Wednesday, 19 Feb 2020
Minangkabaunews
headline
home berita Teknologi

Mengenal Teknologi Combine Multikomoditas yang Dapat Mudahkan Petani Panen Jagung dan Padi

Kamis, 28 Juni 2018 - 19:24:10 WIB - 804
Mengenal Teknologi Combine Multikomoditas yang Dapat Mudahkan Petani Panen Jagung dan Padi
Mesin Combine Multikomoditas. (Foto: Dok. Istimewa)


PADANG - Kebutuhan akan penggunaan mesin panen khususnya jagung sudah tidak bisa ditunda lagi seiring berkurangnya tenaga panen di daerah. Karena itu, Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan) membuat Combine Multikomoditas. Menariknya, combine ini juga bisa digunakan dalam pemanenan padi sehingga lebih efektif.

Selama ini, proses pemipilan menjadi bagian kritis dalam pascapanen jagung dan potensi kehilangan hasilnya bisa mencapai 8 persen. "Proses pemanenan umumnya juga dilakukan secara manual sehingga membutuhkan waktu yang lama dan tenaga kerja yang tidak sedikit. Jadinya agak sulit untuk memenuhi kebutuhan permintaan jagung yang tinggi," ungkap perekayasa mesin dari Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan), Sigit Triwahyudi, Kamis (28/6).

Karena itu, BBP Mektan mengadopsi mesin panen melalui kegiatan redesign dan reversed engineering dari mesin combine harvester mesin padi. Modifikasi pada bagian pengarah (reel guide), pisau statis, perontok (threshing) dan bagian pembersih (cleaning) dengan menggunakan bantuan software CAD.

Adapun prinsip kerja mesin combine harvester melalui beberapa tahapan sebagai berikut: 1) menggaet dan mengarahkan tanaman menuju bagian pemotong (reel), 2) memotong batang jagung (cutting platform), 3) merontokkan bulir jagung dari tongkolnya (threshing), 4) memisahkan jagung dan kotoran (separation and cleaning), dan 4) memotong atau menghancurkan batang jagung (chopping).

Mesin ini memiliki spesifikasi dimensi 4.350 x 2.270 x 2.280 mm, bobot 2.150 Kg, lebar kerja 160 cm denggan 3 baris pemotongan tanaman jagung, tenaga penggerak motor diesel 43 HP, serta menggunakan roda krepyak (Crawler) dari karet sehingga cocok digunakan untuk lahan agak basah maupun lahan kering.

Hasilnya, mesin pemanen ini mampu digunakan selama ,5 - 10,56 jam/ha pada kecepatan kerja 1,1 - 1,50 km/jam, tingkat kebersihan antara 96,03 - 99,74%, tingkat kerusakan biji antara 0,52 - 1,70% dan susut hasil (losses) berkisar antara 2,50 - 2,79%.

Modifikasi Kedua

Meskipun telah berhasil membuat mesin combine yang efisien, perekayasa dari BPP Mektan terus berusaha membuat modifikasi mesin combine yang lebih efisien. Dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas kerja <6 jam/ha dengan mempercepat kecepatan maju combine diatas 2 km/jam. "Kita sebut mesin pertama itu sebagai prototype 1 dan kita sedang buat prototype 2 dengan modifikasi tertentu," tutur Sigit.

Adapun modifikasi pada prototipe II dilakukan dengan mengganti pisau statis dengan memajukan posisi cutter bar 400 mm dari posisi awal. Alat ini kemudian dilakukan ujicoba untuk mengetahui kinerja mesin secara nyata dilapangan dengan beberapa kondisi lahan yang berbeda. Uji kinerja prototipe mesin panen dilakukan di Jateng dan Banten.

Pada pengujian unjuk kerja di Klaten (Jateng), pada kondisi kadar air jagung 25,27%, didapatkan kapasitas kerja sebesar 5,09 jam/ha pada kecepatan kerja 2,24 km/jam, dengan kondisi hasil panen tingkat kebersihan 99,66%, tingkat kerusakan biji 1,20% dan susut hasil (losses) sebesar 2,58%.

Sedangkan dari uji di Grobogan (Jateng) dihasilkan kondisi kadar air jagung 24,95 % dengan kondisi jagung dipotong pucuknya. Didapatkan kapasitas kerja sebesar 5,36 jam/ha pada kecepatan kerja 2,22 km/jam, dengan kondisi hasil panen tingkat kebersihan 99,47%, tingkat kerusakan biji 1,29% dan susut hasil (losses) sebesar 2,84%.

Pada pengujian di kabupaten Serang Banten pada kondisi kadar air jagung 28,5 % dengan kondisi tanaman jagung masih ada pucuknya. Didapatkan kapasitas kerja sebesar 5,77 jam/ha pada kecepatan kerja 2,14 km/jam, dengan kondisi hasil panen tingkat kebersihan 97,70%, tingkat kerusakan biji 1,70% dan susut hasil (losses) sebesar 2,92%.

Pada Prototipe II ini, Combine juga bisa digunakan untuk memanen padi tanpa perlu dilakukan modifikasi. Ketika digunakan untuk memanen padi dengan kadar air sebesar 22,6% dan kecepatan kerja pemanenan rata-rata 2,47 km/jam didapatkan kapasitas kerja sebesar 4,19 jam/ha, susut hasil 2,47% dan tingkat kebersihan 98,5%.

Teknologi ini telah siap dikembangkan dikomersialisasikan dengan bekerjasama dengan 3 perusahaan mitra lisensi : PT. Rutan, CV. Adi Setia Utama Jaya dan PT. Bhirawa Megah Wiratama. (rel)

Loading...
Editor/Sumber: Ikhlas Bakri
Tag: bisnis,ekonomi,indonesia,nasional,padang,sumatra-barat,teknologi

SILAHKAN BERBAGI


BE SMART, READ MORE

Pemkab Solok Kejar PAD Menggunakan NVA Melalui E-Chanel Bank Nagari Dan AED

Pemkab Solok Kejar PAD Menggunakan NVA Melalui E-Chanel Bank Nagari Dan AED

KABUPATEN SOLOK - Pemerintah Daerah Kabupaten Solok kejar Pendapatan Asli Daerah (PAD) menggunakan Nagari Virtual...

Diduga Korsleting Listrik, 4 Ruangan SMKN 2 Payakumbuh Dilalap Si Jago Merah

Diduga Korsleting Listrik, 4 Ruangan SMKN 2 Payakumbuh Dilalap Si Jago Merah

PAYAKUMBUH - Empat ruangan SMKN 2 Payakumbuh dilalap si jago merah, Senin pagi (3/2/2020) sekira pukul 5.30...

Agam Mendapatkan Peringkat Pertama IKP di Sumbar

Agam Mendapatkan Peringkat Pertama IKP di Sumbar

AGAM - Kepala Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan (DPKP), Agam, Ermanto mengungkapkan Kabupaten Agam mendapat...

Padang Dilanda 777 Bencana Alam Selama 2019, Pohon Tumbang Mendominasi

Padang Dilanda 777 Bencana Alam Selama 2019, Pohon Tumbang Mendominasi

PADANG -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BNPB) Kota Padang menyebut jumlah bencana alam selama 2019 mencapai 777...

Diperkirakan Akan Telan Dana 2 Milyar, Mesjid Raya Talang Bakal Dibangun

Diperkirakan Akan Telan Dana 2 Milyar, Mesjid Raya Talang Bakal Dibangun

KABUPATEN SOLOK Tidak lama lagi, mesjid raya Talang akan dibangun di atas tanah wakaf salah seorang masyarakat Talang....


KOMENTAR ANDA



Loading...
kaos minang unik dan lucu
minangkabaunews social media