Sunday, 23 Sep 2018
Minangkabaunews
headline
home berita Opini

Dokter Muda, Nasib Mu Kini

Kamis, 12 Juli 2018 - 21:44:34 WIB - 9476
Dokter Muda, Nasib Mu Kini
dr. Hardisman, MHID, PhD


Oleh: dr. Hardisman, MHID, PhD

Bulan Juli setiap tahunnya merupakan waktu berakhirnya tahun ajaran pendidikan dan akan dimulainya tahun ajaran berikutnya. Bagi lulusan SLTA saatnya mereka memilih jurusan yang diminati untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Melanjutkan studi setelah SLTA tentunya sangat berbeda dengan melanjutkan studi dari jenjang sekolah dasar ke sekolah menengah pertama atau dari sekolah menengah pertama ke jenjang menengah atas. Pemilihan program studi di perguruan tinggi sangatlah erat kaitannya dengan pemilihan karir dan profesi masa depan, terutama untuk pendidikan yang terkait dengan profesi.

Pendidikan Dokter: Prestasi atau Prestise

Program Studi Pendidikan Dokter atau Fakultas Kedokteran, hingga saat ini masih menjadi salah satu pilihan favorit para lulusan SLTA. Bahkan hingga tahun 2018 ini, persentase nilai kelulusan atau "passing grade" Program Studi Pendidikan Dokter tetap menjadi yang teratas, atau minimal tiga teratas dibandingkan prodi lain di universitas yang sama. Meskipun ada jumlah peminat program lain yang sempat melonjak dalam sepuluh tahun terakhir, namun akhirnya juga surut dan bahkan sepi peminat, misalnya program studi yang terkait IT dan pertambangan. Namun, peminat dan persaingan untuk diterima pada Program Studi Pendidikan Dokter tetap stabil dan ketat.

Bahkan bagi orang tua yang sangat menginginkan anaknya jadi dokter, berusaha pada setiap seleksi masuk pada perguruan tinggi; mulai dari SNMPTN, lalu bila tidak lulus ikut SBMPTN, dan bila tidak juga berusaha semaksimal mungkin di Seleksi Mandiri atau masuk di Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Hal ini tidaklah dapat dipungkiri, karena sebagian pandangan di masyarakat, menjadi dokter adalah "sesuatu banget" yang berbeda dengan profesi lain. Bagi sebagian orang tua, ada "prestise" dengan kebanggaan tersendiri bagi mereka bila anaknya menjadi dokter. Demi masa depan anak, tentu orang tua berusaha sekuatnya, termasuk dalam hal finansial sekalipun; ibarat pepatah Minangkabau "Indak ado kayu, janjang dikapiang; indak ado ameh, bungka diasah."

Apakah Harapan Cerah itu Masih Ada?

Adalah sebuah keniscayaan, bahwa bagi orang tua yang sangat menginginkannya anaknya menjadi dokter dengan harapan masa depannya lebih baik dan hidupnya lebih "terpandang". Juga tidak salah, masyarakat tentu membayangkan hidup yang layak dan berkecukupan bagi dokter berdasarkan pengalaman dan apa yang dilihatnya pada dokter-dokter spesialis senior.

Dokter yang tamat dua puluh atau tiga puluhan tahun yang lalu, sangatlah berbeda situasinya dengan saat ini. Pada saat itu jumlah dokter sedikit dan kebutuhan secara nasional sangat tinggi. Sehingga, setiap dokter yang tamat langsung akan mendapatkan tempat sebagai pimpinan Puskesmas, diminta oleh Rumah Sakit, atau bahkan ditawarkan untuk masuk sebagai perwira militer. Para dokter senior saat ini sudah berpendikan spesialisasi atau dengan jabatan yang sudah matang yang terlihat oleh masyarakat sebagai profesi yang sangat mapan.

Apakah pendidikan dokter dan profesi dokter masa depan itu secerah yang dibayangkannya? Atau masih adakah harapan cerah itu bagi para dokter muda?

Banyak hal yang harus diketahui oleh masyarakat tentang perubahan dan perkembangan sistem serta regulasi yang ada pada Pendidikan kedokteran untuk menjawab banyak pertanyaan-pertanyaan tersebut. Masyarakat terutama orang tua mahasiswa kedokteran perlu memahami konteks saat ini pada pendidikan dan profesi dokter, sehingga harapannya menjadi proporsional terhadap masa depan anaknya.

Pertama, jumlah lulusan dokter yang relatif banyak dan persaingan semakin tinggi. Saat ini berdasarkan data di Lembaga Akreditasi Mandiri Perguruan Tinggi Kesehatan (LAMPT-Kes) ada 86 Fakultas Kedokteran atau Program Studi Pendidikan Dokter di Indonesia, dengan 20 terakreditasi A, 44 terakreditasi B, dan sisanya terakreditasi C dan dalam proses akan diakreditasi. Jika setiap institusi mengikuti aturan yang ada rata-rata akan ada 100 lulusan dokter baru pada setiap institusi, dengan jumlah 8.600 lulusan dokter setiap tahunnya. Angka ini tentunya adalah prediksi minimal, karena meskipun sudah ada regulasi yang tegas tentang kuota penerimaan (Permenristekdikti No.43/2017), banyak institusi yang menerima jauh diatas ketentuan. Akhirnya, banyaknya lulusan dokter baru akan menjadikan persaingan semakin tinggi, karena mamang peluang kerja juga semakin menurun.

Kesempatan kerja dokter jelas sangat berkurang karena memang jumlah dokter yang ada saat ini pada sebagian besar daerah dan wahana layanan kesehatan sudah terpenuhi. Berdasarkan data Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) awal tahun 2018 ada 198.198 dokter, dengan 127.667 dokter praktek umum, 36.292 dokter spesialis, dan sisanya dokter gigi. Dengan jumlah penduduk Indonesia 255 juta jiwa, maka rasio dokter praktek umum saja sudah 1:2.000, yang berarti sudah mencukupi untuk kebutuhan minimal rata-rata nasional sesuai rekomendasi WHO (minimal 1:2500). Meskipun dengan peningkata target rasio dokter 1:1.000, untuk medekati negara tetangga, dokter masih diperlukan.

Kesempatan kerja semakin berkurang dan persaingan semakin tinggi juga diakibatkan oleh distribusi dokter yang tidak merata, yang disertai pula kecendrungan pilihan lokasi bekerja lulusan baru. Lebih banyak dokter muda yang memilih untuk bekerja di kota besar dibandingkan dengan daerah terpencil, padahal di kota-kota besar sudah terjadi kelebihan dan terjadi penumpukan dokter. Misalnya, rasio dokter per-jumlah penduduk di DKI Jakarta saat ini sudah 1:608, sedangkan rata-rata di Sulawesi Barat 1:10.400.

Kedua, adalah lamanya waktu pendidikan dan waktu yang dibutuhkan untuk bisa menjalankan profesi.
Dalam batasan normal, pendidikan kedokteran sudah lebih lama dari pendidikan sarjana lainnya karena memang Pendidikan kedokteran adalah Pendidikan akademik dan profesi dalam dua tahap sekaligus. Pada tahapan akademik untuk mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked), dibutuhkan waktu 3,5-4 tahun, selanjutnya dibutuhlan lagi 2 tahun untuk tahapan profesi atau kepaniteraan klinik, dengan melakukan praktek klinik di Rumah Sakit dan Wahana Kesehatan lainnya dibawah bimbingan.

Selanjutnya, sebagai amanat undang-undang praktek kedokteran (UU no.20/2013) bahwa setiap dokter yang telah lulus kepaniteraan klinik, harus lulus ujian kompetensi yang menjadi prasyarat untuk dinyatakan selesai studi dan wisuda (pasal 36). Oleh karena beragamnya kualitas pendidikan dokter yang tersebar di seluruh Fakultas Kedokteran di Indonesia, tingkat kelulusan ujian kompetensi ini juga beragam. Secara nasional, sangat sedikit para calon dokter itu lulus hanya dalam satu kali ujian (first taker).

Banyak diantara calon dokter tersebut yang mesti mengulang lebih tiga kali hingga sepuluh kali ujian. Hal berdampak langsung terhadap masa studi mereka, hingga banyak diantara mereka yang membutuhkan tambahan waktu 1-2 tahun lagi sejak selesai kepaniteraan klinik sampai bisa diambil sumpah dokter dan diwisuda. Bahkan Prof.Djoko Santoso (Guru Besar FK Unair) dalam Opini di Media Indonesia 7 Juli 2018, menyampaikan bahwa ada 2.500 dokter muda yang telah menganggur akibat tersangkut dengan masalah ini.

Lalu, selesai wisuda bukan berarti seorang dokter bisa mencari kerja dan praktek mandiri. Keragaman kompetensi lulusan dokter dari berbagai institusi, kesetaraan dengan sistim internasional, serta amanat undang-undang mengharuskan dokter baru menjalankan internship di Rumah Sakit dan wahana kesehatan lainnya yang ditentukan pemerintah selama satu tahun (UU 20/2013 pasal 38).

Intersnhip memang dihitung sebagai masa kerja dan diberikan bantuan finansial, namun rencana pengembangan karir atau mendapatkan registrasi izin praktek mandiri baru bisa dilakukan oleh dokter-dokter muda ini setelah menjalani kewajiban intersnhipnya. Tambahan lagi, dengan makin banyaknya jumlah lulusan baru pada tahun-tahun yang akan datang maka masa tunggu internship akan semakin lama.

Proses pendidikan yang Panjang, penuh rintangan dan berliku maka minimal seorang dokter muda perlu waktu dari sejak awal studi, lulus ujian kompetensi, internship, selesai internship, semua waktu masa tunggu, dan mendapatkan STR defnitif minimal selama 8 tahun. Kembali ke pertanyaan semula, "Masih adakah harapan cerah bagi profesi dokter dan dokter muda itu?" Tentu jawabannya bisa "Ya" bisa "Tidak" bagaimana sikap dan peranan mahasiswa calon dokter itu, serta penataan sistem pendidikan kedokteran yang sedang berjalan ini oleh pemangku kepentingan.

Lalu "Apa yang bisa dilakukan, bagaiaman praktisi Pendidikan, pemegang jabatan di kebijakan, dan masyarakat khususnya orang tua para calon dokter menyikapi hal ini?" Bersambung artikel selanjutnya (Mengurai Benang Kusut Pendidikan Kedokteran). (*)

Penulis adalah Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (FK-Unand) Padang, Ketua Program Pascasarjana Kesmas & Adm RS. Email: hardisman@fk.unand.ac.id

Polling Capres cawapres 2019-2024
Editor/Sumber: Ikhlas Bakri
Tag: metro,opini

SILAHKAN BERBAGI


REKOMENDASI


BE SMART, READ MORE

Jadi Pembina Upacara di SMA 16 Padang, Apris Ajak Para Siswa Contoh Kepribadian Rasulullah

Jadi Pembina Upacara di SMA 16 Padang, Apris Ajak Para Siswa Contoh Kepribadian Rasulullah

PADANG -- Anggota DPRD Prov.Sumbar Fraksi Partai NasDem daerah Pemilihan Sumbar I Kota Padang H. Apris menjadi pembina...

Puluhan Ribu Anak di Pariaman Difasilitasi Kartu KIA, Ini Penjelasan Disduk Capil

Puluhan Ribu Anak di Pariaman Difasilitasi Kartu KIA, Ini Penjelasan Disduk Capil

PARIAMAN -- Sekretaris Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Pariaman, Linda Osra mengatakan 30 ribu anak di kota...

Heboh Iklan Jokowi di Bioskop, Netizen: Merusak Suasana

Heboh Iklan Jokowi di Bioskop, Netizen: Merusak Suasana

POLITIK - Iklan pemerintah turut mewarnai layar bioskop. Iklan tentang kesuksesan pembangunan infrastruktur itu muncul...

Hasil Lengkap Pertandingan Liga Champions Kamis Dini Hari

Hasil Lengkap Pertandingan Liga Champions Kamis Dini Hari

BOLA - Sejumlah laga Liga Champions berlangsung dramatis dan sengit pada Kamis (20/9) dini hari WIB. Berikut hasil...

Apris Minta Gubernur Sumbar agar Priotaskan Pengembangan SMA di Pinggiran Kota

Apris Minta Gubernur Sumbar agar Priotaskan Pengembangan SMA di Pinggiran Kota

PADANG -- Anggota DPRD Sumbar Fraksi Nasdem Komisi V Drs. H. Apris, MM menggelar dialog sekaligus menyalurkan bantuan...


KOMENTAR ANDA



kaos minang unik dan lucu
minangkabaunews social media