Thursday, 27 Jun 2019
Minangkabaunews
headline
home berita Opini

Refleksi Kebangsaan: Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini

Jumat, 03 Mei 2019 - 21:25:53 WIB - 581
Refleksi Kebangsaan: Kita Adalah Pemilik Sah Republik Ini
Asrul Khairi, A.MD


Oleh: Asrul Khairi, A.MD

Tidak ada pilihan lain,
Kita harus berjalan terus
Karena berhenti atau mundur
Berarti hancur
Apakah akan kita jual keyakinan kita
Dalam pengabdian tanpa harga
Akan maukah kita duduk satu meja
Dengan para pembunuh tahun yang lalu
Dalam setiap kalimat yang berakhiran
"Duli Tuanku?"
Tidak ada lagi pilihan lain
Kita harus berjalan terus
Kita adalah manusia bermata sayu,
Yang di tepi jalan
Mengacungkan tangan untuk oplet
dan bus yang penuh
Kita adalah berpuluh juta
yang bertahun hidup sengsara
Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama
Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka
Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan
Dan seribu pengeras suara yang hampa suara
Tidak ada lagi pilihan lain.
Kita harus
Berjalan terus.
(Taufik Ismail/1966)

Potongan bait puisi karya Taufik Ismail, pujangga besar asal ranah minang ini seakan menampar wajah kita sendiri. Kita yang menyebutkan identitas diri kita anak bangsa Indonesia. Kita yang mengakui sang saka sebagai simbol kebanggaan bunda pertiwi. Kita yang tengah terlena menikmati hidup di negara yang telah merdeka, tanpa sedikitpun terlintas akan ucapan terima kasih kepada sang leluhur pendiri negeri ini.

Kita sedang berbohong dan tentunya kita sedang melakukan pembohongan besar kepada diri kita. Lantas kenapa kita demikian?

Coba refleksikan diri sejenak, hati anak bangsa mana yang tidak teriris pedih ketika bait puisi diatas mengalun dengan lembut dan tegas, bait demi bait, berdenyut menyayat-nyayat kita punya rupa.

Coba lihat Indonesia kita sekarang. Namun, sebelum itu coba tolehkan kepala ke belakang. Indonesia yang dimasa perjuangan bertangiskan darah. Mereka yang tidak dipanggil tapi terpanggil. Mereka tidak diberi hak-hak tapi berhak. Dan mereka mengorbankan diri demi tegaknya Indonesia yang kita nikmati hari ini. Sungguh negeri ini berdiri diatas utang darah segar ribuan, bahkan jutaan syuhada yang gugur tak tercatat.

Dan tentunya mereka tidak mau juga dicatat karena mereka tidak mencari keharuman nama. Yang mereka inginkan Indonesia berdiri di atas kakinya sendiri. Indonesia yang bisa dinikmati oleh anak cucunya kelak sebagai pemilik sah republik ini.

Mereka telah menunaikan pengabdiannya. Meraka telah melunasi janjinya. Namun sekarang apa yang telah kita perbuat untuk mereka? Apa yang sudah kita lakukan untuk Indonesia?
Seakan kita menjadi pewaris bermata sayu bermentalkan ayam sayur. Kita bukannya menjadi macan simbol kegagahan rimba belantara, malah menjadi serigala pemangsa yang bisanya melolong saat kelaparan. Kita saling cabik mencabik bahu saudara kita sendiri, carut marut seakan menjadi trend yang terus diapungkan untuk dipersungguhkan. Tanpa kita sadari kita menjadi penggadai warisan pertiwi. Malah yang lebih memilukan dan memalukan kita menjadi penjajah diatas tanah kedaulatan kita sendiri. Penindasan, saling sikut menyikut dengan cara yang tidak lazim dan menjadi halal dalam simbol pengakuan kekuasaan. Inikah revolusi mental?

Krisis moral menjangkit, menjadi virus menular yang mematikan mental kehidupan berbangsa. Krisis kepercayaan yang dipenuhi akan hujatan dan kepesimisan, disisi lain kenakalan remaja sedang bertumbuh subur menjadi tren baru pengakuan identitas. Transformasi mental kearah yang menyesatkan, tapi kita menyebutnya kebanggaan dan saling klaim kaum pancasilais. Aneh memang. Tapi sesungguhnya hati ini menangis.

Sejarah mencatat bahwasanya kita (Indonesia) tidak ditakdirkan sebagai bangsa yang lembek, karena dasarnya kita terlahir diatas mental pejuang yang kuat retorikanya, gagah dan pemberani sikapnya. Kita tidak pernah ditakdirkan menjadi bangsa pengemis, karena kemerdekaan bersimbah darah bukanlah hadiah Belanda, Inggris ataupun Jepang. Namun hari ini, something wrong Indonesia Ku?

Sering kita menganggap ganjil dan salah tempat kalau berada di lingkungan orang-orang baik. Dan tidak aneh kita menyebutnya dengan istilah "radikal" atau pengecualian lain dengan pemakaian istilah kata yang sifatnya eksekutor. Kita menyebutnya kutu buku untuk para pemikir dan konseptor. Pengistilahan kata kutu yang notabanenya tidak lebih dari hama yang mestinya ditindas dan kotor, Naudzubillah.

Terkesan kita melindungi dengan istilah untuk hal-hal yang melanggar normatif: maling kita manjakan dengan panggilan koruptor, seakan tidak menakutkan dan tidak terkesan tabu bagi generasi baru. Pelacur kita perindah dengan istilah Tuna Susila, atau yang lebih syahdu lagi panggilan "Kupu-Kupu Malam", sehingga jadi semakin syahdu didengar untuk mengadu syahwat bejad, Dan banyak lagi kefenomenalan lainnya yang tidak memilki nilai pembangunan mental sesungguhnya.

Kita rindu pada kearifan lokal yang sudah mulai terinfeksi westernisasi. Indonesia rindu pada orang baik yang bermental baik. Tentunya dalam dekadensi multikrisis di negeri ini Indonesia butuh pertolongan sebanyak-banyaknya orang-orang baik untuk memperelok bumi sang saka ini.

Sudahlah, akhiri oprtunisme ini. Sudah saatnya kita saling merangkul, merefleksikan arah kita untuk Indonesia yang kita cintai. Mau dirias seperti apa negeri ini kedepannya. Karena sikap kita, mental kita, tindakan kita, adalah potret negeri ini sesungguhnya.

Kepada pemerintahan baru kedepan, siapapun yang dimandatkan rakyat, tertuju harapan akan Indonesia yang lebih baik dan Indonesia yang lebih hebat.

Kita berharap akan selamat datang perubahan, ini tanah kita, ini tumpah darah kita, kita halal memilikinya. (*)

Penulis adalah Aktivis Suara Komunitas

Editor/Sumber: Reza S
Tag: hukum,indonesia,metro,nasional,opini,padang,sumatra-barat

SILAHKAN BERBAGI


REKOMENDASI


BE SMART, READ MORE

Warga Padang Pariaman Gempar, Ular Piton Sepanjang 7 Meter Ditemukan Saat Berburu Babi

Warga Padang Pariaman Gempar, Ular Piton Sepanjang 7 Meter Ditemukan Saat Berburu Babi

PADANG PARIAMAN -- Warga Korong Batang Piaman Nagari Gunung Padang Alai Kecamatan Padang Sago, Kabupaten Padang...

Libur Lebaran 2019, Tingkat Hunian Hotel di Sumbar Anjlok

Libur Lebaran 2019, Tingkat Hunian Hotel di Sumbar Anjlok

PADANG -- Libur lebaran semestinya menjadi titik awal harapan pelaku pariwisata di Provinsi Sumatera Barat, khususnya...

Sepatu Made In Solok, Berharap Asa Pada Sebuah Janji

Sepatu Made In Solok, Berharap Asa Pada Sebuah Janji

SOLOK - Konon, disebuah negeri, dua setengah tahun lalu, sedang dilaksanakan Pemilu untuk memilih kepala daerah periode...

Wawako Pariaman Buka Secara Resmi Pelatihan Dasar CPNS Golongan II Angkatan Pertama Tahun 2019

Wawako Pariaman Buka Secara Resmi Pelatihan Dasar CPNS Golongan II Angkatan Pertama Tahun 2019

PARIAMAN - Wakil Walikota Pariaman Mardison Mahyudin membuka secara resmi Pelatihan Dasar bagi CPNS Golongan II...

Diduga Korsleting Listrik, Satu Unit Rumah di Pesisir Selatan Hangus Terbakar

Diduga Korsleting Listrik, Satu Unit Rumah di Pesisir Selatan Hangus Terbakar

PESISIR SELATAN - Satu unit rumah permanen milik masyarakat di Kanagarian Pasar Baru, Kecamatan Bayang, Kabupaten...


KOMENTAR ANDA



kaos minang unik dan lucu
minangkabaunews social media