Thursday, 27 Jun 2019
Minangkabaunews
headline
home berita Tanah Datar

Rayo Anam (Lebaran Enam), Tradisi Unik Nagari Padang Laweh, Tanah Datar Sumbar Yang Masih Bertahan

Kamis, 13 Juni 2019 - 00:41:47 WIB - 1941
Rayo Anam (Lebaran Enam), Tradisi Unik Nagari Padang Laweh, Tanah Datar Sumbar Yang Masih Bertahan
Acara Mandoa disalah satu rumah masyarakat Padang Laweh (12/6)


TANAH DATAR- Bermacam tradisi dan kebiasaan yang ada di Minangkabau, dibeberapa daerah tampak masih terus dipertahankan eksistensinya. Menjaga Tradisi leluhur ini merupakan kegiatan yang menurut beberapa masyarakat merupakan hal yang harus terus dipertahankan. Namun dibeberapa daerah seiring waktu tradisi asli mereka telah mulai ditinggalkan bahkan memudar tergerus nilai-nilai budaya asing yang masuk. Saat kami mengunjungi salah satu nagari di Tanah Datar, Sumatera Barat, ada sebuah kebiasaan (tradisi) unik sampai saat ini masih terus dilakukan masyarakat setempat.

"Rayo Anam" (lebaran Enam) sebuah tradisi yang di lakukan masyarakat Padang Laweh Nagari, Sungai Tarab, Tanah Datar. yang peringati pada tiap-tiap tanggal 8 syawal atau 7 hari setelah peringatan Idul Fitri dirayakan.

Dalam tradisi Rayo Anam itu masyarakat setempat setelah menjalankan puasa Ramadhan selama 30 hari, melanjutkan dengan puasa Syawal. Setelah melakukan puasa sunnah 6 hari selepas Idul Fitri, mereka lalu melakukan tradisi yang mereka sebut "Rayo Anam".

Diantara kegiatan Rayo Anam itu yaitu melakukan ziarah ke makam leluhur, orang tua atau kerabat mereka dan mengelar acara Mandoa.

Untuk kegiatan Ziarah kubur dilakukan setelah masyarakat setempat melakukan Sholat Subuh berjamaah di Masjid ataupun surau dan Musholla. Para Ninik Mamak, Alim Ulama, serta Pemuka Masyarakat setempat dalam kondisi langit masih gelap melakukan zikir tahlil dan shalawat yang ditutup dengan memanjatkan doa di pemakaman yang ada dalam Nagari (desa) mereka.

Selesai dari makam perkuburan gelaran "Rayo Anam" dilanjutkan dengan acara yang biasa di sebut Mandoa yang dilakukan ditiap tiap rumah secara bersama-sama oleh masyarakat. Dalam "Mandoa" tersebut para pengunjung yang hadir di tiap-tiap rumah masyarakat disajikan oleh pemilik rumah makanan, kue-kue tradisional dan minuman manis.

Setelah acara sajian makan minum, seluruh tamu yang hadir di rumah diberi uang oleh pemilik rumah. Uang yang diberikan pemilik rumah kepada tamu "Mandoa" biasa disebut Sedekah, dengan kisaran 5 ribu, 10 ribu sampai 20 ribu ketiap-tiap orang, baik anak anak maupun dewasa.

Salah seorang ninik mamak kaum suku Koto Anyia, S.Khatib Rajo Malano (72 th), menyatakan bahwa tradisi Rayo Anam ini adalah bahagian pengamalan dari Adat Basandi Sarak, Sarak Basandi Kitabulloh yang masih melekat di masyarakat Padang Laweh.

"Tradisi Rayo Anam (lebaran Enam) ini dilakukan oleh Ninik moyang yang terdahulu, sampai saat sekarang masih kami pertahankan, untuk mengenang leluhur kami, " ungkap Rajo Malano.

Perilaku mengunjungi makam, dikatakan Malano bukan hanya mendorong masyarakatnya untuk menginternalisasi nilai kematian pada dirinya sendiri, namun juga membantu tiap-tiap manusia agar mengenali asal-usulnya.

"Adat menguatkan tradisi, jikok mati ziarah kekuburan, jikok hiduik dituruik karumah (red * : jika meninggal ziarah kekuburan, jika hidup datang kerumah) dan banyak yang lainnya," sampainya.

Ditambahkan oleh salah seorang Alim ulama Padang Laweh Muhammad Nur Ali Tuangku Malano, bahwa puasa setelah lebaran hukumnya sunat.

"Setelah hari raya Idul Fitri disunatkan puasa Enam hari, maka dari dulu hingga sekarang kami disini pada umumnya Nagari Padang Laweh melakukan acara adat yang kami sebut dengan "Rayo Anam" (Lebaran Enam). Acara ini dilakukan tujuh hari setelah lebaran, dan untuk Syawal tahun ini jatuh pada hari ini (Rabu, 12/6), "kata tuangku Malano, yang merupakan Alumni Pesantren Nurul Yakin Padang Pariaman.

"Seluruhnya berdasarkan adat dan syarak dari Ninik moyang kami dan sampai sekarang masih dilakukan dan dirasa manfaatnya oleh masyarakat setempat, "tutupnya.(pede)

Editor/Sumber: romeo
Tag: seni-budaya,sumatra-barat,tanah-datar,unik

SILAHKAN BERBAGI


REKOMENDASI


BE SMART, READ MORE

Padang Panjang Masuk Final Dalam 10 Cabang MTQ Nasional Tingkat Sumbar ke-38 di Kota Solok

Padang Panjang Masuk Final Dalam 10 Cabang MTQ Nasional Tingkat Sumbar ke-38 di Kota Solok

PADANG PANJANG - Hari terakhir perlombaan MTQ Nasional Tingkat Sumatera Barat, Kafilah Padang Panjang masuk Final...

Hari Pertama Kerja, Bupati Pasaman Sidak Kehadiran ASN

Hari Pertama Kerja, Bupati Pasaman Sidak Kehadiran ASN

PASAMAN -- Menindaklanjuti perintah Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi RI (PAN-RB RI) dalam...

Larang Pemakaian Alat Tangkapan Lampar, Ini Pernyataan Tegas Wagub Sumbar

Larang Pemakaian Alat Tangkapan Lampar, Ini Pernyataan Tegas Wagub Sumbar

PADANG -- Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) mencatat 115 nelayan di Kecamatan Linggo...

3.000 Mustahiq di Padang Pariaman Terima Zakat Dari Yayasan Al Azis

3.000 Mustahiq di Padang Pariaman Terima Zakat Dari Yayasan Al Azis

PADANG PARIAMAN - Yayasan Arisal Azis kembali salurkan dana zakat dari para Muzakki perantauan jelang lebaran pada...

MTQ ke-XXXVIII, Reiner : Solok Bertekad Raih Tuan Rumah yang Baik dan Prestasi Terbaik

MTQ ke-XXXVIII, Reiner : Solok Bertekad Raih Tuan Rumah yang Baik dan Prestasi Terbaik

SOLOK -- Wakil Walikota Solok, Reiner, ST, MM, Dt. Intan Batuah menjadi inspektur upacara penyambutan khafilah di...


KOMENTAR ANDA



kaos minang unik dan lucu
minangkabaunews social media