Friday, 19 Apr 2019
Minangkabaunews
headline
home berita Olahraga

Di Tangan Mahyeldi, Pasar Raya Jadi Rancak

Minggu, 29 April 2018 - 19:28:28 WIB - 1349
Di Tangan Mahyeldi, Pasar Raya Jadi Rancak
Pasar Raya Padang


Oleh: Hezly Harun

Pasar Raya Padang dulu "bacilapuik" (kotor). Ketika itu, pembeli enggan berlama-lama ke pasar. Main praktis saja. Begitu turun dari kendaraan, bisa langsung belanja. Tak mau masuk hingga ke dalam pasar.

Pedagang begitu pula. Melihat konsumen enggan masuk ke dalam, pedagang berjualan di bagian depan pasar. Bahkan ada yang sengaja berdagang di pinggir jalan agar berjualbeli.

Pasar Raya memang kotor ketika itu. Jika hujan sedikit, berlumpur. Masuk pasar harus berjinjit. Takut kaki kotor terkena lumpur. Selain becek dan berlumpur, bau pun menyengat. Kadang ada juga pembeli yang harus menutup hidung sambil menawar barang yang akan dibeli.

Kendaraan pun keluar masuk seenaknya. Pasar Raya Padang benar-benar kusut masai. Terlebih setelah gempa besar melanda Padang pada 2009 silam. Setelah itu pasar seperti roda yang kehilangan sumbu. Tak bergerak. Pedagang seakan frustasi. Banyak yang gulung tikar. Bahkan ada yang pindah usaha ke luar Padang.

Tidak saja di Pasar Raya Padang. Pusat grosir yang dulu berada di belakang Plaza Andalas juga mengalami hal serupa. Sentral Pasar Raya (SPR) yang digadang-gadang mampu membangkitkan perekonomian justru malah sebaliknya. Banyak pedagang yang enggan beejualan di sana. Apalagi saat itu, Padang "kehilangan" terminal angkutan kota.

Kondisi seperti ini berlangsung cukup lama. Pembeli lebih memilih berbelanja ke Bukittinggi atau Pekanbaru. Alibatnya, Usaha Kecil Menengah (UKM) tidak mampu menjadi raja di daerahnya sendiri.

Pada 2015 lalu, kondisi seperti ini lekas disikapi pemerintah. Tak ingin warganya larut dengan kondisi demikian, H. Mahyeldi Ansharullah kemudian membenahi pasar. Langkah pertama yang dilakukan yakni menata pedagang. Pedagang yang berjualan ke tengah jalan di depan Kopass Plaza disuruh mundur. Garis putih sebagai pembatas pun dibuat. Pedagang hanya boleh berjualan pada sore hari. Ini semua dilakukan Mahyeldi untuk menumbuhkan kesadaran dan kedisiplinan para pedagang.

Seiring dengan itu, Mahyeldi juga membangun fisik pasar. Gedung pasar yang sudah ringkih diganti dengan yang baru. Revitalisasi Pasar Raya pun dimulai. Gedung lama berubah seperti mall megah dengan corak warna yang kontras. Blok I, II, III dan IV pun langsung berganti wajah.

Sejak diresmikan beberapa bulan lalu, Pasar Raya Padang telah jauh berubah. Mahyeldi yang merupakan sosok pemimpin visioner mampu mengubah pasar dalam waktu sekejap. Pasar tidak lagi becek karena setiap jalan yang ada di dalam pasar sudah diaspal hotmix. Pedagang tidak ada lagi yang bejualan di pinggir jalan. Semua tertata rapi dengan kemauan dan kooperatifnya para pedagang dalam berjualan.

Gedung pasar bak mall megah itu tidak saja sebagai tempat berdagang. Tetapi juga menjadi tempat parkir kendaraan. Lantai atas bangunan dijadikan lokasi parkir sehingga tidak ada lagi kendaraan yang menaruh kendaraan di pinggir jalan.

Pedestrian di Pasar Raya pun ikut dibangun untuk memanjakan pejalan kaki. Di sisi kiri dan kanan jalan dibangun pedestrian yang cukup luas. Pedestrian ini terus memanjang hingga ke jalan Permindo. Yang paling membanggakan, pedagang di sekitar ini pun kooperatif dan inovatif. Mereka turut mendukung pembangunan fisik di kawasan Permindo. Hasilnya, ribuan payung kecil pun digelantungkan di langit-langit atas pedestrian. Hal ini menambah indahnya kawasan tersebut.

"Iyo lah rancak pasa raya kini," ungkap Taufik Rahman, perantau yang baru saja pulang dari Jakarta.

Usaha tak kenal lelah ini dilakukan Mahyeldi beserta jajaran kerja di Pemko Padang sejak setelah dilantik sebagai walikota. Begitu dilantik, Mahyeldi langsung memikirkan bagaimana cara agar perekonomian pasar kembali menggeliat. Mahyeldi tak segan-segan terjun langsung ke tengah-tengah pedagang sambil mendengarkan aspirasi dan keluhan pedagang. Dan tak heran pula warga kerap menjumpai Mahyeldi di pasar. Semua dilakukan untuk menyerap keluhan pedagang dan menata kondisi pasar. Termasuk menumbuhkan kesadaran dan membangun karakter pedagang agar disiplin dalam berjualan.

"Sekarang tak perlu lagi menyingsingkan celana kalau ke pasar," kata Mahyeldi.

Membangun Pasar Raya Padang membutuhkan biaya yang cukup besar. Untuk membangun Blok I, II, III, dan IV menelan biaya sebesar Rp 247 miliar lebih.
Semua itu belum termasuk dana operasional dan rehab bangunan seperti penambahan akses dan pembangunan tangga di Blok II dan IV yang menelan biaya hingga ratusan juta rupiah.

Pembsngunan untuk Blok I menghabiskan dana Rp64 miliar yang bersumber dari APBD Kota Padang. Blok II menghabiskan Rp72 miliar yang bersumber dari APBD Provinsi. Blok III menghabiskan Rp87,5 miliar yang bersumber dari ABPD Kota Padang. Blok IV menghabiskan Rp23,7 miliar yang bersumber dari APBD Kota Padang dan Dana TP.

Khusus untuk Blok I, Pemerintah Kota Padang saat ini tengah melakukan kajian untuk pembangunan tangga naik dari arah Jalan Sandang Pangan langsung ke Lantai II Blok I. Mahyeldi mengatakan secara keseluruhan jumlah petak kios dan meja batu di Blok I sampai Blok IV mencapai 3.025 petak.

Di samping untuk menampung eks pedagang Inpres I, II, III, IV bangunan baru juga dilengkapi dengan shelter evakuasi tsunami. Tempat parkir sementara di Blok III Lantai 3 juga akan dijadikan Pusat Perdagangan dengan menempatkan produk unggulan 19 kabupaten dan kota di Sumatera Barat. Lalu akan ada Kantor Lurah Kampung Jao. Di Lantai 4 juga dilakukan kajian untuk dijadikan mall pelayanan publik.

"Ditargetkan pada 2019 seluruh pasar-pasar pembantu sudah selesai di revitalisasi," tutur Mahyeldi.

Mahyeldi mengatakan, di Pasar Raya terdapat 3.000 lebih pedagang yang beragam, mulai dari berdagang sayur-sayuran, beras, daging sapi, ayam potong, dan komiditas lainnya.

Mahyeldi telah memperlihatkan hasil lewat kinerjanya yang tak kenal lelah. Empat tahun sebagai walikota, Mahyeldi mampu membangun Padang dengan lugas tanpa banyak bicara. Kerendahan hati yang dimiliki Mahyeldi selalu terjaga. Baginya, bekerja adalah dengan usaha, bukan dengan banyak bicara. Apalagi Islam melarang umat-Nya untuk tidak sombong dengan apa yang telah dilakukan.

*/ Penulis adalah pemerhati perdagangan dan industry berdomisili di Medan

Polling Capres cawapres 2019-2024
Editor/Sumber: Rahmat Ilahi
Tag: opini,padang,sumatra-barat,tokoh

SILAHKAN BERBAGI


REKOMENDASI


BE SMART, READ MORE

Perdana, SMPN 5 Padang Panjang Luncurkan Majalah Hi-Five

Perdana, SMPN 5 Padang Panjang Luncurkan Majalah Hi-Five

PADANG PANJANG - Melalui gerakan Literasi, SMPN 5 Padang Panjang berhasil meluncurkan Majalah Hi-Five Edisi...

Dialog Lintas Ormas, Parpol dan Media, Bawaslu Padang Pariaman Petakan Potensi Kerawanan Pemilu

Dialog Lintas Ormas, Parpol dan Media, Bawaslu Padang Pariaman Petakan Potensi Kerawanan Pemilu

PADANG PARIAMAN - Bawaslu Kabupaten Padang Pariaman kembali melakukan dialog terbuka dengan mengundang akademisi dan...

SD Negeri 03 Pakan Kurai Kota Bukittinggi Tingkatkan Prestasi Dengan Program Ini

SD Negeri 03 Pakan Kurai Kota Bukittinggi Tingkatkan Prestasi Dengan Program Ini

BUKITTINGGI - Meningkatkan mutu pendidikan akademis dan non akademis, inilah program yang dijalankan Sekolah Dasar...

Tarliasman Tutup Usia, Muhammadiyah Sumbar Kehilangan Mujahid Dakwah

Tarliasman Tutup Usia, Muhammadiyah Sumbar Kehilangan Mujahid Dakwah

PADANG - Kabar duka datang dari Tokoh Muda Muhammadiyah Tarliasman, meninggal dunia di UGD Rumah Sakit Stroke...

Sekda Pasaman: Kepala OPD Harus Punya Cara Pandang Positif Tentang Isu Gender

Sekda Pasaman: Kepala OPD Harus Punya Cara Pandang Positif Tentang Isu Gender

...


KOMENTAR ANDA



kaos minang unik dan lucu
minangkabaunews social media