Wednesday, 27 Jan 2021
Minangkabaunews
headline
home berita Opini

Daring Berkelanjutan di Masa Pandemi, Masih Efektifkah?

Minggu, 22 November 2020 - 08:02:00 WIB - 505
Daring Berkelanjutan di Masa Pandemi, Masih Efektifkah?
Ilustrasi (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: RAHMA NANDHITA dan TRY WIDIA NINGSIH ALAM, Mahasiswa Jurusan Biologi, Fakultas MIPA, Universitas Andalas

2020 menjadi tahun yang singkat bagi banyak orang. Tidak banyak aktivitas yang bisa dilakukan seperti hari-hari biasanya. Banyak aktivitas dan kegiatan yang gagal disebabkan kemunculan COVID-19. Tidak hanya Indonesia, belahan bumi lainnya juga merasakan dampak dari kehadiran virus yang eksis pada tahun ini. Indonesia menjadi salah satu negara yang merasakan dampak besar dari COVID-19. Pemerintah telah menetapkan COVID-19 sebagai wabah nasional (Pandemi).

Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) merupakan jenis baru dari virus corona yang menyerang pernapasan yang dapat menular ke manusia. COVID-19 pertama kali ditemukan di Kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Virus dengan nama lengkap Severe Acute Respiratory Syndrome Corona Virus 2 (SARS-CoV-2) ini tidak pandang bulu, sehingga dapat menjangkiti siapa saja baik itu balita, anak-anak, remaja, orang dewasa, ibu hamil hingga lansia. Virus ini menular melalui percikan dahak (droplet) dari saluran pernapasan, misalnya ketika berada di ruang tertutup yang ramai dengan sirkulasi udara yang kurang baik atau kontak langsung dengan droplet.

Menurut data yang dirilis Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Republik Indonesia, jumlah kasus terkonfirmasi positif hingga 28 Oktober 2020 adalah 396.454 orang dengan jumlah kematian 13.512 orang. Tingkat kematian (case fatality rate) akibat COVID-19 adalah sekitar 3,4%. Jika dilihat dari persentase angka kematian yang di bagi menurut golongan usia, maka kelompok usia di atas 60 tahun memiliki persentase angka kematian yang lebih tinggi dibandingkan golongan usia lainnya. Sedangkan berdasarkan jenis kelamin, 58,5% penderita yang meninggal akibat COVID-19 adalah laki-laki dan 41,5% sisanya adalah perempuan. Pada kasus yang parah, infeksi virus Corona bisa menyebabkan beberapa komplikasi Pneumonia (infeksi paru-paru), infeksi sekunder pada organ lain, gagal ginjal, kerusakan pankreas, Acute cardiac injury, dan Acute respiratory distress syndrome.

COVID- 19 sejauh ini hanya lethal pada orang-orang yang memiliki usia lanjut dan co morbid. Kebanyakan pelajar dan mahasiswa adalah orang-orang yang memiliki usia muda yang rata-rata memiliki tubuh yang sehat dan bugar, dan mungkin saja tidak beresiko kematian jika terpapar COVID-19. Pada umumnya, pasien COVID-19 memiliki penyakit bawaan lain. Dengan adanya penyakit bawaan menyebabkan mereka mudah terpapar virus. Pada kasus ini berdasarkan survei angka kematian juga kebanyakan dialami oleh usia lanjut.

Dengan meningkatnya angka kematian yang disebabkan COVID-19 perekonomian masyarakat menjadi terganggu, dan tidak sedikit yang mengalami pengangguran. Dampak yang tidak kalah beruntut kepanjangan adalah dalam bidang pendidikan di Indonesia. Terhitung dari bulan Maret 2020 hingga mendekati akhir tahun, sekolah diliburkan dan diganti dengan sistem pendidikan yang dilakukan dalam jaringan (Daring). Sistem pembelajaran seperti ini terus dilanjutkan tanpa ada kepastian kapan akan dibuka kembali pembelajaran tatap muka.

Tentunya pelaksanaan pembelajaran dengan sistem baru ini tidak semulus dengan sistem pembelajaran yang dirancang sebelumnya. Pada sistem pembelajaran dari ini, pendidik maupun peserta didik dituntut untuk aktif menggunakan smartphone mereka. Kuota internet, sinyal, dan teknologi adalah kunci utama dalam proses pembelajaran ini. Tentu saja tidak semua pendidik dan peserta didik dapat melaksanakan sistem ini. Kendala besar bagi mereka yang berada di daerah terpencil dan terisolir yang minim bahkan nihil kuota, sinyal, bahkan smarphone pun tidak tersedia. Berbekal niat dan seperangkat media belajar, beberapa dari mereka yang menjelajahi wilayah demi sinyal untuk menimba ilmu.

Beruntung jika saat itu kondisi cuaca mendukung, lain cerita jika hujan dan badai terjadi. Maka bagaimana nasib mereka? Telah banyak tersiar kabar perihal tewasnya pelajar mencari sinyal internet.

Tidak hanya sampai di sana, gagapnya orang tua dan tenaga pendidik yang sudah lanjut usia sulit dalam mengoperasikan smarphone dalam penggunaan teknologi. Penjelasan materi dan penugasan terhadap peserta didik, semua aktivitas dan proses pembelajaran yang dilakukan melalui teknologi menyulitkan mereka dalam berproses. Dengan kondisi pandemi ini, metode penugasan yang dianggap efektif dan efisien dalam pembelajaran jarak jauh. Konsekuensinya, pengenalan dan pemahaman konsep mengenai suatu materi pelajaran tidak bisa berjalan sebaik belajar tatap muka. Dalam pembelajaran tatap muka, akan ada penyampaian konsep pembelajaran dan tujuannya terlebih dahulu. Kemudian pembelajaran berlanjut sampai pemahaman dan pengembangannya. Tahapan-tahapan tersebut dinilai tidak berjalan dengan baik dalam situasi darurat seperti sekarang ini.

Penelitian yang dilakukan oleh Livana PH dkk (2020) menunjukkan bahwa Tugas pembelajaran merupakan faktor utama penyebab stres mahasiswa selama pandemi COVID-19. Ansietas dapat berupa perasaan khawatir, perasaan tidak enak, tidak pasti atau merasa sangat takut sebagai akibat dari suatu ancaman atau perasaan yang mengancam dimana sumber nyata dari kecemasan tersebut tidak diketahui dengan pasti. Hasil penelitian lain oleh Cao, Fang, Hou, Han, Xu, Dong, & Zheng, (2020) pada 7.143 mahasiswa menunjukkan bahwa 0,9% mahasiswa mengalami ansietas berat, 2,7% mengalami ansietas sedang, dan 21,3% mengalami ansietas ringan. Kecemasan dapat mempengaruhi hasil belajar, karena kecemasan cenderung menghasilkan kebingungan dan distorsi persepsi. Distorsi tersebut dapat mengganggu belajar dengan menurunkan kemampuan memusatkan perhatian, menurunkan daya ingat, mengganggu kemampuan menghubungkan satu hal dengan yang lain. Lambat laun akan berdampak lebih besar terhadap mental health para pelajar. Tak hanya kesehatan mental, kesehatan tubuh juga dapat terganggu seperti penyakit mata karena berjam-jam menatap layar perangkat seluler. Dengan dampak yang mungkin saja terjadi, akan membuat materi pembelajaran dan tugas yang dikerjakan anak tidak dipahami secara maksimal. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sistem belajar daring jangka panjang dinilai tidak lagi efektif diiringi dengan banyak keresahan di dalamnya.

Belum terselesaikannya kasus COVID-19 membuat KEMENDIKBUD terus mempertimbangkan sistem pembelajaran daring yang selama ini dianggapan tidak efektif dan menyulitkan banyak pihak. Melihat hasil survei dan penelitian terhadap pasien COVID-19 yang menyatakan bahwa usia lanjut dan renta merupakan pasien yang memenuhi rumah sakit. Usia muda dianggap lebih kuat menahan serangan virus tersebut. Pada November ini pemerintah memperbolehkan sekolah-sekolah yang masuk dalam kategori aman untuk melaksanakan belajar tatap muka. Sekolah yang diperbolehkan diantaranya sekolah yang berada dalam kota dengan kesiapan beberapa aspek untuk melaksanakan belajar tatap muka secara langsung meskipun tidak semua peserta didik diperbolehkan datang kesekolah.

Hanya sebagian siswa yang dapat melaksanakan pembelajaran tatap muka disekolah dengan syarat memenuhi kelengkapan protokol kesehatan. Setiap kelas memiliki jadwal berbeda untuk datang melaksanakan belajar disekolah. Dengan dibukanya penerapan sistem baru ini mungkin akan membantu dan meringkan pihak-pihak yang tidak dapat mengikuti pembelajaran daring dengan baik.

Selain itu pemerintah juga memberikan kuota belajar gratis kepada para pelajar tiap bulannya untuk dapat meringankan pengeluaran biaya kuota. Hal ini dilakukan mengingat perekonomian masyarakat yang menurun.

Untuk dapat melaksanakan proses pembelajaran tatap muka di sekolah dan memperbaiki perekonomian, sudah sepantasnya kita sebagai masyarakat mendukung himbauan pemerintah untuk menerapkan pola hidup sehat dengan rajin berolah raga, makan makanan bergizi, menjaga jarak di lingkungan masyarakat dan menaati protokol kesehatan.

Editor/Sumber: Rahmat Ilahi (Kang Rie)
Tag: opini,pendidikan

SILAHKAN BERBAGI


BE SMART, READ MORE

Soal Drone Selam Kapal China, Roy Suryo Colek Jokowi: Ini Ancaman Serius

Soal Drone Selam Kapal China, Roy Suryo Colek Jokowi: Ini Ancaman Serius

MINANGKABAUNEWS, JAKARTA -- Seorang nelayan di Pulau Selayar, Sulawesi Selatan, dikabarkan baru saja menemukan drone...

Panen Raya, Babinramil 03 Sipora Turun Panen Padi Warga Masokut Sipora Selatan

Panen Raya, Babinramil 03 Sipora Turun Panen Padi Warga Masokut Sipora Selatan

MINANGKABAUNEWS, MENTAWAI - Monitoring Panen Padi, Babinsa Koramil 03 Pulau Sipora Serda Efendi kunjungi Dusun Masokut...

Respon Mengejutkan Menteri Kesehatan Usai Kasus Covid Indonesia Tembus 1 Juta

Respon Mengejutkan Menteri Kesehatan Usai Kasus Covid Indonesia Tembus 1 Juta

MINANGKABAUNEWS, NASIONAL -- Angka kumulatif kasus Covid-19 di Indonesia telah melampaui satu juta kasus, atau tepatnya...

Waspada! Kelompok Usia Ini Paling Rentan Tertular Varian Baru Corona Ganas Asal Inggris

Waspada! Kelompok Usia Ini Paling Rentan Tertular Varian Baru Corona Ganas Asal Inggris

MINANGKABAUNEWS, INTERNASIONAL -- Varian baru virus corona yang ditemukan di Inggris telah menyebar di Amerika Serikat....

Gila! Gara-gara Sebut Islam Bukan Agama, Uskup Agung Yunani Ini Banjir Kecaman

Gila! Gara-gara Sebut Islam Bukan Agama, Uskup Agung Yunani Ini Banjir Kecaman

MINANGKABAUNEWS, INTERNASIONAL -- Uskup Agung Athena dan seluruh Yunani, Ieronymos II, dikecam setelah mengeluarkan...


KOMENTAR ANDA