Thursday, 22 Aug 2019
Minangkabaunews
headline
home berita Nasional

Inilah Ciri Pendahuluan Gempa Ketika Terjadi Versi BMKG

Senin, 12 Agustus 2019 - 22:28:53 WIB - 276
Inilah Ciri Pendahuluan Gempa Ketika Terjadi Versi BMKG
Ilustrasi


JAKARTA -- Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Dr. Daryono mengungkapkan Hasil monitoring BMKG menunjukkan bahwa sejak awal Agustus 2019 telah terjadi rentetan aktivitas gempa bumi di Busur Subduksi Sunda. Aktivitas gempa singnifikan ini tersebar dari Segmen Megathrust Mentawai-Siberut hingga Segmen Megathrust Sumba.

Menurutnya, Diawali dengan peristiwa gempa kuat dan merusak di Banten berkekuatan M 6,9 pada 2 Agustus 2019 lalu, hingga hari ini rentetan gempa masih terus mengguncang. Hari ini saja sudah 2 kali wilayah selatan Bali dan Banyuwangi diguncang gempa berkekuatan M 4,9.

Sejak awal Agustus 2019 tercatat di Busur Subduksi Sunda sudah lebih dari 8 kali terjadi gempa signifikan yaitu.

1. 2 Agustus 2019 Gempa Selatan Banten M 6,9
2. 3 Agustus 2019 Gempa Sukabumi M 4,4
3. 9 Agustus 2019 Gempa Sumba M 4,3
4. 10 Agustus 2019 Gempa Tasikmalaya dan Pangandaran M 4,0
5. 10 Agustus 2019 Gempa Tasikmalaya dan Pangandaran M 5,1
6. 11 Agustus 2019 Gempa Pariaman M 5,2
7. 11 Agustus 2019 Gempa Selatan Selat Sunda M 5,1.
8. 12 Agustus 2019 Gempa Selatan Bali dan Banyuwangi M 4,9

Lanjutnya, Rentetan gempa ini sangat menarik dicermati. Seluruh gempa berpusat di Zona Subduksi. Memang ada variasi kedalaman hiposenternya, dalam hal ini ada pusat gempa yang sangat dangkal bersumber di zona subduksi muka (front subductioan) tetapi ada juga yang berada di kedalaman menengah di zona transisi antara zona Megathrust dan Benioff.

Fenomena rentetan gempa yang terus terjadi ini memancing perhatian masyarakat dan awak media yang terus menanyakan ke BMKG, fenomena apakah ini, mengapa aktivitas gempa di zona subduksi akhir-akhir ini sangat aktif. Sebagian dari mereka malah lebih kritis dengan menanyakan apakah rentetan gempa ini merupakan aktivitas gempa pendahuluan (foreshocks)?

"Tentu saja sangat sulit untuk menjawab pertanyaan semacam ini. Namun demikian, hasil monitoring BMKG memang menunjukkan adanya klaster yang mencolok terkait adanya peningkatan aktivitas seismik, yaitu: (1) zona selatan Bali dan Banyuwangi, (2) Zona Cilacap dan Pangandaran, dan (3) Selat Sunda. BMKG akan terus memonitor aktivitas seismik yang terjadi khususnya di 3 zona duga aktif tersebut dan hasilnya akan segera diinformasikan kepada masyarakat," ujarnya dalam press rilis, Senin (12/8/2019)

"Jika kita mencermati peristiwa gempa besar di seluruh dunia memang dapat diamati gempa pendahuluannya. Fakta ini dapat kita lihat sebelum peristiwa gempa Aceh 2004, Gempa Tohuku 2011, dan Gempa Chili 2014. Semua gempa besar ini didahului oleh serangkaian gempa pendahuluan," tuturnya

Tambahnya, Penjelasan terkait gempa pendahuluan tampaknya diperlukan agar tidak terus menjadi tanda tanya yang menggelayuti masyarakat. Dari beberapa hasil kajian, kita juga dapat mengidentifikasi beberapa karakteristik aktivitas gempa pendahuluan. Pertama, gempa pendahuluan biasanya terjadi di zona dengan nilai "B-value" rendah. Nilai "B-value" rendah artinya di zona itu masih menyimpan tegangan yang tinggi, yang berpotensi terjadi gempa besar.

Kedua, di zona tersebut ada fenomena migrasi percepatan titik hiposenter yang semakin cepat menuju titik inisiasi lokasi estimasi gempa utama. Selain itu juga teridentifikasi adanya repeating earthquakes. Cirinya gempa ini berulang-ulang dan terjadi di segmen tersebut. Secara sederhananya, ini menunjukkan ada sebuah proses yang semakin lama semakin intensif sebelum muncul gempa utamanya (mainshock). Aktivitas ini mirip kalau kita mau mematahkan kayu, perlahan-lahan ada retakan-retakan kecil sebelum benar-benar terpatahkan.

"Tetapi apakah fenomena rentetan gempa akhir-akhir ini sudah mengarah tanda-tanda seismisitas mengarah ke arah sana? Hal ini juga masih sulit dijawab karena data aktivitas gempa yang terjadi belum cukup untuk disimpulkan. BMKG akan terus melakukan monitoring dengan memfokuskan di zona-zona duga aktif tersebut di atas. Kita akan terus amati polanya secara spasial dan temporal. Satu hal yang penting diingat bahwa tidak semua klaster aktif akan berujung kepada terjadinya gempa besar, meskipun setiap gempa besar selalu di dahului oleh serangkaian aktivitas gempa pendahuluan," tutupnya. (Rel)

Editor/Sumber: Rahmat Ilahi (Rijoe)
Tag: gempa,padang,peristiwa,sumatra-barat

SILAHKAN BERBAGI


REKOMENDASI


BE SMART, READ MORE

Diduga Depresi, Seorang Remaja di Pessel Akhiri Hidupnya dengan Gantung Diri

Diduga Depresi, Seorang Remaja di Pessel Akhiri Hidupnya dengan Gantung Diri

PESISIR SELATAN - Seorang pria remaja berinisial Y (18) ditemukan tewas di rumahnya di Dusun Tanjung Gadang, Kenagarian...

Polres Mentawai Tertipkan Angkot yang Kelebihan Muatan

Polres Mentawai Tertipkan Angkot yang Kelebihan Muatan

MENTAWAI - Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, terhadap angkutan umum (Angkut) yang over load (kelebihan...

KPAI Apresiasi Aksi Cepat Polisi Tangani Kasus Meninggalnya Aurel

KPAI Apresiasi Aksi Cepat Polisi Tangani Kasus Meninggalnya Aurel

JAKARTA -- Kabar duka meninggalnya anggota PaskibraTangerang Selatan, Aurelia Qurratuaini (16), terus santer...

Dua Kambing Kurban di Tanah Datar Mati Dimangsa Beruang Madu

Dua Kambing Kurban di Tanah Datar Mati Dimangsa Beruang Madu

TANAH DATAR - Dua kambing di Jorong Sungai Salak, Nagari Koto Tangah, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar,...

Ikhsanul Bahrein Kembali Terpilih Jadi Ketua BPC Gapensi Solok Selatan Untuk Periode 2019-2024

Ikhsanul Bahrein Kembali Terpilih Jadi Ketua BPC Gapensi Solok Selatan Untuk Periode 2019-2024

PADANG ARO -- Ikhsanul Bahrein, pimpinan perusahaan CV. Mutiara Selatan, didapuk menjadi Ketua BPC Gapensi Solok...


KOMENTAR ANDA



kaos minang unik dan lucu
minangkabaunews social media