Saturday, 18 Jan 2020
Minangkabaunews
headline
home berita Padang

Sikapi Pernyataan Bolehkan Salam Campuran Antar Agama, Inilah Bantahan Ilmiah Buya Gusrizal Gazahar

Senin, 11 November 2019 - 12:44:43 WIB - 18235
Sikapi Pernyataan Bolehkan Salam Campuran Antar Agama, Inilah Bantahan Ilmiah Buya Gusrizal Gazahar
Buya Gusrizal Gazahar Dt. Palimo Basa (Foto: dok. Istimewa)


PADANG -- Menyikapi Tulisan Viral bantahan terhadap imbauan MUI Jatim dan pernyataan dukungan dari Sekjen MUI Pusat Dr Anwar Abbas terkait larangan salam campuran antar agama, Ketum MUI Sumbar Buya Gusrizal angkat bicara.

Ketum MUI Sumbar, Buya Gusrizal Gazahar Dt. Palimo Basa mengungkapkan Bantahan ilmiah yang diawali dengan mencontohkan perbuatan kita sendiri, jauh dari ilmiah karena jangankan diri kita, setelah shahabat radhiyallahu anhum tidak ada lagi pernyataan yang masuk dalam kategori dalil syari.

"Inilah yang terbaca oleh saya ketika mengamati jawaban pembelaan terhadap salam campuran antar agama yang sekarang seperti menjadi kebiasaan para pejabat," ujarnya kepada Berita MinangkabauNewscom, Senin (11/11/2019).

Lebih jauh Buya menyampaikan Pembela tersebut mengqiyaskan ucapan salam campuran berbagai agama dengan merujuk pendapat para shahabat dalam kitab tafsir. Yang menyedihkan sekali adalah itu dilakukan oleh teman saya sendiri.

"Tak perlu lebih dahulu berbicara tentang pendapat-pendapat dalam kitab tafsir al-Qurthubiy atau al-Thabariy.
Bacalah sedikit langkah-langkah melahirkan fatwa dalam kajian syariat Islam. Kalau seandainya belum faham, sebaiknya diam kecuali kalau mau tampil membela atasan," jelasnya.

Aneh sekali, pernyataan ilmiah tapi jauh dari metode ilmiah. Lihatlah bagaimana yang bersangkutan menerapkan dalil kepada kasus.

Cara memahami masalah yang diikhtilafkan dalam kitab-kitab rujukannya dan masalah yang dibicarakan oleh MUI saja, dia tidak memahami.

"Tampaknya yang bersangkutan harus membaca lebih dahulu langkah-langkah menetapkan hukum dalam kasus kontemporer. Setidaknya itu akan menjaga agar jangan sampai dalil kesana, kasus ke sini dan kesimpulan ke situ," ucapnya.

Menurutnya, Perkara mengucapkan salam dengan memakai salam agama lain, kemudian ia kaitkan pendapat para beberapa sahabat dan ulama kepada orang tidak seagama bahkan ia seperti mengqiyaskan. apakah itu ilmiah? Ilmiah tingkat dasar pun tidak masuk, kalau caranya seperti itu.

"Saya menghimbau, Bacalah dengan benar perbedaan pendapat ulama tersebut," tuturnya.

Mengucapkan salam umat Islam (assalamu alaikum wr wb) kepada penganut agama lain, itu yang ikhtilaf di kalangan ulama, tapi perlu diingat. jangan terus berlindung di balik ikhtilaf ulama tanpa mempergunakan dalil dengan benar.

Adapun memakai salam agama lain yang maknanya adalah memuji dan meminta kepada sembahan mereka, ikhtilafnya datang darimana.

Di dalam salam itu jelas sekali berisi permohonan agar dilimpahkan rahmat dan keselamatan oleh tuhan mereka yang diingkari ketuhanannya oleh aqidah Islamiyyah.

"Itu bukan lagi qiyas maal faariq wahai saudaraku tapi sudah maal furuuq alias mengqiyaskan dua hal yang memiliki banyak perbedaan bukan hanya sekedar satu atau dua perbedaan," imbuhnya.

"Saya berharap saudaraku dan setiap orang yang belajar Islam, agar tegak menjaga agama dan umat ini," harap Buya

Sebelumnya, Muchlis M Hanafi, Oknum Pejabat mengeluarkan pernyataan di medsos membantah imbauan MUI Jatim dan dukungan MUI pusat berikut pernyataan lengkapnya Para pejabat, terutama di Kemenag, sedang galau. Pasalnya, salam yg biasa mereka ucap dibilang syubhat dan bidah yg sesat. Oleh MUI Jawa Timur, lalu diaminkan oleh guruku, Buya Sekjen MUI Pusat dan sahabatku, Ketua MUI Sumbar. Salam sejahtera bagi kita semua, Shalom, Om swastiastu, Namo buddhaya, Salam kebajikan. Begitu biasa diucap setelah Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Salam untuk enam agama. Saya pun cukup fasih melafalkannya. Di acara yang dihadiri tokoh-tokoh agama.

Sebagai sebuah himbauan sah-sah saja. Apalagi dari institusi MUI. Yang sangat dihormati. Tapi di ranah akademik kita bisa diskusi. Yang pasti, ini soal khilafiah. Tak perlu cepat-cepat memvonis bidah, syubhat dan sesat yg mengundang murka. Apalagi sampai berkata, pejabat yg berucap adalah "pemimpin jahil yang sesat dan menyesatkan". Seperti kata sahabatku seperguruan.

Bukalah kitab tafsir al-Qurthubi. Atau kalo mau jauhan dikit, tafsir al-Thabari. Mereka jelaskan ikhtilaf ulama. Kata mereka, bersalam untuk kafir non-harbiy (tidak memerangi) tak mengapa. Itu bagian dari berlaku baik dan adil yg tidak dilarang sesuai QS. al-Muntahanah: 8. Nabi Ibrahim juga bersalam kepada bapaknya yang kafir, Salaamun alayka (QS. Maryam: 47).

Nabi Ibrahim hanya ditegur ketika istighfar memintakan ampunan untuk bapaknya (QS. Al-Taubah: 113-114). Tak boleh memang beristigfar untuk mereka. Begitu kata Sufyan bin Uyaynah, ulama tabiin kenamaan. Al-Qurthubi pun sepakat. Kalau ada maslahat mendesak (maslahah raajihah), karena hubungan pertemanan, atau bertetangga, atau sesama warga negara dan wargabangsa yg berjanji hidup damai bersama, silakan bersalam kepada sesama. Hadis yang larang memulai bersalam, konteksnya dalam situasi perang atau bermusuhan.

Apakah itu "barang baru", alias bidah. Tidak! Ulama salaf melakukannya. Sahabat Nabi, Ibnu Masud biasa lakukan. Sahabat lain, Abu Umamah, siapa saja disalami olehnya. Muslim atau kafir. Kata dia, bukankah agama mengajarkan kita untuk menebar salam kedamaian.

Jadi, bersalam berarti mengikuti ulama salaf. Alias, "salafi", hehe. Tidak mau bersalam juga tidak mengapa. Seperti kata ulama al-Awzai, "anda bersalam berarti anda mengikuti ulama salaf-salih. Anda tak bersalam juga mengikuti ulama salaf salih". Jadi, saling menghormati saja. Tak perlu bawa-bawa soal bidah, syubhat dan sesat. Bagi saya, daripada menebar kebencian lebih baik tebar salam kedamaian. Kayaknya, kita masih "perlu ngopi" lebih jauh lagi, hehehe. Bagi saudara-saudaraku penganut agama lain tak perlu resah. Ini hanya dinamika internal yg akan membuat "kopi" kami semakin kentali. (RI)

Loading...
Editor/Sumber: Rahmat Ilahi (Rijoe)
Tag: metro,padang,sumatra-barat

SILAHKAN BERBAGI


BE SMART, READ MORE

Pohon Tumbang di Pantai Kata Pariaman, Ini Respon Wali Kota Genius

Pohon Tumbang di Pantai Kata Pariaman, Ini Respon Wali Kota Genius

PARIAMAN -- Hujan deras disertai angin kencang melanda sejumlah wilayah di Kota Pariaman selama dua hari, Kamis hingga...

Kasatpol PP Padang: Tiap Pribadi Wajib Bertanggung Jawab tentang Ketertiban dan Kenyamanan

Kasatpol PP Padang: Tiap Pribadi Wajib Bertanggung Jawab tentang Ketertiban dan Kenyamanan

...

Inilah Motif Pembunuhan Wanita Cantik dalam Rumah Kontrakan di Payakumbuh

Inilah Motif Pembunuhan Wanita Cantik dalam Rumah Kontrakan di Payakumbuh

PAYAKUMBUH - Kasus pembunuhan seorang wanita cantik di rumah kontrakan di Kelurahan Tigo Koto Diateh, Kecamatan...

Jakarta Dikepung Banjir, Muhammadiyah Turunkan Kekuatan Penuh

Jakarta Dikepung Banjir, Muhammadiyah Turunkan Kekuatan Penuh

JAKARTA -- Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) menurunkan personel dan logistik dalam merespon kejadian...

Begini Respon Wapres Soal Mega Skandal Jiwasraya

Begini Respon Wapres Soal Mega Skandal Jiwasraya

NASIONAL - Wakil Presiden KH Maruf Amin meminta Kejaksaan Agung mengusut tuntas tersangka yang menyebabkan PT Asuransi...


KOMENTAR ANDA



Loading...
kaos minang unik dan lucu
minangkabaunews social media