Saturday, 15 Aug 2020
Minangkabaunews
headline
home berita Opini

Menjadi Intelektual Cerdas di Tengah Hiruk-Pikuk Politik

Sabtu, 30 Maret 2019 - 08:23:11 WIB - 1886
Menjadi Intelektual Cerdas di Tengah Hiruk-Pikuk Politik
Ilustrasi


Oleh: Hardisman, MD, PhD

Intelektual Bukan Hanya Gelar

Sejatinya seorang intelektual adalah mereka yang berpendidikan tinggi, berilmu, mempunyai daya nalar yang kuat, dan cakap dalam menyelesaikan persoalah di sekitarnya. Intelektual tidak hanya punya pendidikan tapi ada buah pendidikannya yang terlihat. Para intelektual mampu memberika solusi terhadap permasalahan yang ada di masyarakat yang terkait langsung atau tidak langsung dengan kepakarannya.

Artinya, intelektual adalah mereka yang mampu menjadi bagian dari solusi masalah, bukan menjadi bagian dari masalah itu sendiri. Cerdas adalah berilmu, cakap dan bijak dalam menyelesaikan masalah. Dengan demikian, seorang intelektual mestilah seorang yang cerdas pula.

Akan tetapi, kata atau terminologi Intelektual sedikit mengalami kemerosotan makna. Intelektual disematkan kepada orang yang tinggi sekolahnya atau banyak gelar di belakang namanya. Orang-orang yang telah memperoleh gelar Sarjana (S1), Magister (S2) atau Doktor (S3) disebut sebagai intelektual. Namun sayang, tidak sedikit yang telah memperoleh Pendidikan tinggi tersebut tidak mencerminkan kecerdasan yang sejatinya.

Diantara yang berpendidikan tinggi tersebut tidak mampu menjadi bahagian solusi dari persolan. Bahkan, jangankan memberikan solusi malah menjadi bahagian dari masalah dan pencetus masalah yang terjadi di masyarakat. Kalaulah demikian adanya, maka Gelar yang banyak hanya mencerminkan lamanya sekolah, namun kecerdasan tidaklah dimiliki.

Bermula dari Pendidikan yang Mencerahkan

Secara sosial, dahulu orang tua-tua kita jika melihat pemuda atau orang dewasa yang berperilaku jahat dan suka berbuat masalah di masyarakat, mereka menamakannya Orang tak terdidik. Orang tua-tua kita mendefenisikan terdidik atau intelek bukan dari sekolah dan gelar orang tersebut, tapi kepada perilakunya di masyarakat.

Prinsip yang sama juga berlaku di negara-negara maju, seperti USA, Canada, Australia atau Eropa. Jika kita mendapati orang-orang yang beperilaku serampangan di jalanan, maka mereka disebut sebagi uneducated people. Mereka disebut sebagai uneducated people atau orang yang tidak berpendidikan bukan karena mereka tidak sekolah. Boleh jadi diantara mereka ada yang sarjana atau lulusan perguruan tinggi, tetapi mereka disebut sebagai yang tak pendidikan karena perilaku mereka yang suka mengganggu dan berbuat keributan.

Seyogyanya, pendidikan terutama pendidikan tinggi harus bisa menghantarkan seseorang kepada menjadi intektual yang sesungguhnya, bukan hanya meraih gelar dan menambahnya dibelakang nama. Intelektual tersebut mesti cerdas dalam melihat dan menyikapi persoalan, sehingga ia mampu menjadi bahagian dari solusi.

Sesuai dengan falsafahnya, pendidikan (education) itu adalah pencerahan (enlightening). Melalui proses Pendidikan seseorang belajar yang tertulis atau terlihat di depannya (studying) dan juga melihat, membaca yang tidak tertulis, serta mampu melihat kontekstual yang diamati itu (learning). Melalui proses itu akan tumbuh daya fikir dan nalar yang kuat dan melahirkan sikap yang bijak yang menempatkan diri sebagai bahagian dari solusi.

Intelektual yang Bijak

Intelaktual yang sesungguhnya adalah cerdas dan bijak dalam melihat persoalan. Sehingga, sikap dan tindakan yang diambilnya adalah berdasarkan analisis manfaat yang akan timbul dari yang dilakukannya.

Sebagaimana prinsip dalam ilmiah, setiap saran dari suatu hasil riset mestilah sesuai dengan kesimpulan riset tersebut. Setiap kesimpulan harus sesuai dengan analisis dan data yang didapatkan sebelumnya. Artinya, saran atau sikap dalam berfikir Ilmiah harus didasarkan atas data atau fakta yang valid yang telah dilakukan telaah terlebih dahulu.

Begitu pulalah dalam menyikapi berita dan persoalan yang ada di masyarakat, terutama menyikapi hiruk-pikuk politik yang terjadi saat ini. Setiap respon dan tindakan yang diambil mutlak dengan mempertimbangkan apakah kebenaran informasi yang diterima.

Bahkan tidak hanya itu; menyebarkan informasi dan mengambil sikap selanjutnya harus pula mempertimbangkan manfaat dari sikap yang diambil tersebut. Karena tidak semua informasi yang benar adanya, bila disampaikan atau direspon akan mendatangkan kebaikan. Apalagi bila informasi itu salah atau hoax, tentu mesti ditolak dan tidak disebarkan.

Amatlah disayangkan, orang yang berpendidikan tinggi, yang semestinya menjadi intelektual cerdas yang dapat meredam masalah dan menyelesaikan masalah yang terjadi, namun tidak mencerminkan prinsip Ilmiah yang dianutnya, yakni tanpa menganalisis informasi yang didapatnya. Bahkan tidak jarang, merekalah yang rajin membuat masalah makin gaduh, merespon dengan tidak bijak, atau menyebarkan informasi yang tidak benar tersebut.

Hal inilah yang ditegaskan dalam Islam, bahwa jika ada berita dan informasi yang diterima maka haruslah diteliti kebenarannya terlebih dahulu. Boleh jadi, tanpa melakukan telaah, jika langsung merespon akan memberikan tindakan yang salah (Lihat QS Al-Hujurat [49:6). Islam juga mengajarkan, bahwa tidaklah dibenarkan seseorang ikut-ikut kepada informasi yang ia tidak ketahui kebenarannya. Apa yang kita sikapi dalam hati, dan data yang kita lihat dan kita dengar yang dengan itu kita mengambil tindakan, akan diminta pertanggungjawabannya (QS Al-Isra [17]:36). Ikut-ikut saja informasi yang sumbang (hoax) tidak bolah, apalagi menyebarkan atau membuatnya.


Penulis adalah Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Editor/Sumber: Siel Saputra
Tag: indonesia,opini,politik,sumatra-barat

SILAHKAN BERBAGI


BE SMART, READ MORE

Staf dan Karyawan Bank Nagari Terkena Corona Berjemaah, Ini yang Dilakukan Pemprov Sumbar

Staf dan Karyawan Bank Nagari Terkena Corona Berjemaah, Ini yang Dilakukan Pemprov Sumbar

PADANG -- Kasus karyawan positif corona di beberapa gedung perkantoran khususnya Bank BUMD membuat Pemerintah Provinsi...

Seorang Kakek yang Hilang 20 Hari Lalu itu Ditemukan Mengapung di Batang Sukam Sijunjung

Seorang Kakek yang Hilang 20 Hari Lalu itu Ditemukan Mengapung di Batang Sukam Sijunjung

SIJUNJUNG -- Harmin (77) warga jorong Tangah nagari Muaro Sijunjung yang dilaporkan hilang oleh keluarganya ke Polres...

SMPN 5 Padang Panjang Terus Lakukan Belajar Daring dan Luring

SMPN 5 Padang Panjang Terus Lakukan Belajar Daring dan Luring

...

Disdukcapil Padang Panjang Terapkan QR Code Dalam Dokumen Kependudukan

Disdukcapil Padang Panjang Terapkan QR Code Dalam Dokumen Kependudukan

PADANG PANJANG -- Mencetak atau menerbitkan kartu keluarga dengan menggunakan kertas HVS ukuran A4 80 gram warna putih....

Heboh Lafal Allah Tangkapan Satelit Google Earth di Hutan Sawahlunto Sumbar

Heboh Lafal Allah Tangkapan Satelit Google Earth di Hutan Sawahlunto Sumbar

SAWAHLUNTO - Jagat sosial media sempat dihebohkan penampakan lafal Allah di daratan Pulau Sumatera tepatnya di Kota...


KOMENTAR ANDA



Eka putra, SE for Tanah Datar 1