Sunday, 19 May 2019
Minangkabaunews
headline
home berita Opini

Pilpres, Hemofilia dan Luka yang Tak Pernah Kering

Kamis, 18 April 2019 - 15:20:12 WIB - 684
Pilpres, Hemofilia dan Luka yang Tak Pernah Kering
Ilustrasi Pilpres 2019 (Foto: Dok. Istimewa)


Oleh: Hardisman, MD, PhD

Rabu 17 April 2019 ini kita telah menyalurkan hak suara kita untuk memilih Presiden-Wakil Presiden, DPD, DPR-RI, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten Kota. Terutama sekali yang sangat dinanti-nantikan masyarakat Indonesia adalah memilih Presiden dan Wakil Presiden dambaannya.

Tidak banyak yang tahu, bahwa tanggal 17 April diperingati sebagai "Hari Hemofilia Sedunia". Bahkan sebahagian besar dokter dan tenaga kesehatan lainnya juga sudah lupa. Sebuah momen yang bersamaan, tentunya bukan sebuah kebetulan semata. Ada tersirat makna yang dapat dipetik dari itu.

Rangkaian pemilu yang telah dimulai sejak masa sosialisasi dan kampanye yang diikuti dengan dukung-mendukung kandidat oleh para simpatisan, telah menyisakan cerita yang dapat ditelaah dengan analisis medis penyakit hemofilia.

Sekali merangkul dayung, tulisan ini juga mengajak pembaca untuk memahami sedikit tentang hemofilia.

Mengambil Hikmah dari Hemofilia

Hemofilia adalah suatu penyakit darah yang ditandai dengan pendarahan yang sulit atau tidak bisa berhenti jika seseorang mengalami luka. Pendarahan yang tidak dapat berhenti ini disebabkan karena proses pembekuan pada darah tersebut sangat lama atau tidak terjadi.

Secara normal, jika darah berada di luar dari pembuluh darah maka akan segera membeku. Proses ini melibatkan berbagai faktor pembekuan, baik yang terdapat dalam cairan darah ataupun faktor dari jaringan sekitarnya.

Namun pada orang yang mengalami hemofilia terdapat kekurangan satu atau beberapa faktor pembekuan. Secara Biomedik, yang lebih banyak kasusnya adalah hemifilia-A, karena kekurangan faktor pembekuan-VIII dan hemophilia-B karena kekurangan faktor pembeluan-IX. Akibatnya, apabila terjadi luka dan pendarahan, darah terus mengalir dan tidak bisa kering.

Kekurangan faktor pembekuan ini terjadi karena faktor genetik, yang mana terjadi abnormalitas gen penghasil faktor pembekuan. Gen penghasil faktor pembekuan ini terikat dengan kromosom X, sehingga kemungkinan terjadi pada laki-laki lebih banyak dari perempuan. Mutasi gen juga dapat terjadi, sehingga muncul hemifilia sebagaimana yang terjadi pada penyakit kanker dan autoimun.

Meskipun demikian, kasus hemofilia sangat jarang terjadi. Secara epidemiolgis angka kejadiannya hanya 1 dalam 5 ribu kelahiran pada laki-laki dan 1:10.000 pada perempuan. Namun apa bila terjadi, maka perlu kewaspadaan khusus terhadap anak atau penderita tersebut.

Selain dari luka yang sulit kering dan perdarahan yang susah berhenti, ada gejala lain yang sangat ditakutkan karena tidak bisa diduga. Orang yang mengalami hemofilia bisa terjadi perdarahan spontan saluran cerna, karena pergesakan makanan pada pristaltik usus tentu terjadi iritasi ringan. Namun pada penderita hemofilia dapat terjadi perdarahan dan berakibat fatal.

Gejala-gejala lain yang muncul adalah sering spasme salura kemih, nyeri persendian, mudah kelelahan dan lainnya. Semua ini terjadi karena setiap gerakan otot dan jaringan meninggal iritasi kecil atau besar, yang padanya terdapat perdarahan. Jika luka bahagian tubuh diluar dapat dicegah dengan baik, namun perdarahan mikro internal tentu sangat sulit dicegah.

Oleh karena itu, salah satu upaya untuk menghindarkan penyakit ini adalah menjauhi segala faktor risiko lingkungan yang dapat menyebabkan terjadinya "mutasi genetik", sebagaimana halnya dengan penyakit kanker yang sulit diperediksi.

Bila sudah ada predisposisi genetik dan kemungkinan hemofilia, maka hindarkan diri menjadi "terluka", dan jauhkan segala faktor risiko yang menbahayakan diri.

"Move On" Menatap ke Depan

Hak suara telah disampaikan, saat ini semuanya mesti bersabar menunggu hasil yang sebenarnya. Versi perhitungan cepat berbagai Lembaga survei menunjukkan kemenangan salah satu kandidat. Perhitungan lembaga lain dan "real count" menunjukkan hasil yang berbeda. Hanya ada satu cara untuk mengetahui hasil yang sebenarnya, yaitu bersabar menunggu hasil dan pengumuman resmi dari KPU (Komisi Pemilihan Umum).

Apapun hasilnya nanti, setelah ditetapkan resmi oleh KPU, itulah Presiden dan Wakil Presiden pilihan rakyat. Kandidat, tim sukses, para pendukung, dan segenap lapisan masyarakat yang menjagikan kandidat yang dipilihnya; semuanya harus menerima dengan syukur dan lapang dada.

Bagi kandidat pemenang, menjadi langkah awal untuk berbuat kebaikan bagi bangsa dan negara sebagaimana yang telah dijanjikannnya. Bagi masyarakat terutama pendukung, dimulainya momen untuk menagih janji-janji yang telah disampaikan kandidat tersebut selama masa kaampanye.

Kemenangan dalam pemilihan bukanlah sebuah kemenangan dalam mengalahkan lawan, namun kemenangan sebagai orang yang lebih mendapatkan kepercayaan rakyat Indonesia untuk menjadi pemimpin yang membawa arah kemajuan bangsa ini dalam lima tahun kedepan. Sehingga syukur akan kemenangan dimulai dengan langkah memulai pengabdian, bukan pesta kemeriahan yang menyakitkan rakyat yang sedang kesusahan.

Tak kalah pentingnya adalah sikap para pendukung yang nanti dinyatakan kalah. Kalah dalam pemilihan ini juga bukan kekalahan dalam pertempuran, namun adalah tidak diberi kepercayaan amanah oleh rakyat lebih banyak untuk memimpin negeri ini. Oleh karena itu, tim sukses dan masyarakat pendukung mesti menerima dengan lapang dada.

Jika terdapat kecurangan dan pelanggaran teruslah berproses sesuai hukum yang berlaku. Namun, jika nanti hasil telah dinyatraka sah, maka semuanya mesti melihat kedepan dengan langkah tegap tanpa perih dan luka bagaikan hemofilia.

Semakin ada beban dalam jiwa semakin terasa menyakitkan. Ibarat hemofilia, semakin kuat adanya faktor genetiknya, semakin kurang pula faktor pembekuannya, semakin berat pula risiko pendarahan dan gejalanya.

Mencegah luka adalah cara terbaik dalam hemofilia agar pendarahan hebat tidak terjadi. Bila ada luka, ia akan seperti hemofilia, pendarahan yang tak pernah kering, dan terus berdarah sepanjang masa. Dalam kondisi psikis, maka menciptakan ketenangan jiwa, syukur dan sabar adalah cara agar luka tidak menganga, yang akhirnya menimpa kesedihan dan perih yang tak berkesudahan. (*)


Penulis adalah Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Editor/Sumber: Reza D
Tag:

SILAHKAN BERBAGI


REKOMENDASI


BE SMART, READ MORE

Mainar Hamid, Tokoh Perempuan Sumbar Penginspirasi, Selamat Milad Bunda

Mainar Hamid, Tokoh Perempuan Sumbar Penginspirasi, Selamat Milad Bunda

PADANG -- Walikota Padang H. Mahyeldi dan istri Harneli Mahyeldi memberi selamat kepada Penasehat PW...

Selama Bulan Suci Ramadhan, Satpol PP Kota Padang Akan Merazia Tempat Hiburan Malam

Selama Bulan Suci Ramadhan, Satpol PP Kota Padang Akan Merazia Tempat Hiburan Malam

PADANG - Selama Bulan Suci Ramadhan, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Padang, akan menindak tegas dan...

Parambahan Tanah Datar Kekeringan, Padi Mulai Diganti Dengan Jagung dan Ubi

Parambahan Tanah Datar Kekeringan, Padi Mulai Diganti Dengan Jagung dan Ubi

TANAH DATAR - Lebih dari 100 hektar areal persawahan warga di Kenagarian Parambahan, Kecamatan Lima Kaum, Tanah Datar...

PN Padang Vonis Pelaku Pembunuhan 20 Tahun Penjara, Keluarga Korban Bertepuk Tangan

PN Padang Vonis Pelaku Pembunuhan 20 Tahun Penjara, Keluarga Korban Bertepuk Tangan

PADANG - Keluarga korban pembunuhan, tampak senang dan bertepuk tangan dengan putusan yang dijatuhkan, oleh majelis...

Api Colok, Ciri Khas Surau Bersejarah Peninggalan Tuanku Syech Imam Jirek

Api Colok, Ciri Khas Surau Bersejarah Peninggalan Tuanku Syech Imam Jirek

...


KOMENTAR ANDA



kaos minang unik dan lucu
minangkabaunews social media