Saturday, 30 May 2020
Minangkabaunews
headline
home berita Opini

Moderasi Beragama di Tengah Wabah Covid-19

Kamis, 09 April 2020 - 13:43:07 WIB - 1456
Moderasi Beragama di Tengah Wabah Covid-19
Ilustrasi (Foto: Dok. Istimewa)


Oleh: Indra Gusman, S.Kom

Sejarawan terkenal sekaligus Profesor pada Departemen Sejarah Universitas Ibrani Yerusalem Yuval Noah Harari baru-baru ini menerbitkan tulisan yang dimuat pada majalah Time terkait pandemi yang disebabkan oleh Coronavirus.

Pada tulisan yang sebagian merupakan kutipan dari Buku Best Seller "Homo Deus" karangannya, Harari menyampaikan bahwa ketika Black Death melanda dunia terutama Eropa pada abad ke-14 orang tidak mengetahui penyebab dan cara mengatasinya. Hal terbaik yang dapat dipikirkan oleh pihak berwenang pada saat itu adalah mengorganisir doa-doa massal untuk berbagai dewa dan orang suci, yang sialnya justru menyebabkan penularan massal.

Tulisan Harari yang secara gamblang menyatakan bahwa kegiatan doa-doa massal tidak menolong justru malah menjadi penyebab penularan wabah mungkin dapat dipahami secara logis oleh sebagian kalangan, hal ini terlihat dengan banyaknya saduran tulisan tersebut oleh media massa nasional ataupun para penulis dengan berbagai latar belakang ilmu. Namun untuk Indonesia sebagai Negara yang berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, kegiatan melakukan doa-doa massal sudah menjadi rutinitas sehari-hari bagi warganya. Dibutuhkan pendekatan khusus dalam melakukan edukasi agar tidak terjadi konflik internal umat dalam satu agama atau antar agama dalam menghadapi wabah Corona, salah satunya dengan aktif mempromosikan gerakan moderasi beragama.




Hasil positif dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama dengan tidak ekstrem atau biasa disebut moderasi beragama yang gencar digaungkan oleh Kementerian Agama dalam 5 tahun terakhir sudah mulai terlihat. Meskipun demikian, gejala terjadinya konflik internal umat dalam satu agama masih terasa.

Penerbitan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk umat Islam contohnya, pelarangan sementara pelaksanaan ibadah-ibadah yang sifatnya berjamaah atau mengumpulkan orang banyak menuai berbagai kritikan dan tidak jarang menimbulkan perselisihan di tengah masyarakat.

Konflik-konflik kecil semacam ini bisa diminimalisir jika Pemerintah, MUI, dan Masyarakat bersama-sama melakukan gerakan moderasi beragama sesuai dengan porsinya masing-masing. Sehingga energi dan sumber daya yang dibutuhkan dalam menghadapi wabah Corona ini dapat dimaksimalkan tanpa harus tersita oleh konflik.

Pemerintah yang dalam hal ini diwakili oleh Kementerian Agama sudah mengambil peran dalam menghadapi wabah Corona dengan berbagai kebijakan yang pengarusutamaannya berdasarkan kepada moderasi beragama.

Sementara itu MUI sebagai lembaga independen yang mengayomi Umat Islam di Indonesia sudah membantu pemerintah dengan mengeluarkan fatwa-fatwa yang secara langsung dapat menghambat penyebaran wabah. Meskipun demikian, nampaknya MUI mungkin harus bekerja lebih keras lagi dalam mencerdaskan umat terutama dalam konteks moderasi beragama, agar fatwa-fatwa yang diterbitkan tidak menyisakan konflik di tengah masyarakat bahkan mungkin akan lebih baik lagi jika dapat merangkul semua kalangan sesuai kondisi yang ada.

Pada sisi lain, masyarakat secara umum serta Umat Islam secara khusus tentu harus mengambil peran yang lebih besar lagi untuk mencegah penyebaran wabah ini dengan tetap mengikuti himbauan dari pemerintah dan MUI. Bahkan usaha untuk meningkatkan kemampuan diri dalam moderasi beragama saat ini sangat dibutuhkan, sehingga bisa memahami esensi pemikiran-pemikiran seperti yang dilontarkan oleh Harari yang pada tulisan lain di buku "Homo Deus" nya menyampaikan: "Lebih dari seabad setelah Nietzche memproklamasikan kematian Tuhan, Tuhan tampaknya muncul kembali. Namun, ini adalah sebuah fatamorgana. Tuhan sudah mati-ia hanya butuh waktu untuk meninggalkan tubuhnya".

Referensi:
https://time.com/5803225/yuval-noah-harari-coronavirus-humanity-leadership
https://id.wikipedia.org/wiki/Homo_Deus:_A_Brief_History_of_Tomorrow
https://bimasislam.kemenag.go.id/post/opini/pentingnya-moderasi-beragama

/* Penulis adalah Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Batusangkar. Email: indragusman@iainbatusangkar.ac.id

Editor/Sumber: Ikhlas Bakri
Tag: kesehatan,metro,opini

SILAHKAN BERBAGI


BE SMART, READ MORE

Bertambah, Satu Orang Warga Agam Kembali Positif Terpapar Covid-19

Bertambah, Satu Orang Warga Agam Kembali Positif Terpapar Covid-19

AGAM -- Kasus positif Covid-19 di Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat (Sumbar), kembali bertambah. Kali ini yang...

Jajaran Polres Mentawai Salurkan Bantuan ke Daerah Pelosok Wilayah Polsek Siberut Selatan

Jajaran Polres Mentawai Salurkan Bantuan ke Daerah Pelosok Wilayah Polsek Siberut Selatan

MENTAWAI - Kepedulian Polres Kepulauan Mentawai terhadap masyarakat yang mana sekarang sedang mengahadapi wabah pandemi...

Polres Mentawai Kembali Berbagi Sembako, Tiga Desa Disambangi Terdampak Covid-19

Polres Mentawai Kembali Berbagi Sembako, Tiga Desa Disambangi Terdampak Covid-19

MENTAWAI - Polres Kepulauan Mentawai kembali berbagi dan terus berbagi terhadap masyarakat yang mana sekarang sedang...

Gelombang Pasang Naik Rusak Puluhan Rumah Warga Tuapejat, BPBD Buat Tanggul Sementara

Gelombang Pasang Naik Rusak Puluhan Rumah Warga Tuapejat, BPBD Buat Tanggul Sementara

MENTAWAI - Gelombang pasang air laut sejak subuh tadi Rabu (20/05/2020) kembali menerjang sejumlah perumahan warga di...

Hari Ini, Pemkab Dharmasraya Mulai Salurkan BST Kabupaten dan BST Kemensos

Hari Ini, Pemkab Dharmasraya Mulai Salurkan BST Kabupaten dan BST Kemensos

DHARMASRAYA - Bantuan Sosial Tunai (BST) kabupaten dan Kementerian Sosial RI untuk wilayah Kabupaten Dharmasraya mulai...


KOMENTAR ANDA



Eka putra, SE for Tanah Datar 1
kaos minang unik dan lucu