Tuesday, 25 Sep 2018
Minangkabaunews
headline
home berita Opini

Tren Menjadi Pengemis Menjelang Lebaran

Selasa, 12 Juni 2018 - 20:20:49 WIB - 283
Tren Menjadi Pengemis Menjelang Lebaran
Ilustrasi pengemis (Foto: daerah.sindonews.com)


Oleh: Yudia Falentina, A.Md.

Bulan Ramadan merupakan bulan dimana segala amal perbuatan umat muslim dilipat gandakan oleh Allah SWT. Ramadan adalah bulan berkah, karena bisa mendapatkan rezeki berlimpah.

Saat Ramadan tiba, para pengemis berbondong-bondong menuju kota besar seperti Jakarta, Bandung, Bogor dan kota besar lainnya. Mereka berdatangan dari berbagai wilayah dengan usia beragam, ada yang masih bayi, sekolah dasar, ada juga yang sudah tua renda. Berharap mendapatkan belas kasihan dari para penderma.

Fenomena banjirnya pengemis saat Ramadan cukup meresahkan berbagai pihak. Di Jakarta misalnya, lonjakan pengemis hampir terjadi setiap tahun.

Banyaknya pengemis di jalanan memicu berbagai permasalahan dan tindakan kriminal lainnya, sebut saja masalah penipuan, perampokan, pelecehan seksual, dan kemacetan.

Telah sering diadakan razia terhadap para gepeng ini, namun tidak membuat efek jera bagi mereka. Bahkan ada pula yang sudah sering razia, tapi tetap kembali ke pekerjaannya semula.

Berbagai alasan membuat mereka menadahkan tangan, salah satunya dengan mengemis dapat banyak uang.

Dalam sehari bisa terkumpul Rp.100.000-Rp.200.000 pada hari biasa, jika dikalikan satu bulan mereka bisa meraup hasil Rp. 6.000.000. Jumlah yang besar, bahkan mengalahkan gaji pokok ASN golongan empat.

Menjelang Lebaran hasilnya pun meningkat berkali lipat, bisa membeli berkarung-karung ketupat. Mengemis merupakan pekerjaan yang mudah dilakukan, cukup bermodal pakaian lusuh dan kotak yang kumal mereka mampu mengumpulkan uang ratusan ribu rupiah per harinya.

Mereka tidak perlu sekolah tinggi dan kerja keras buat mendapatkan rupiah, wajar saja mereka enggan berhenti dari pekerjaan ini.

Akar Permasalahan Maraknya Pengemis di Jalanan

Maraknya pengemis pada bulan Ramadan merupakan kasus yang berulang. Berbagai cara pencegahan telah dilakukan, tapi usaha tersebut tidak mempan. Karena itu mencari akar permasalahan kudu penting dilakukan.

Penerapan sistem Kapitalistik di negara kita merupakan faktor penyebab utama permasalahan di negeri ini, termasuk soal pengemis.

Dalam dunia kapitalis yang berkuasa adalah yang punya modal, sehingga masyarakat tidak bisa berbuat banyak untuk memenuhi kebutuhannya. Siapa yang punya uang dialah yang menguasai pasar, sumber-sumber penghidupan seperti air, tanah dan barang-barang kebutuhan pokok.

Masyarakat yang tidak punya uang hanya bisa gigit jari, untuk berbisnis tidak punya nyali karena tidak ada yang membekingi. Susah memenuhi biaya hidup sehari-hari, apalagi kuliah sampai ke perguruan tinggi. Tidak percaya, tanya aja sama pak haji. Hihi.

Selain itu sikap menjauhkan agama dari kehidupan juga jadi pemicu permasalahan. Agama hanya dipakai ketika beribadah, tapi jauh dari agama ketika berada ditengah-tengah kehidupan.

Ini pula yang terjadi pada para pengemis, ada yang terpaksa mengemis karena memang fakir miskin dan jadi dan ada pula yang menjadikan ladang bisnis.

Bagi fakir miskin, memang tugas kita meringankan beban mereka. Namun mengemis sebagai ladang bisnis, membawa mereka pada sikap menghalalkan segala cara untuk mendapatkan simpati penderma. Ada yang berpura-pura cacat, korengan, buta, hamil tua, memanfaatkan balita dan cara-cara tercela lainnya. Tindakan seperti ini jelas bertentangan dengan nilai-nilai agama.

Solusi permasalahan

Islam mempunyai solusi yang ampuh dan mampu menjawab sampai keakar masalah. Dalam islam kekayaan alam yang memiliki deposit sangat besar tidak boleh dimiliki secara pribadi maupun keluarga. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, "manusia bersekutu dalam (memanfaatkan) tiga hal, yaitu air, padang gembalaan, dan api (energi)" (HR. Abu Daud. no 3479).

Kekayaan alam seperti hadis diatas tidak boleh dikuasai oleh seorang saja (privatisasi), harus dikuasai oleh negara dan didistribusikan secara merata pada seluruh rakyat indonesia. Tapi yang ada saat ini, justru yang menguasai hayat hidup orang banyak seperti penguasaan air minum, emas, sumber energi, dll telah dikelola oleh asing, negara indonesia hanya dapat beberapa persen saja, bagaimana rakyat mau sejahtera?.

Perbuatan pengemis (meminta-minta) adalah terlarang dalam Islam. "Barangsiapa yang meminta-minta kepada orang lain dengan tujuan untuk memperbanyak kekayaannya, sesungguhnya ia telah meminta bara api. Terserah padanya, apakah ia akan mengumpulkannya sedikit atau memperbanyaknya." (HR. Muslim no. 1041).

"Seseorang yang selalu meminta-minta kepada orang lain, di hari kiamat ia akan menghadap Allah dalam keadaan tidak sekerat daging sama sekali di wajahnya." (HR. Bukhari No. 1474 dan Muslim no. 1040).

"Sesungguhnya meminta-minta adalah topeng yang dikenakan pada dirinya sendiri, kecuali bila seseorang meminta kepada penguasa atau karena keadaan yang sangat memaksa." (HR. At Tirmidzi no. 681).

Ulama membolehkan mengemis jika dalam keadaan darurat, dan memakruhkan mengemis bagi orang yang mampu bekerja. Mengemis hukumnya makruh dengan tiga syarat yakni tidak menghinakan dirinya, tidak memaksa jika meminta dan tidak menimbulkan gangguan kepada penderma. Jika salah satu syarat diatas tidak dipenuhi, maka hukumnya menjadi haram menurut ulama.

Islam juga mengajarkan untuk menjaga Izzah dan Iffah. Izzah merupakan harga diri yang tinggi seorang muslim yang membuatnya tidak mau merendahkan diri hanya demi rupiah. Sedangkan Iffah merupakan rasa malu dalam taqwa termasuk rasa malu untuk meminta-minta.

Indonesia sebagai pemeluk Islam terbesar di dunia sudah saatnya kembali memperdalam nilai-nilai Islam bukan justru meninggalkan agama.

Kita lihat saat ini buah dari penjauhan nilai-nilai Islam dari kehidupan semakin memperparah keadaan. Yang miskin umat islam. Yang jorok umat islam. Yang dicap teroris umat islam. Yang bodoh umat islam. Dan posisi yang tidak mengenakkan lainnya.

Islam sebagai rahmatan lil alamin, mampu menjawab semua permasalahan manusia, dengan syarat manusia mau tunduk dan patuh kepadaNya. Termasuk dalam penanggulangan pengemis, islam adalah solusi yang tepat, agar mereka tidak kembali ditangkap aparat. Wallahu alam bishawab. (*)


Penulis adalah Penyuluh Kehutanan PNS Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat, dengan wilayah kerja di Kabupaten Solok Selatan dan Anggota grup menulis di beberapa komunitas menulis. Email: yudiafalentina@ymail.com, Telp: 081363879196


Editor/Sumber: Reza s.
Tag: hukum,indonesia,metro,nasional,opini

SILAHKAN BERBAGI


REKOMENDASI


BE SMART, READ MORE

Pasca jadi Ketua Timses Jokowi, Erick Thohir Singgung Persahabatannya dengan Sandiaga Uno

Pasca jadi Ketua Timses Jokowi, Erick Thohir Singgung Persahabatannya dengan Sandiaga Uno

POLITIK - Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Maruf, Erick Thohir mengatakan, proses pemenangan pasangan yang...

Wakil Bupati Pasaman Buka Pencanangan Kampung KB dan Bulan Bakti TNI

Wakil Bupati Pasaman Buka Pencanangan Kampung KB dan Bulan Bakti TNI

PASAMAN - Wakil Bupati Pasaman membuka acara pencanangan Kampung KB dan Bulan Bakti TNI-KB-Kesehatan tingkat Kabupaten...

Mendikbud Muhajir Effendy Akan Membuka Indonesian Cultural Festival 2018 di Azerbaijan

Mendikbud Muhajir Effendy Akan Membuka Indonesian Cultural Festival 2018 di Azerbaijan

AZERBAIJAN - Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Azerbaijan akan menyelenggarakan Indonesian Cultural Festival...

Prabowo-Sandi Didukung Ijtima Ulama II, Begini Reaksi Jokowi

Prabowo-Sandi Didukung Ijtima Ulama II, Begini Reaksi Jokowi

POLITIK - Presiden Joko Widodo menanggapi hasil Ijtima Ulama II yang menyatakan mendukung pasangan Prabowo...

Berantas TB di Padang, SSR TB-HIV Aisyiyah Care Lakukan Ini

Berantas TB di Padang, SSR TB-HIV Aisyiyah Care Lakukan Ini

PADANG -- Tim SSR TB-HIV Care Aisyiyah Padang menggelar capacity building of CSO 3-4 management programmatic dan...


KOMENTAR ANDA



Polling Capres cawapres 2019-2024 kaos minang unik dan lucu
minangkabaunews social media