Monday, 10 Dec 2018
Minangkabaunews
headline
home berita Opini

Menyikapi Musibah Gempa dari Sudut Pandang Agama

Jumat, 10 Agustus 2018 - 19:45:47 WIB - 1671
Menyikapi Musibah Gempa dari Sudut Pandang Agama
Ilustrasi gempa (Foto: Tribunnews.com)


Oleh: Yudia Falentina, A.Md.

Minggu, 5 Agustus 2018 Lombok (NTB) diguncang gempa bumi berkekuatan 7 SR, konon getarannya sempat terasa hingga pulau Bali. Gempa susulan masih sering terjadi, bahkan hingga Rabu pagi tercatat 318 kali. Korban tewas hingga Rabu (8 Agustus 2018) 347 orang, 1.477 orang mengalami luka-luka dan 156.003 orang masih mengungsi. Bangunan yang rusak tercatat 42.239 unit rumah dan 458 bangunan sekolah. Begitu informasi yang disampaikan Bupati Lombok Utara Iwan Asmara kepada awak media. Kepala Pusat Data dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan gempa ini, merupakan jenis gempa dangkal yang bersumber dari aktivitas sesar naik Flores (Flores Arch Thrust) di kedalaman 15 km pada 18 km barat laut Lombok.

Indonesia termasuk negara rawan bencana, seperti Tsunami, gempa bumi, gunung meletus, kekeringan, angin kencang dan sebagainya. Ini terjadi karena letak geologis dijalur empat lempeng yang sering bergesekan. Secara geografis terletak pada dua samudra yakni Samudra Hindia dan Samudra Pasisfik yang menyebabkan cuaca sering berubah-ubah.

Sebagai seorang muslim semestinya kita berkaca dari sudut pandang agama. Kita sadar seluruh bumi dan isinya adalah ciptaan Allah SWT, maka menggoncangkan bumi ini mudah bagiNya jika dikehendakiNya. Penyanyi legendaris Ebit G Ade telah menulis dalam lirik lagunya yang berjudul "Untuk Kita renungkan".

Anugerah dan bencana adalah kehendakNya
Kita mesti tabah menjalani
Hanya cambuk kecil agar kita sadar
Adalah Dia di atas segalanya

Memang, bila kita kaji lebih jauh
Dalam kekalutan, masih banyak tangan
Yang tega berbuat nista... oh
Tuhan pasti telah memperhitungkan
Amal dan dosa yang telah kita perbuat
Kemanakah lagi kita kan sembunyi
Hanya kepadaNya kita kembali
Tak ada yang bakal bisa menjawab
Mari, hanya tunduk sujud padaNya

Lagu itu dulunya selalu terdengar ketika musibah melanda negeri. Tapi kini, suara emas itu jarang disiarkan di televisi. Tapi setidaknya dari untaian lagu tersebut kita bisa belajar, bahwa tragedi bencana apapun berasal dari pencipta. Allah telah berfirman dalam QS. Al Anam : 65 "Katakanlah (wahai Muhammad) : Dia (Allah) maha berkuasa untuk mengirimkan azab kepada kalian, dari atas kalian atau dari bawah kaki kalian, atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan), dan merasakan kepada kalian keganasan sebahagian yang lain."

Dalam Alquran Allah SWT menjelaskan bahwa musibah yang terjadi di alam ini, berupa gempa bumi dan musibah lainnya disebabkan oleh perbuatan syirik dan maksiat yang diperbuat. Sebagaimana firman Allah dalam surat Asyuura : 30 "Dan musibah apa saja yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)."

Selanjutnya QS. An Nissa : 79 Allah menjelaskan "Nikmat apapun yang kamu terima, maka itu dari Allah, dan bencana apa saja yang menimpamu, maka itu karena (kesalahan) dirimu sendiri."

Para ulama salaf telah mengajarkan kepada kita tentang beberapa hal mesti diingat ketika musibah dan gempa bumi menghadang :

1. Sabar
Allah memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan balasan yang lebih baik daripada amalnya dan melipat gandakannya tanpa terhitung. Firman-Nya "Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan" QS. An-Nahl : 96

2. Evaluasi Diri
Sebagaimana yang dicontohkan Khalifah Umar bin Khattab ra. Ketika gempa bumi terjadi, beliau segera evaluasi diri sebagai penguasa, apakah dalam menjalankan roda pemerintahan ada yang melanggar aturan Allah?

Umar pun mengajak rakyatnya untuk segera melakukan evaluasi diri, apakah diantara mereka ada yang bermaksiat? Juga mengingatkan kaum muslimin agar menjauhi maksiat dan segera kembali kepada Allah. Ia bahkan mengancam akan meninggalkan mereka jika terjadi gempa kembali.

3. Taubat
Saat terjadi gempa, gerhana, angin ribut dan banjir, hendaklah setiap orang bersegera bertaubat kepada Allah SWT, merendahkan diri kepadaNya dan memohon keselamatan dariNya, memperbanyak zikir dan istigfar. Sebagaimana Allah SWT mengingatkan kita dalam QS. Al Alaa: 14-15 Sungguh beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan taubat ataupun zakat). Lalu, dia mengingat nama Tuhannya, lalu ia sembahyang.

4. Diajurkan memperbanyak sedekah dan menolong fakir miskin
Khalifah Umar bin Abdul Aziz saat terjadi gempa bumi di masa kepemimpinannya, segera mengirim surat kepada seluruh wali negeri, "Amma badu, sesungguhnya gempa ini adalah teguran Allah kepada hamba-hamba-Nya, dan saya telah memerintahkan kepada seluruh negeri untuk keluar pada hari tertentu, maka barangsiapa yang memiliki harta hendaklah bersedekah dengannya."

5. Pemimpin yang mengajak rakyatnya untuk ber amar maruf nahi mungkar
Sebab terselamatkannya manusia dari berbagai kejelekan adalah pemimpin kaum muslimin yang taat pada Allah, bersegera memerintahkan pada rakyatnya agar berpegang teguh pada kebenaran, kembali berhukum pada syariat Allah, juga hendakknya mereka menjalankan amar maruf nahi munkar.

Sesuai firman Allah dalam QS. At Taubah : 71 "Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang maruf mencegah dari yang mungkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat dan mereka taat kepa Allah dan RasulNya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah maha perkasa lgi maha bijaksana.

Allah turunkan Alquran sebagai pedoman bagi manusia. Ayat tentang penyebab datangnya bencana telah jelas adanya. Manusia yang masih mengatakan itu sebagai gejala alam, mungkin dia belum banyak membaca kitabNya. Gempa Lombok begitu dahsyat adanya. Apa sebab kita mesti bertanya, ada kesalahan apa hingga Allah begitu murka. Sudahkan pulau seribu mesjid itu sudah taat pada syariah Allah? Apakah jargon pariwisata halalnya telah berjalan sesuai dengan tuntunanNya, ataukah konsep halal itu telah tercoreng spiritualnya, hanya demi datangnya uang semata. Wallalhualam bishowab. (*)


Pemilik hobi membaca dan menulis ini lahir di Alahan Panjang 14 Juli 1982. Penulis merupakan ASN Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat dan anggota grup menulis di beberapa komunitas menulis. Email: yudiafalentina@ymail.com, Telp: 081363879196

Polling Capres cawapres 2019-2024
Editor/Sumber: Ikhlas Bakri
Tag: indonesia,metro,nasional,opini,peristiwa

SILAHKAN BERBAGI


REKOMENDASI


BE SMART, READ MORE

Hunting Akbar Macro Nusantara 2018 Sumbar, Jadikan Nagari Pagaruyuang Sebagai Target

Hunting Akbar Macro Nusantara 2018 Sumbar, Jadikan Nagari Pagaruyuang Sebagai Target

TANAH DATAR - Ratusan fotografer dari seluruh Sumatera Barat yang tergabung dalam Macro World Mania mengelar Hunting...

Ikuti Reuni Aksi Damai 212, Ribuan massa Putihkan Monas Jakarta

Ikuti Reuni Aksi Damai 212, Ribuan massa Putihkan Monas Jakarta

JAKARTA -- Peserta aksi reuni 212 di kawasan Monas, Jakarta membacakan selawat bersama. Pembacaan selawat itu ditujukan...

Konsultasi Publik II, KLHS Dan RPJMD Padang Panjang, Martoni : Lindungi Lingkungan Dan Alam Sekitar

Konsultasi Publik II, KLHS Dan RPJMD Padang Panjang, Martoni : Lindungi Lingkungan Dan Alam Sekitar

PADANG PANJANG - Walikota Padang Panjang diwakili Penjabat Sekda Martoni, S.Sos, M.Si membuka acara Konsultasi Publik...

Menjelang Natal dan Tahun Baru, Satpol PP  Padang Sita Miras Tanpa Izin Edar

Menjelang Natal dan Tahun Baru, Satpol PP Padang Sita Miras Tanpa Izin Edar

PADANG -- Jelang Natal dan Tahun baru, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) menggelar operasi penyakit masyarakat...

Kawa Daun Asal Tanah Datar, Masuk Rekor Muri

Kawa Daun Asal Tanah Datar, Masuk Rekor Muri

Batusangkar, Sumatera Barat-Daun kopi yang dikeringkan (disangai) dan diolah menjadi minuman, memang memiliki cita rasa...


KOMENTAR ANDA



kaos minang unik dan lucu
minangkabaunews social media