Monday, 18 Jan 2021
Minangkabaunews
headline
home berita Opini

Merevisi Gelar Pecinta Alam Bagi Pendaki Gunung

Sabtu, 04 Januari 2020 - 22:28:07 WIB - 1710
Merevisi Gelar Pecinta Alam Bagi Pendaki Gunung
Ilustrasi (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: Sukma

Mendaki merupakan hobi baru yang banyak digemari oleh kalangan muda saat ini. Banyak para pemuda kita di Indonesia yang memiliki hobi mendaki gunung untuk sekedar mengisi waktu liburan, melepas lelah, menghilangkan stress hingga keinginan untuk mencari tantangan baru.

Tak hanya laki-laki, para wanita tangguh penakluk alam juga banyak yang telah menaklukkan puncak-puncak gunung tertinggi yang ada di Indonesia.

Selain untuk refreshing dan liburan para pendaki juga mengadakan perayaan momen-momen tertentu di puncak gunung, suasananya pun tak ubahnya seperti suasana ramai di pasar. Momen seperti 17 Agustus dan tahun baru menjadi momen-momen besar yang banyak di rayakan oleh para pendaki di puncak gunung.

Suasana ramai yang tak kalah semarak di puncak gunung saat perayaan momen-momen penting tersebut sama persisnya seperti perayaan di taman-taman kota. Tak hanya perayaannya saja yang sama ramainya, dampak lingkungannya pun hampir sama. Jika setelah perayaan tahun baru akan menyisakan banyak sampah di pelataran jalanan kota, sama halnya yang terjadi di puncak gunung.

Gelar pecinta alam bagi mereka para pendaki sepertinya perlu kita revisi kembali. Banyak prilaku pendaki yang tidak mencerminkan sang pecinta alam sesungguhnya. Puncak gunung yang seharusnya bersih, segar dan alami tercemari oleh prilaku buruk pendaki yang membuang sampah sembarangan.

Bagi kita yang memiliki hobi mendaki dan telah mendaki banyak gunung dan menaklukkan berbagai puncak gunung yang ada, maka mata kita tentu telah banyak juga memandang seperti apa kondisi lingkungan di puncak gunung.

Prilaku buruk para pendaki yang membuang sampah sembarangan memuat pandangan mata kita tak sedap lagi memandang lingkungan di puncak gunung. Tak hanya di puncak gunung, perjalanan menuju puncak pun juga akan sering kita temui sampah bertebaran. Kurangnya kesadaran untuk tidak mengotori gunung secara merata ada pada prilaku pendaki gunung di Indonesia saat ini.

Siapa pun yang pernah mendaki pasti paham persoalan ini, sampah di gunung sebenarnya sangat menganggu pandangan mata, tapi kenyataannya tetap saja kesadaran untuk membawa turun kembali sampah kita di gunung masih kurang.

Jumlah sampah di gunung tak sedikit jumlahnya, setidaknya ada 3,3 ton sampah dari 17 gunung yang dibersihkan pada operasi sapujagad tahun 2017.

Gunung yang paling banyak terkumpul sampah pada operasi tersebut adalah Gunung Halimun Salak di Jawa barat sebanyak 696 kg, Gunung Talang di Sumatera Barat sebanyak 301,5 kg dan Gunung Pulosari 324 kg, sedangkan 14 gunung lainnya berada dibawah 300 kg sampah terkumpul.

Cukup banyak memang, belum lagi gunung lain yang tidak menjadi target operasi. Volume sampah tersebut akan cenderung meningkat seiring semakin tingginya antusias pemuda kita untuk melakukan pendakian di Indonesia.

Sampah yang banyak kita temui di gunung adalah sampah plastik dan botol mineral. Sampah plastik terkumpul sekitar 37% selama operasi tersebut.

Berbagai kebutuhan kita banyak yang di bungkus dengan plastik, mulai dari kebutuhan logistik hingga keperluan pribadi kita selama di gunung semuanya hampir terbungkus oleh kantong plastik.

Botol mineral adalah sampah yang paling banyak kedua sebesar 15%, kebanyakan pendaki memilih membawa air mineral ketika hendak mendaki sebagai kebutuhan selama perjalanan menuju puncak gunung atau camp tempat mendirikan tenda, sebelum mencari mata air di gunung untuk memenuhi kebutuhan selanjutnya. Namun tentu sangat disayangakan kebiasaan mereka yang membuang botol minuman mereka sembarangan ketika telah habis.

Para pendaki yang berjalan menuju puncak bahkan takkan bisa menghitung berapa banyak sampah botol mineral yang mereka temui selama mendaki. Kebiasaan buruk ini tentu sangat mengotori lingkungan pegunungan kita, bayangkan jika satu orang membutuhkan 2-3 botol air menuju puncak, tentu akan banyak sampah botol plastik bertebaran sepanjang jalur pendakian tersebut.

Padahal sampah plastik maupun botol mineral baru bisa teurai dalam kurun waktu yang sangat lama, jika terus dibiarkan tentu sampah-sampah tersebut akan terus menumpuk di alam pegunungan kita.

Prilaku buruk pendaki lainnya adalah sikap vandalisme yang merusak keindahan dan keasrian alam di puncak-puncak gunung. Saat kita berada di puncak gunung, maka pemandangan bekas aksi vandalisme di batu-batu yang ada akan terlihat. Banyak coret-coretan nama, nama daerah hingga tulisan yang tidak jelas apa maknanya.

Coretan yang tak beraturan tersebut jelas merusak lingkungan. Batu-batu besar hingga kecil tak luput dari sikap vandalisme para pendaki.

Banyak para pendaki yang telah berniat untuk melakukan aksi vandalisme sebelum mendaki, tujuannya adalah untuk meninggalkan jejak bahwa mereka pernah mendaki disana atau juga sebagai kenangan jika nanti mereka berkesempatan lagi untuk mendaki ke lokasi tersebut.

Padahal, prilaku seperti itu dapat dicegah dengan memeriksa dan menyita cat semprot yang dibawa para pendaki sebelum mendaki gunung, namun kenyataannya tetap saja bekas aksi vandalism di puncak gunung masih banyak bertebaran. Para pendaki pasti tahu betul jika prilaku vandalisme pendaki yang amatiran tersebut sangat mengganggu keasrian suasana pegunungan.

Prilaku lain para pendaki yang terkadang membuat pendaki lainnya jengkel adalah buang air sembarangan. Saat kita berada di alam tentu kita harus bisa menyesuaikan diri dengan alam dalam keadaan bagaimana pun.

Prilaku buang air sembarangan ini sangat mengganggu, aroma bau dari bekas buang air tentu memuat gelisah para pendaki lainnya. Apalagi pada gunung tertentu, ada yang sulit mendapatkan air bersih. Ada beberapa pendaki yang buang air pada saluran air bersih yang ada dan biasa digunakan untuk keperluan memasak dan mencuci.

Pendaki gunung sering digelari sebagai salah satu pecinta alam, dekat dan alam dan memiliki jiwa petualang. Namun, lebih baik sebelum mendaki gunung, para pendaki tersebut dapat mempelajari terlebih dahulu tentang apa-apa saja yang harus mereka perhatikan selama mendaki, termasuk dalam merawat lingkungan dan keasrian alam pegunungan, jangan sampai akan muncul lagi gunung baru di puncang gunung bernama gunung sampah.

Jangan sampai batu-batuan di puncak gunung dipenuhi dengan coret-coretan yang merusak estika suasana pegunungan. Serta dapat menjaga tingkah laku dengan tidak buang air sembarangan agar dapat sama-sama menikmati sejuknya udara pegunungan, bukan bau busuk dari kotoran yang kita buang.(*)

/* Penulis adalah Mahasiswa S1 Administrasi Publik, Fisip, Universitas Andalas (Unand), Padang, Sumatera Barat.

Editor/Sumber: Romeo
Tag: indonesia,internasional,metro,nasional,opini,padang,sumatra-barat

SILAHKAN BERBAGI


BE SMART, READ MORE

Jokowi Murka Subisidi Pupuk Sampai 33 Triliun Ternyata Produktivitas Jeblok

Jokowi Murka Subisidi Pupuk Sampai 33 Triliun Ternyata Produktivitas Jeblok

MINANGKABAUNEWS, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) lagi-lagi menunjukkan kejengkelan. Kali ini Kepala Negara...

Gawat! Kasus Covid-19 di Sijunjung  Tembus angka 704

Gawat! Kasus Covid-19 di Sijunjung Tembus angka 704

MINANGKABAUNEWS, SIJUNJUNG -- Kasus Pendemi COVID-19 di kabupaten Sijunjung memasuki minggu kedua Januari tahun 2021...

Kasus Pendemi Covid 19 Di Sijunjung Kian Merebak Tembus Angka 704

Kasus Pendemi Covid 19 Di Sijunjung Kian Merebak Tembus Angka 704

MINANGKABAUNEWS, SIJUNJUNG -- Kasus Pendemi Covid 19 di kabupaten Sijunjung memasuki minggu kedua Januari tahun 2021...

Roy Suryo Curiga Pelaku Pelecehan Lagu Indonesia Raya Tak Cuma Anak-Anak

Roy Suryo Curiga Pelaku Pelecehan Lagu Indonesia Raya Tak Cuma Anak-Anak

MINANGKABAUNEWS, NASIONAL -- Eks Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo curiga dengan pelaku pembuat video parodi lagu...

Corona Merajalela, Ini Vitamin yang Direkomendasikan ke Pasien Corona

Corona Merajalela, Ini Vitamin yang Direkomendasikan ke Pasien Corona

MINANGKABAUNEWS, KESEHATAN -- Selama empat hari, kasus terkonfirmasi positif Covid-19 mencatatkan rekor tertinggi. Hal...


KOMENTAR ANDA