Monday, 18 Nov 2019
Minangkabaunews
headline
home berita Opini

Kantor PWI Padang Pariaman, Rumah Wartawan Indonesia

Senin, 07 Januari 2019 - 10:59:23 WIB - 1334
Kantor PWI Padang Pariaman, Rumah Wartawan Indonesia
Kantor PWI Padang Pariaman, bagian pojoknya terdapat pohon mangga dan jambu biji


Catatan Ikhlas Bakri, Wartawan Utama

Dua orang yang beriringan mengendarai sepeda motor melaju sedikit kencang sehabis tikungan. Hanya beberapa detik saja kemudian berbelok ke sebuah pekarangan. Keduanya buru-buru turun dari sepeda motor dan berebut menggapai sesuatu. Sesuatu itu adalah sepotong pipa plastic berukururan setengah inchi dengan panjang sekitar 2m.

Seseorang yang lebih dulu mendapatkan pipa plastic yang diujungnya tersangkut besi paku berukuran sedang itu tertawa penuh kemenangan. Dengan alat yang baru didapatkan, lansung ia arahkan ke atas. Matanya liar berkeliling, mencari. Kompetiternya dalam merebut pipa tadi, matanya juga menatap liar ke atas, menunjuk sambil berteriak. "Itu matang..."

Lansung saja, pipa tadi diarahkan ke tujuan. Dengan ujung pipa terkait besi paku, tidaklah terlalu sulit untuk menarik sebuah benda agar terlepas dari dahannya. Benda yang dikait itu jatuh ke tanah, menggelinding menghampiri seseorang yang tidak memegang pipa.

Tanpa basa-basi, buah yang jatuh itu pun dipungut. Kali ini gantian yang tersenyum dan merasa menang. "Ambil benarlah pengait itu, memangnya bisa dimakan?" Katanya sumringah sambil menguliti buah itu, mangga namanya. Terpaksa temannya mencari alternatif ke pohon jambu biji di sebelahnya.

Di lain waktu, beberapa anggota PWI terlihat sibuk dan bergegas seusai shalat Ashar di Jumat itu. Ada yang sibuk mengurus kostum, ada yang terlihat tergesa-gesa menutup laptopnya setelah mengirim berita ke redaksi.

Selain itu, ada juga yang baru datang, memarkir kendaraan, setengah berlari ke toilet, berudu. Sambil berjalan menuju musala mini di bagian belakang kantor itu, dia pun berteriak ke sekelompok temannya yang sudah bersiap untuk naik kendaraan. "Tungguan ambo yo..." Teman-temannya yang berjalan cepat menuju kendaraan itu pun melambatkan ayunan kakinya.

Mereka, semuanya kemudian berlalu meninggalkan kantor yang bermarkas di jalan SB Alamsyah 43 Kampuang Balacan, Pariaman, menuju lapangan futsal yang berjarak sekitar 1 km. Sejak Januari 2017, di lapangan tersebut sudah terdaftar bahwa setiap Jumat sore pukul 17.00-18.15 lapangan dipakai member tetap atas nama PWI Padang Pariaman.

Demikianlah sekelumit rutinitas yang dijalankan wartawan anggota PWI Padang Pariaman. Mereka sudah menjadikan kantor yang dibangun semasa bupati Padang Pariaman dijabat Nasrul Syahrun di awal tahun 90-an itu sebagai rumah kedua. Dibangun sendiri oleh anggota PWI, atas partisipasi banyak pihak dalam kurun waktu sekitar 2 tahun.

Pada bangunan kantor yang berukuran 12x8m plus itu terdapat sejumlah ruangan. Ada sebuah kamar tidur berisikan tempat tidur bertingkat tiga. Di sebelahnya terdapat ruangan pengurus yang untuk sementara berfungsi sebagai musala. Sedangkan musala permanen pada pojok belakang sudah hampir siap secara keseluruhan. Itu semua berada pada posisi bagian kiri jika kita menghadap ke bangunan kantor.

Di bagian tengah terdapat ruangan lepas yang dijadikan ruangan kerja, pada bagian depan berfungsi sebagai ruang tamu. Di bagian belakang yang dibatasi jendela sebagai tempat santai. Sedang pada bagian kanan merupakan ruang rapat, arah belakangnya kamar mandi dan dapur.

Suatu ketika jelang pertengahan tahun 2017, sudah terlihat kesibukan di ruang dapur di Sabtu pagi untuk aktifitas memasak. Ada yang sibuk menggoreng, menanak beras, juga mengiris bawang. Kalau militer punya Denzipur (Datasemen zeni tempur) PWI Padang Pariaman juga memiliki zipur, singkatan dari zeni dapur.

Mereka ternyata memasak dalam jumlah yang lumayan banyak, sekitar 50 porsi. Setelah masak, kemudian mereka membawanya ke suatu tempat, di mana sejumlah anggota PWI lain sudah menunggu di sana, bergotong royong. Membangun sebuah rumah sederhana untuk keluarga prasejahtera, janda dengan tujuah anak yang masih kecil-kecil.

Asnimar, 38 tahun, nama janda itu. Ia tinggal di rumah milik orangtuanya di Korong Paguah, Nagari Balahaia, Kecamatan VII Koto Sungaisarik. Tetapi karena anaknya yang banyak dan mungkin juga rewel, membuat Asnimar sering berselisih paham dengan keluarga besarnya.

Setiap terjadi perselisihan, ia turun dari rumah orangtuanya itu dan tidur di alam terbuka, di sebelah rumah. Beratapkan terpal berlantaikan tanah. Buat anaknya yang masih kecil, masih berusia satu tahunan, Asnimar menyulap becak kayuh, kendaraan yang selalu ia gunakan untuk mengais rezeki setiap hari menjadi tempat tidur. Jika dihitung-hitung, ia lebih banyak tidur di pengasingan itu dibanding di rumah orangtuanya.

Rutinitas yang dilakoni Asnimar setiap hari adalah memulung bahan-bahan dari plastik seperti bekas gelas dan botol air lansung saji yang kemudian ia jual lagi. Atau memunguti pelepah pohon kelapa yang sudah jatuh, memotongnya, kemudian ia jual ke rumah makan menjadi kayu api untuk memasak.

Sejauh ini tentu tidak ada persoalan. Kejanggalan baru terlihat jika disaksikan lansung. Apa yang dilakukan Asnimar tersebut adalah kerja tim. Memulung bersama. Si kecil berada dalam dekapan Asnimar, kakak-kakaknya berpencar. Setelah dirasa cukup, berkumpul dan membawa hasil kerja tim pulang.

Di sinilah terlihat kejanggalan itu. Asnimar mengayuh becak dengan tangan sebelah, tiga orang anaknya dimulai dari yang tua berusia sekitar 10 tahunan mendorong dari belakang. Tiga orang lagi duduk berjuntai di bagian depan. Tak peduli hujan mengguyur lebat atau pun sinar mentari berterik panas.

Rewel si kecil jangan disebut lagi. Dalam kondisi cuaca yang tak bersahabat tadi, sepotong makanan ringan bisa menghentikan tangisnya. Terkadang ia pandangi kalbu sang bunda dalam-dalam seakan-akan bertanya, kapankah akan terbebas dari belenggu yang begitu menyakitkan ini.

Atas kondisi ini, setelah menjadikan sumber berita, wartawan Pariaman tidak berhenti sampai di situ. Mereka kemudian menggalang dana, dan mengerjakan lansung pembangunan rumah Asnimar. Selain membangun kebersamaan, kesempatan itu juga menjadi ajang praktek para wartawan untuk membangun rumah. Agar tak menghalangi rutinitas, gotong royong dilakukan setiap Sabtu dan Minggu.

Dalam tempo 7 bulan (sekitar 15 hari gotong royong), rumah semi permanen berukuran 8x6m plus teras 2x3m tersebut pun rampung. Seiring dengan itu, bantuan MCK juga datang dari Kodim Pariaman, disusul dengan bantuan rumah dalam bentuk bahan dari Pemkab Padang Pariaman.

Pada kesempatan berbeda, di halaman kantor itu terlihat ramai oleh kendaraan roda dua dan sejumlah kendaraan roda empat. Di dalamnya tengah berlansung konferensi pers yang diselingi diskusi. Mereka yang datang dari berbagai elemen dalam kesempatan berbeda. Sebut saja pengurus partai politik, lembaga penyelenggara dan pengawas pemilu, ormas dan OKP. Juga masyarakat yang menyampaikan aspiranya karena mereka menganggap wartawan itu sebagai wakil rakyat tanpa dewan.

Untuk menghormati dan menghargai para senior yang sudah tidak menyandang kamera lagi, yang sudah berganti profesi atau yang sudah menjadi pejabat, dalam waktu tertentu bertemu untuk berdiskusi membahas topik yang sedang hangat dikemas dalam kegiatan silaturrahim wartawawan Piaman (Silatwapia).

Pada event-event nasional dan internasional seperti Tour de Singkarak, Pesta Tabuik, ataupun berbagai festival yang diselenggarakan oleh pemerintah, wartawan peliput dari luar pun banyak yang menyempatkan hadir di PWI Padang Pariaman. Sekedar mampir berdiskusi dan sharing, mengirim berita ataupun sekedar rebahan siang di sela-sela rangkaian kegiatan liputan.

"Kita ingin kantor PWI Padang Pariaman ini tidak hanya sebagai rumah kami, tapi juga rumah wartawan Indonesia," tandas segenap anggota, seiring dengan visi dan misi Ketua PWI Pusat Atal S Depari untuk menyatukan anggota PWI se Indonesia dalam sebuah wadah media sosial untuk berinteraksi, PWI Padang Pariaman pun sudah memulainya dalam kapasitas kecil.

Editor/Sumber: Siel Saputra
Tag: feature,opini,padang,padang-pariaman,pariaman

SILAHKAN BERBAGI


REKOMENDASI


BE SMART, READ MORE

MUI Sumbar Dukung Seruan Tak Gunakan Salam Semua Agama, Ini Kata Buya Gusrizal Gazahar

MUI Sumbar Dukung Seruan Tak Gunakan Salam Semua Agama, Ini Kata Buya Gusrizal Gazahar

PADANG -- Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buya Gusrizal mendukung seruan dan himbauan MUI Jatim agar umat Islam terutama...

Polemik Pelarangan Cadar oleh Menteri Agama, Begini Respon Ustadz Abdul Somad

Polemik Pelarangan Cadar oleh Menteri Agama, Begini Respon Ustadz Abdul Somad

NASIONAL - Pernyataan Menteri Agama Fachrul Razi terkait niatnya mengkaji penggunaan niqab atau cadar bagi wanita yang...

Ayo Kenali Masalah Dampak Kesehatan Akibat Dari Kabut Asap Terhadap Kesehatan Tubuh

Ayo Kenali Masalah Dampak Kesehatan Akibat Dari Kabut Asap Terhadap Kesehatan Tubuh

Oleh: Lediya Ayusela Setiap tahun Indonesia dilanda kebakaran hutan dan kabut asap. Pada tahun 1997, Indonesia...

Padang Panjang Terapkan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik

Padang Panjang Terapkan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik

PADANG PANJANG --Pemko Padang Panjang mulai gencar sosialisasi Perpres 95 tahun 2018, yakni tentang Sistem Pemerintahan...

Ditolak Warga, Pemko Batalkan Izin Operasional Kafe Eks Bioskop Karya

Ditolak Warga, Pemko Batalkan Izin Operasional Kafe Eks Bioskop Karya

PAYAKUMBUH -- Sempat ditolak masyarakat Nunang Daya Bangun, Pemko Payakumbuh akhirnya membatalkan izin operasional kave...


KOMENTAR ANDA



kaos minang unik dan lucu
minangkabaunews social media