si jago Merah mengamuk kembali, kali ini amukannya menghanguskan Kantor Baznas Padang Pariaman yang...

Tourism Malaysia Sasar Market Sumatera Barat

Tourism Malaysia Sasar Market Sumatera Barat

PADANG -- Minat masyarakat Sumbar berlibur ke Malaysia makin tinggi. Peluang ini ditangkap sejumlah pelaku tourism...

Hari Ini, UMSB Gelar Wisuda Ke-64 di Gedung Sendiri

Hari Ini, UMSB Gelar Wisuda Ke-64 di Gedung Sendiri

PADANG -- Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit menghadiri wisuda akbar Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat angkatan 64...

Koto Panjang Wakili Kota Padang Panjang Ikuti Penilaian Kelurahan Berprestasi tahun 2019

Koto Panjang Wakili Kota Padang Panjang Ikuti Penilaian Kelurahan Berprestasi tahun 2019

PADANG PANJANG - Tim penilai kelurahan berprestasi tingkat Provinsi Sumatera Barat mengunjungi Kelurahan Koto Panjang,...

Sidang Perdana Pidana Pemilu Coblos Lebih dari Satu Kali di PN Batusangkar

Sidang Perdana Pidana Pemilu Coblos Lebih dari Satu Kali di PN Batusangkar

TANAH DATAR -- Kasus dugaan pelanggaran pidana pemilu dengan tersangka DO dengan agenda sidang perdana digelar di...


KOMENTAR ANDA



kaos minang unik dan lucu
minangkabaunews social media