Monday, 16 Dec 2019
Minangkabaunews
headline
home berita Opini

Pembakaran Hutan, Penyimpangan Produksi Perkebunan Berkelanjutan Dalam Ekonomi Islam

Rabu, 20 November 2019 - 14:47:41 WIB - 377
Pembakaran Hutan, Penyimpangan Produksi Perkebunan Berkelanjutan Dalam Ekonomi Islam
Kebakaran lahan beberapa waktu lalu (Ist)


Oleh: Maisuna Zulfa

Beberapa waktu lalu, sekitar bulan September 2019, sebagian masyarakat Indonesia khususnya masyarakat di beberapa pulau Sumatera terimbas dampak kebakaran hutan yaitu kabut asap. Kebakaran hutan atau selanjutnya yang biasa disebut karhutla, telah menjadi peristiwa menahun yang terjadi di indonesia. Penyebab dari kebakaran tersebut banyak disebabkan oleh adanya pembukaan lahan perkebunan baik dari perusahaan maupun perseorangan dengan cara membakar lahan hutan.

Membakar hutan tentu akan berdampak secara langsung maupun tidak langsung kepada alam dan masyarakat. Hal ini tentu sangat disayangkan karena dalam pandangan ekonomi islam, tidak terpenuhinya kemaslahatan umat dan yang yang utama adalah mencapai falah atau kesejahteraan dari segi dunia maupun akhirat.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, karhutla terjadi karena banyak pembakaran yang disengaja untuk membuka lahan. Data Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPN) menunjukkan bahwa, dari 328.724 hektar luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tahun 2019 ini, 99% terjadi karena ulah manusia. Sementara dari keseluruhan luas karhutla yang terbakar 80% di antaranya telah menjadi kebun.

Dari data di atas menunjukkan bahwa karhutla terjadi karena ulah manusia yang dengan sengaja membakarnya. Unsur kesengajaan dalam pembakaran hutan ini disinyalir untuk membuka lahan perkebunan untuk memproduksi suatu komoditas perkebunan. Pembakaran hutan ini dilakukan karena menimbang biaya yang dikeluarkan untuk membuka lahan baru sangat lah tinggi apabila dilakukan secara manual.

Sebenarnya, selain membuka lahan dengan cara membakar, ada cara lain yang dapat digunakan tanpa membakar. cara-cara tersebut telah diatur dalam undang-undang No 18 tahun 2004 pasal 26 tentang perkebunan. Disebutkan bahwa ada 3 cara dalam pembukaan lahan yaitu cara manual, mekanis dan kombinasi keduanya.

Cara-cara tersebut tidak menjelaskan kepada publik khusunya perusahaan untuk membakar hutan. artinya, melalui undang-undang ini pemerintah tidak menganjurkan kepada masyrakat maupun korporat agar membuka lahan dengan cara membakarnya.

Namun, cara-cara membuka lahan tanpa membakarnya membutuhkan biaya yang tinggi, sehingga hal ini menjadi salah satu motif perusahaan untuk melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar hutan sehingga biaya produksi murah.

Menurut Deputi Penaatan Hukum Lingkungan Kementrian Lingkungan Hidup, Sudariyono, biaya penggantian tanaman dan membuka lahan perkebunan dengan cara membakar hutan lebih murah ketimbang cara biasa.

"Bisa 50 persen lebih murah," katanya di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu, 19 Maret 2014 lalu.

Menurut Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Purwadi Soeprihanto pada tahun 2015, motif penyebab karhutla ada dua. Salah satunya adalah motif ekonomi, yaitu pembukaan lahan untuk pertanian maupun perkebunan dengan cara yang mudah dan murah untuk kemudian diperjualbelikan.

"Kedua penguasaan lahan. Para perambah membakar hutan untuk mempertahankan dan memperluas penguasaan lahan," ujarnya.

Dalam islam cara membakar hutan bukan merupakan cara yang tepat, karena islam berpandangan bahwa dalam memproduksi suatu komoditas atau pun suatu barang perlu memperhatikan lingkungan agar terciptanya lingkungan yang berkelanjutan dan produksi yang berkelanjutan.

Hidayat (2010) memaparkan beberapa pendapatnya terkait hakikat produksi dalam ekonomi islam. Salah satu poinnya adalah mencegah kerusakan di muka bumi, termasuk membatasi polusi, memelihara keserasian, dan ketersediaan sumber daya alam.

Di dalam kitab suci Al-Quran juga telah dijelaskan dalam Q.S. Al-Qasas ayat 77 yaitu :

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
Artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Q.S. Al-Qasas:77)

Pada akhir ayat ini dijelaskan bahwa Allah SWT menganjurkan umatnya agar mencari rezeki yang tersebar di muka bumi dengan tidak melakukan kerusakan atau pun berbuat zalim kepada manusia dan lingkungan .

Secara garis besar, islam menganjurkan agar melakukan produksi yang berkelanjutan. Konsep Produksi yang berkelanjutan dalam islam dijelaskan dalam prinsip-prinsipnya. Di antaranya yaitu kegiatan produksi harus memperhatikan keadilan, aspek sosial masyarakat, serta memenuhi kewajiban zakat, sedekah, infaq dan wakaf, dan juga dalam pengelolaan sumber daya alam secara optimal, serta menghindari sifat boros dan berlebihan, juga tidak merusak lingkungan agar terciptanya produksi yang berkelanjutan.

Pembakaran hutan bukanlah cerminan dari produksi yang berkelanjutan. Di sini, hutan merupakan salah satu faktor produksi yang dieksploitasi secara agresif oleh korporat. Faktor produksi dalam islam harus diperlakukan dengan baik dan tidak merusaknya. Oleh karena itu, pembukaan lahan dengan cara membakarnya tidak dianjurkan dalam islam.

Tentu dalam islam, berproduksi juga memperhatikan tidak hanya kepentingan pribadi, tapi juga maslahat umat. Pembakaran hutan telah mengakibatkan banyak orang yang dirugikan. Hal ini diakibatkan dari konsep ekonomi kapitalis yang berbeda dari konsep ekonomi islam.

Dalam Q.S. Thaha ayat 6, konsep kepemilikan diartikan sebagai kepunyaan allah semua yang ada dimuka bumi dan manusia hanya berkedudukan sebagai khalifah untuk mengolahnya agar dapat bermanfaat bagi seluruh umat manusia. Artinya, faktor produksi yang dimiliki perusahaan tidaklah 100% dimiliki perusahaan karena Allah SWT lah yang mutlak memilikinya. Sehingga dalam pemanfaatan faktor produksi tersebut, harus memerhatikan kemaslahatan umat dan kelestaruan lingkungan.

Dari permasalahan yang ada, ada beberapa hal mendasar yang juga harus diubah, yaitu pada motivasi produsen dalam berproduksi khususnya pada orientasi perusahaan. Perusahaan memiliki orientasi yang sangat dominan dalam mencari keuntungan materi (uang) secara maksimal sehingga tidak memperhatikan terhadap dampaknya bagi lingkungan sekitar.

Dalam pandangan ekonomi islam, semestinya motivasi dalam berproduksi tidak hanya beroreintasi pada keuntungan namun juga sebagai alat untuk mencapai falah. mencari keuntungan melalui produksi dan kegiatan bisnis memang tidak dilarang dalam islam, jika tidak keluar dari koridor syariat islam.

Pada akhirnya, ekonomi islam memiliki orientasi bahwa perusahaan tidak boleh hanya mementingkan keuntungan pribadi, tetapi juga tetap memperhatikan kesejahteraan umat dan kelestarian lingkungan. Banyak cara yang bisa dilakukan oelh perusahaan untuk membuka lahan selain dengan cara membakarnya, salah satunya seperti yang telah dijelaskan pada undang-undang perkebunan yang telah dijelaskan di awal.

Faktor produksi pun diperhatikan dalam islam. Hutan sebagai salah satu faktor produksi harus diperlakukan secara baik, bukan dengan membakarnya sehingga berdampak pada kehidupan masyarakat. Pembukaan lahan dengan cara membakarnya dapat dicegah dan dihentikan dengan menggunakan pendekatan ekonomi islam yang memiliki konsep bahwa semua yang ada di muka bumi harus diperlakukan secara baik dan dalam berproduksi juga harus memerhatikan kemaslahatan umat sehingga tercapailah falah. (*)

*/ Penulis adalah Maisuna Zulfa Mahasiswa Ekonomi Universitas Jambi

Loading...
Editor/Sumber: Rio Irawan
Tag: opini

SILAHKAN BERBAGI


BE SMART, READ MORE

Empat Peserta Ujian Panwascam Solsel Jadi Korban Banjir

Empat Peserta Ujian Panwascam Solsel Jadi Korban Banjir

SOLOK SELATAN - Sebanyak empat (4) orang dari 115 peseta calon Pengawas Pemilu Tingkat Kecamatan (Panwascam) tidak...

Truk Pengangkut Tiang Listrik Terguling di Silaing Padang Panjang

Truk Pengangkut Tiang Listrik Terguling di Silaing Padang Panjang

PADANG PANJANG -- Truk yang mengangkut tiang listrik terguling di pendakian Silaing, Padang Panjang, Senin sore,...

Proses Sertifikat Lamban, Gubernur Irwan Prayitno Turun Tangan

Proses Sertifikat Lamban, Gubernur Irwan Prayitno Turun Tangan

PADANG PARIAMAN -- Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno didampingi Bupati Padangpariaman Ali Mukhni kunjungi kawasan...

Satpol PP Padang Jaring 12 Wanita di Tempat Hiburan Malam

Satpol PP Padang Jaring 12 Wanita di Tempat Hiburan Malam

PADANG -- Komit tegakan aturan, 12 Orang wanita terjaring razia Satpol PP Padang pada Sabtu malam hingga minggu dini...

Wawako Solok Terima Hibah Tanah Dari Frida Anwar

Wawako Solok Terima Hibah Tanah Dari Frida Anwar

SOLOK -- Reinier, ST, MM, Dt. Mangkuto Alam, Wakil Walikota Solok, Jumat (06/12/2019), terima hibah dari Frida Azwar,...


KOMENTAR ANDA



Loading...
kaos minang unik dan lucu
minangkabaunews social media