Thursday, 22 Oct 2020
Minangkabaunews
headline
home berita Internasional

Jika Presiden Amerika Donald Trump Meninggal karena Covid-19, Lantas Apa yang Akan Terjadi?

Sabtu, 03 Oktober 2020 - 20:57:32 WIB - 47791
Jika Presiden Amerika Donald Trump Meninggal karena Covid-19, Lantas Apa yang Akan Terjadi?
Presiden AS, Donald Trump (Foto: Dok. Istimewa)


INTERNASIONAL - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dinyatakan positif Covid-19, begitu juga dengan ibu negara Melania Trump dan akan diisolasi.

Kepala Staf Gedung Putih Mark Meadows mengatakan Trump memiliki gejala ringan. Namun diagnosis tersebut, hanya kurang dari lima minggu sebelum pemilihan 3 November.

Keadaan ini menimbulkan pertanyaan tentang apa yang terjadi jika seorang calon presiden atau presiden terpilih mengalami kondisi terburuk misalnya berhalangan tetap, tidak berdaya akibat penyakit atau bahkan sampai meninggal.

Dilansir dari Reuters, Sabtu (3/10), ada beberapa cara hukum AS dan aturan partai menangani skenario tersebut.

Pertama, apakah pemilu 3 November dapat ditunda?

Ya, tapi itu sangat tidak mungkin terjadi. Konstitusi AS memberi Kongres kekuatan untuk menentukan tanggal pemilihan. Di bawah undang-undang AS, pemilihan berlangsung pada hari Selasa pertama setelah Senin pertama bulan November, setiap empat tahun.

Dewan Perwakilan Rakyat yang dikendalikan Partai Demokrat hampir pasti akan keberatan dengan penundaan pemilihan, bahkan jika Senat yang dikendalikan Republik memilih untuk melakukannya. Pemilihan presiden tidak pernah ditunda.

Kedua, apa yang terjadi jika seorang calon meninggal menjelang pemilihan?

Baik Komite Nasional Demokrat dan Komite Nasional Republik memiliki aturan yang meminta anggotanya untuk memberikan suara pada calon pengganti. Namun, sepertinya sudah terlambat untuk mengganti seorang kandidat pada saat pemilihan.

Saat ini pemungutan suara awal sedang berlangsung, dengan lebih dari 2,2 juta suara sudah diberikan menurut Proyek Pemilu AS di Universitas Florida. Batas waktu untuk mengganti surat suara di banyak negara bagian pun sudah berlalu, surat suara, yang diharapkan dapat digunakan secara luas karena pandemi Covid-19, telah dikirim ke pemilih di dua lusin negara bagian.

Kecuali Kongres menunda pemilihan, para pemilih masih akan memilih antara Trump dari Partai Republik dan Joe Biden dari Partai Demokrat bahkan jika salah satunya meninggal sebelum 3 November. Namun, jika nantinya pemenangnya meninggal, masih serangkaian pertanyaan baru muncul.

Ketiga, apa yang terjadi jika seorang kandidat meninggal sebelum pemungutan suara dari Electoral College?

Di bawah sistem Electoral College, pemenang pemilu ditentukan dengan mengamankan mayoritas "suara elektoral" yang dialokasikan ke 50 negara bagian dan District of Columbia sebanding dengan populasi mereka.

Para pemilih dari Electoral College akan bertemu pada 14 Desember untuk memilih presiden. Pemenang harus menerima setidaknya 270 dari total 538 suara Electoral College.

Setiap suara elektoral negara bagian biasanya jatuh ke tangan pemenang suara terbanyak di negara bagian tersebut. Beberapa negara bagian mengizinkan pemilih untuk memilih siapa pun yang mereka pilih, tetapi lebih dari setengah negara bagian mengikat pemilih untuk memberikan suara mereka kepada pemenang.

Kebanyakan undang-undang negara bagian yang mengikat pemilih tidak memperhitungkan yang harus dilakukan jika seorang kandidat meninggal. Misalnya, Undang-undang Michigan mewajibkan pemilih untuk memilih kandidat pemenang yang muncul di surat suara. Hukum Indiana, sebaliknya, menyatakan bahwa pemilih harus beralih ke pengganti partai jika kandidat tersebut telah meninggal.

Direktur Sekolah Pascasarjana Manajemen Politik di Universitas George Washington Lara Brown mengatakan dalam kasus kematian seorang kandidat, partai lawan mungkin menantang di pengadilan apakah pemilih yang terikat harus diizinkan untuk memilih pengganti.

"Pertanyaan yang paling menarik adalah, bagaimana Mahkamah Agung menangani kontroversi seperti ini?" kata Brown.

Tetapi Justin Levitt, seorang profesor di Loyola Law School, menilai tidaklah mungkin suatu partai akan mencoba menentang keinginan pemilih jika jelas ada kandidat tertentu yang memenangkan pemilihan.

Keempat, bagaimana jika seorang pemenang meninggal setelah Electoral College memberikan suara, tetapi sebelum Kongres telah mengesahkan suara?

Setelah pemungutan suara dari Electoral College, Kongres masih harus bersidang pada 6 Januari untuk mengesahkan hasil. Jika seorang calon presiden memenangkan mayoritas suara elektoral dan kemudian meninggal, tidak jelas sepenuhnya bagaimana Kongres akan menyelesaikan situasi tersebut.

Amandemen ke-20 Konstitusi mengatakan wakil presiden terpilih menjadi presiden jika presiden terpilih meninggal sebelum Hari Pelantikan. Tapi ini pertanyaan hukum terbuka apakah seorang kandidat secara resmi menjadi "presiden terpilih" setelah memenangkan suara Electoral College, atau hanya setelah Kongres mengesahkan penghitungan tersebut.

Jika Kongres menolak suara untuk kandidat yang telah meninggal dan karena itu tidak menemukan seorang pun yang memenangkan mayoritas, terserah DPR untuk memilih presiden berikutnya, memilih dari antara tiga peraih suara elektoral teratas.

Setiap delegasi negara bagian mendapat satu suara, yang berarti bahwa meskipun Demokrat memiliki mayoritas, Partai Republik saat ini memegang keunggulan dalam pemilihan kontingen, karena mereka mengontrol 26 dari 50 delegasi negara bagian. Semua 435 kursi DPR akan dipilih pada bulan November, jadi susunan Kongres berikutnya masih belum diketahui.

Tidak ada calon pemenang yang meninggal setelah pemilihan kecuali sebelum pelantikan. Contoh terdekat terjadi pada tahun 1872, ketika Horace Greeley meninggal pada 29 November, beberapa minggu setelah kalah dalam pemilihan dari Ulysses Grant. Sebanyak 66 suara elektoral yang diperoleh Greeley sebagian besar terbagi di antara pasangannya dan kandidat kecil lainnya.

Kelima, apa yang terjadi jika seorang presiden terpilih meninggal atau menjadi tidak berdaya setelah Kongres mengesahkan hasilnya?

Di bawah Konstitusi AS seorang presiden terpilih dilantik pada 20 Januari, Hari Pelantikan, dua minggu setelah Kongres mengesahkan hasilnya. Jika presiden terpilih meninggal, wakil presiden terpilih akan dilantik pada 20 Januari. (CNBC)

Editor/Sumber: Rahmat/cnbcindonesia.com
Tag: internasional,metro,peristiwa,politik,tokoh

SILAHKAN BERBAGI


BE SMART, READ MORE

Bupati Solok dan Forkopimda Ikuti Upacara Kesaktian Pancasila Secara Virtual

Bupati Solok dan Forkopimda Ikuti Upacara Kesaktian Pancasila Secara Virtual

KABUPATEN SOLOK - Bupati Solok Gusmal dan Forkopimda Kabupaten Solok, yang terdiri dari Kapolres Solok AKBP Azhar...

Keren, Diam-diam Jokowi Bakal Buat Pabrik Baterai Mobil Listrik Senilai 296 Triliun

Keren, Diam-diam Jokowi Bakal Buat Pabrik Baterai Mobil Listrik Senilai 296 Triliun

NASIONAL - Kementerian BUMN telah menugaskan tiga perusahaan pelat merah untuk membentuk holding pabrik baterai mobil...

Padang Panjang Masuk 5 Besar Nominator Keterbukaan Informasi di Sumbar

Padang Panjang Masuk 5 Besar Nominator Keterbukaan Informasi di Sumbar

PADANG PANJANG -- Masuk lima besar nominator terbaik dalam penilaian Keterbukaan Informasi Publik di Sumbar, tim Komisi...

Ancaman Mengerikan Turki kepada Prancis Soal Ucapan Macron Mempersalahkan Islam

Ancaman Mengerikan Turki kepada Prancis Soal Ucapan Macron Mempersalahkan Islam

INTERNASIONAL - Kementerian Luar Negeri Turki menyatakan, rancangan undang-undang yang diumumkan oleh Presiden Prancis...

Siap-siap! Tidak Pakai Masker Bakal Masuk ke Aplikasi Sipelada

Siap-siap! Tidak Pakai Masker Bakal Masuk ke Aplikasi Sipelada

PADANG -- Satpol PP Padang kembali menggelar Operasi Yustisi Pelanggar Perda, dikawasan Pasar Nanggalo, Padang, Jumat...


KOMENTAR ANDA



polling cagub sumbar