Sunday, 21 Apr 2019
Minangkabaunews
headline
home berita Ekonomi

BI Sebut Ekonomi Sekarang Beda dengan 1998, Ini Alasannya

Senin, 10 September 2018 - 19:05:46 WIB - 669
BI Sebut Ekonomi Sekarang Beda dengan 1998, Ini Alasannya
Ilustrasi (Foto: Dok. Istimewa)


NASIONAL - Bank Indonesia (BI) meminta tidak menyamakan kondisi rupiah saat ini dengan krisis pada 1998. Kepala Departemen Internasional BI Doddy Zulverdi menegaskan, nilai tukar rupiah terhadap solar Amerika Serikat (AS) yang sudah menyentuh Rp 15 ribu itu sangat berbeda.

Menurut Doddy, nilai tukar menjadi salah satu indikator ekonomi yang bernama harga relatif. "Dia tidak bisa dilihat sebagai angka absolut. Angka Rp 15 ribu per dolar AS ini sekarang beda dengan Rp 15 ribu pada 20 tahun lalu, jelas beda," kata Doddy dalam diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 di Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Senin (10/9).

Untuk itu, dia meminta mayarakat atau siapapun tidak bisa menyamakan dua kondisi tersebut. Pemahaman ini, kata Doddy, harus ditanamkan ke berbagai pihak.

Dikutip dari laman Republika.co.id, menurutnya, saat ini ada kesalahan yang melihat nilai tukar mata uang sebagai angka psikologis. Padahal, menurutnya nilai tukar mata uang seharusnya yang perlu dilihat pergerakan angkanya bukan menggunakan pengandaian.

Doddy mencontohkan seperti di Australia, Korea, Malaysia, dan Thailand, nilai tukar bergerak nyaris tidak pernah jadi berita besar. "Kecuali perubahannya sangat cepat. Orang tidak melihatnya sebagai angka psikologis, tapi seberapa cepat bergeraknya," ujar Doddy.

Dia mengatakan, jika depresiasi rupiah hanya delapan persen lalu dibandingkan kenaikkan dari level Rp 2.500 sampai ke Rp 15.000 per dolar AS pada 1998 jelas berbeda. Karena itu, nilai tukar jangan dilihat dari levelnya saja.

Selain itu, Doddy memastikan kondisi ekonomi makro saat ini sangat berbeda dengan yang terjadi saat krisis tahun 1998. "Tahun 1998 berapa inflasinya? kan 78,2 persen, sementara sekarang hanya 3,2 persen. Tahun 98 berapa cadangan devisanya? 23,62 miliar dolar AS, sementara sekarang 118,3 miliar dolar AS," ungkap Doddy.

Begitu juga dengan tingkat kredit macet pada 1998, menurut Doddy saat itu lebih dari bisa di atas 30 persen, namun saat ini hanya 2,7 persen dan trennya terus turun. Doddy memastikan, tahun ini lebih baik daripada 1998. "Ironis jika ada yang bilang tahun ini kita krisis seperti tahun 98," tutur Doddy. (rep)

Polling Capres cawapres 2019-2024
Editor/Sumber: Ikhlas Bakri/Republika.co.id
Tag: bisnis,ekonomi,indonesia,internasional,nasional

SILAHKAN BERBAGI


REKOMENDASI


BE SMART, READ MORE

Tingkatkan Mutu Pendidikan, Pemko Padang Panjang MoU Dengan Ruang Guru

Tingkatkan Mutu Pendidikan, Pemko Padang Panjang MoU Dengan Ruang Guru

PADANG PANJANG - Pemerintah Kota Padang Panjang melakukan Penandatanganan MoU Kerjasama dengan Ruang Guru, Politeknik...

Bawaslu Pariaman Petakan 76 TPS Rawan Pemilu

Bawaslu Pariaman Petakan 76 TPS Rawan Pemilu

PARIAMAN - Kordiv Pengawasan Masyarak dan Hubungan antar lembaga Bawaslu Kota Pariaman Ulil Amri menyebutkan,...

Bawaslu Kota Bukittinggi Gelar Sosialisasi Pengawasan Partisipatif Pemilu 2019

Bawaslu Kota Bukittinggi Gelar Sosialisasi Pengawasan Partisipatif Pemilu 2019

...

Surat Suara Tercoblos 01 di Malaysia, Ini Kata Tim BPN Prabowo-Sandi Suyatno

Surat Suara Tercoblos 01 di Malaysia, Ini Kata Tim BPN Prabowo-Sandi Suyatno

JAKARTA -- Tim BPN Prabowo Sandi, Prof. Dr. Suyatno, Menyesalkan kasus surat suara tercoblos pada pemilu di Malaysia...

Tabrak Kerbau, Pengendara Motor di Pasaman Meregang Nyawa

Tabrak Kerbau, Pengendara Motor di Pasaman Meregang Nyawa

PASAMAN -- Seorang warga Nagari Binjai Kabupaten Pasaman, meregang nyawa akibat menabrak seekor Kerbau saat melintas...


KOMENTAR ANDA



kaos minang unik dan lucu
minangkabaunews social media