Thursday, 19 Sep 2019
Minangkabaunews
headline
home berita Solok

Beredar Isu Ada "Bisnis Lendir" di Kota Solok, Begini Tanggapan Tokoh Adat dan Anggota DPRD

Kamis, 14 Februari 2019 - 20:46:40 WIB - 2206
Beredar Isu Ada "Bisnis Lendir" di Kota Solok, Begini Tanggapan Tokoh Adat dan Anggota DPRD
Ilustrasi prostitusi


SOLOK - Belakangan ini marak beredar isu adanya bisnis "Lendir" (bisnis pelacuran atau prostitusi) di Kota Solok, tepatnya di kawasan jalan lingkar Tanah Garam Kecamatan Lubuk Sikarah.

Bisnis "Lendir" ini merupakan bahasa lainnya dari pelacuran ataupun prostitusi, dan dalam islam disebut dengan Perzinaan.

Baik perzinaan ini dilakukan dengan sukarela, dengan perjanjian berbayar yang dilakukan dengan transaksi langsung, maupun dengan alat komunikasi atau sistem online.

Prostitusi ini erat hubungannya dengan lokalisasi jika prostitusi ini dilakukan secara menetap. Seperti, diatas kenderaan, dirumah pribadi, tempat kos atau kontrakan, penginapan dan hotel, ditaman-taman, pinggir jalan, atau dengan fasilitas sendiri yang legal, seperti kramat tunggak di DKI Jakarta dan Doli di Surabaya. Sekarang tempat tersebut sudah digusur dan dijadikan mesjid dan pesantren.

Peluang terjadinya prostitusi di Kota Solok sangat besar karena banyak celah dan tempat untuk melakukannya. Tergantung itikad pemko Solok dalam memberantasnya, kuncinya membiarkan dan melegalkan atau dengan tegas menyapu bersih segala bentuk kemaksiatan dan perzinaan.

Jadi, benarkah ada bisnis "Lendir" di Kota Solok??

Jika benar ada, kondisi ini tidak boleh dibiarkan dan harus diberantas oleh pemerintah Kota Solok karena akan merusak generasi muda, serta tatanan hidup masyarakat.

Jargon dan slogan Kota Solok Kota Beras Serambi Medinah, tidak akan ada artinya, dan hanya akan jadi slogan tanpa makna dan kekuatan.

Ini merupakan sebuah tamparan dan pukulan berat bagi pasangan kepala daerah H. Zul Elfian, SH, MSi, Dt. Tianso, dan Reiner, ST, MM, Dt. Intan Batuah. Pasangan yang didukung oleh banyak tokoh-tokoh adat, seperti H. Rusli Khatib Sulaiman, Ketua LKAM, dan Bundo Kanduang, pemuda, dan masyarakat.

Hari ini, kepemimpinan keduanya diuji sejauh mana komitmen keduanya dalam memberantas kemaksiatan dan perzinaan.

Apalagi sudah ada aturan berupa Perda Pekat, dan tidak lagi alasan untuk berkilah dalam penegakan Perda Pekat ini.

H. Rusli Khatib Sulaiman, Ketua LKAAM Kota Solok, dihubungi MinangkabauNews.com, Kamis (14/2) dia sangat menyayangkan munculnya berita tentang bisnis lendir tersebut.

"Pemberitaan tersebut belum bisa dibenarkan karena kami sebagai tokoh adat bersama Dubalang Nagari, akan menelusuri lokasi-lokasi yang ditenggarai sebagai tempat prostitusi, seperti yang disebutkan dalan pemberitaan sebuah media," katanya.

Hingga hari ini, tokoh adat dan ninik mamak belum melihat dan menemukan adanya tempat atau lokalisasi dan prostitusi di Kota Solok.

"Berita ini harus diluruskan. Kami, tokoh adat dan tokoh masyarakat akan telusuri tempat yang diindikasikan ditenggarai terjadi transaksi bisnis lendir tersebut. Karena kondisi ini sudah merusak upaya pemerintah dalam menegakan amar maruf nahi mungkar," ujarnya.

Di samping itu, Dafrizal Buchari, tokoh masyarakat Tanjung Paku, kecamatan Tanjung Harapan mengaku kaget dengan adanya prostitusi di Jalan Lingkar.

Dikatakannya, Jika benar, pemko Solok perlu menelusuri dan menindak pelaku-pelaku perzinaan tersebut.

"Kita tidak ingin Kota Solok dilaknat Allah jika membiarkan perzinaan marak. Karenanya, harus ada upaya serius pemko dalam memberantas penyakit masyarakat. Apalagi pemko sudah didukung dengan Perda Pekat," andasnya.

Marfari, juga salah seorang tokoh pemuda Lubuk Sikarah, mengaku tidak terima adanya tempat prostitusi di Kota Solok.

Prostitusi, kata Marfahri, merupakan perbuatan yang tidak bisa dimaafkan apalagi jika dibiarkan atau bahkan "dilegalkan" oleh pemerintah, dengan melakukan pembiaran, sehingga dunia malam maupun prostitusi marak dibeberapa tempat di Kota Solok.

"Kota Solok harus tegas dalam menegakan aturan, terutama Perda Pekat, dan menggencarkan pembinaan iman dan tagwa dikalangan generasi muda," ucapnya.

Erizal, Amd, tokoh masyarakat Padang Galundi Tanah Garam Kecamatan Lubuk Sikarah, menilai ada yang salah pada sistem saat ini. Ada ketidaktegasan Walikota dalam mengimplementasikan aturan terkait maksiat. Padahal, sudah ada Perda yang mengatur tentang maksiat.

Sementara itu, H. Dalius, anggota DPRD Kota Solok/tokoh masyarakat Tanah Garam mengaku geram dengan lemahnya penegakan Perda Pekat di Kota Solok.

"Padahal Perda Pekat dibuat untuk mencegah dan memberantas perzinaan dan maksiat ditengah-tengah masyarakat Kota Solok," katanta.

Seyogyanya, pemko Solok harus sikat habis segala bentuk perzinaan dan maksiat. Baik maksiat dan perzinaan terselubung maupun terang-terangan, seperti kejadian ditangkapnya tiga orang siswa SMK Kota Solok oleh Pol PP Kota Padang karena melakukan transaksi online.

Ori Afilo, Plt. Kasat Pol PP dan Damkar Kota Solok, Kamis, pada MinangkabauNews.com menegankan tidak ada tempat atau fasilitas bisnis "lendir" di Kota Solok.

"Tidak ada tempat lokalisasi maupun tempat prostitusi di Kota Solok, bahkan hal semacam ini dilarang dan tidak dibenarkan terjadi di Kota Solok. Kata Ori, jika tempat ini ada Pol PP dan Damkar Kota Solok akan merazia dan menutupnya.

"Kita akan kerahkan Pol PP dan tim SK4 kelokasi dugaan tempat bisnis lendir tersebut. Untuk kafe juga ada aturannya, kafe dilarang menemani minum pelanggan dengan wanita seksi dan mengundang syahwat. Pelayan seusai menghidangkan minuman harus menjauh dari pelanggan. Kafe tidak boleh memiliki sekat dan menutup pandangan," ucapnya.

Dikatakan, Kafe juga harus menggunakan lampu penerangan diatas 50 watt. Dan kafe tidak boleh menyediakan minuman dengan kadar alkohol tinggi dan memabukan.

"Yang jelas, di Kota Solok tidak ada bisnis lendir, lokalisasi, prostitusi, maupun tempat maksiat lainnya," tekan Ori.

Sementara, Reiner, ST, MM, Dt. Intan Batuah, Wakil Walikota Solok ketika dihubungi via WA, Rabu (13/2) terkait adanya bisnis lendir di Kota Solok, belum memberikan jawaban, sedangkan WA itu sendiri sudah dibaca dengan berubahnya tanda centang hitam kewarna biru. Entah kenapa, mungkin ada pertimbangan lain.

Begitu juga Sekdako Solok Rusdianto, kabarnya telah dipanggil Wawako terkait bisnis lendir ini. (Fkr)

Editor/Sumber: Siel Saputra
Tag: kota-solok,solok,sumatra-barat

SILAHKAN BERBAGI


REKOMENDASI


BE SMART, READ MORE

 Ada Peran Tiongkok di Balik Produksi Mobil Esemka? Begini Faktanya

Ada Peran Tiongkok di Balik Produksi Mobil Esemka? Begini Faktanya

POLITIK - Setelah ditunggu selama tujuh tahun, akhirnya pabrik mobil Esemka memproduksi produk perdana mereka, pikap...

5 Tersangka Penganiayaan Seorang Pemuda Berujung Maut di Bukittinggi Ditangkap

5 Tersangka Penganiayaan Seorang Pemuda Berujung Maut di Bukittinggi Ditangkap

BUKITTINGGI -- Polres Kota Bukittinggi menciduk lima orang sebagai tersangka dugaan penganiayaan berujung kematian...

Ternyata Ini Penyebab Terbakarnya Rumah Makan Pondok Kita di Pessel

Ternyata Ini Penyebab Terbakarnya Rumah Makan Pondok Kita di Pessel

PESISIR SELATAN - Kebakaran yang melanda Rumah Makan Pondok Kita, tepatnya di Jalan Lintas Padang-Painan, Kenagarian...

Prosesi Tabuik Maarak jari-jari di Malam ke-7 Muharram, Ternyata Ini Makna dan Sejarahnya

Prosesi Tabuik Maarak jari-jari di Malam ke-7 Muharram, Ternyata Ini Makna dan Sejarahnya

PARIAMAN - Maarak jari-jari pada malam ke-7 Muharram merupakan rangkaian prosesi tabuik di tahun 1441H atau Sabtu (7/9)...

Ribuan Komunitas Ojol, Ojek Konvensional serta Masyarakat Cikarang Deklarasi Keselamatan Lantas

Ribuan Komunitas Ojol, Ojek Konvensional serta Masyarakat Cikarang Deklarasi Keselamatan Lantas

BEKASI -- 1000 warga dari berbagai komunitas menghelar deklarasi tertib berlalulintas dan berkeselamatan di jalan raya,...


KOMENTAR ANDA



kaos minang unik dan lucu
minangkabaunews social media