Monday, 25 Jan 2021
Minangkabaunews
headline
home berita Opini

Ini Model Pembelajaran Outbound Guna Tingkatkan Karakter Peduli Lingkungan Sosial Mahasiswa

Selasa, 24 November 2020 - 22:00:17 WIB - 569
Ini Model Pembelajaran Outbound Guna Tingkatkan Karakter Peduli Lingkungan Sosial Mahasiswa
Baiq Mahyatun

Oleh: Baiq Mahyatun, Program Doktor Ilmu Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Negeri Padang

Istilah karakter berasal dari bahasa Yunani, charassein, yang berarti to engrave (mengukir). Dengan demikian, membentuk karakter diibaratkan seperti mengukir di atas batu yang pelaksanaannya tidak mudah. Dari makna asal tersebut kemudian pengertian karakter berkembang menjadi tanda khusus atau pola perilaku (an individuals pattern of behavior his moral contitution). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, karakter diartikan sebagai tabiat; sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain; watak. Atau dapat dikatakan karakter dapat pula dinyatakan sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Dengan demikian, karakter berkaitan dengan kekuatan moral, berkonotasi positif, bukan netral.

Nilai-nilai karakter itu sendiri dapat diperoleh dan dibangun melalui proses pendidikan. Bahkan tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 yaitu Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab sudah memuat nilai-nilai karakter di dalamnya.

Dalam dunia akademik, mahasiswa dituntut untuk berperilaku sesuai dengan amanat yang sedang diembannya sebagai kaum intelektual. Salah satu cara untuk berperilaku yang sesuai dengan amanat yang diemban tersebut adalah membangun karakter mahasiswa sebagai calon pemimpin masa depan. Karakter mahasiswa ideal adalah mahasiswa yang ikut andil untuk melakukan gerakan perubahan secara signifikan dan memiliki idealisme tinggi. Pandai menyesuaikan diri (fleksibelitas) adalah sifat yang harus dimiliki oleh mahasiswa, karena mahasiswa akan dihadapkan pada banyak lingkungan dengan situasi dan kondisi yang berbeda. Oleh sebab itu, mahasiswa adalah ujung tombak perubahan bangsa. Di pundak merekalah ditopangkan tanggung jawab yang besar akan masa depan bangsa yang lebih baik.

Untuk itu, mahasiswa memang harus memiliki idealisme yang tinggi dan memunculkan idealisme itu membutuhkan karakter mahasiswa ideal yang merupakan pemuda-pemuda unggul, berwawasan luas, berjiwa sosial, mampu berorganisasi, dan berkontribusi dalam membangun generasi berkarakter baik untuk mewujudkan pendidikan ingklusif dan berkualitas sebagai penunjang untuk pembangunan global. Karakter yang harus dimiliki juga oleh seorang mahasiswa ideal antara lain sebagai berikut: beriman, bersemangat, memiliki orientasi yang jelas, bermanfaat bagi orang lain, pandai menyesuaikan diri, peduli terhadap lingkungan, jujur, bertanggung jawab, kreatif, inovatif, suka menolong, disiplin, dan rendah hati. Peran mahasiswa dalam lingkungan sosial, menuntut mereka untuk selalu menjunjung tinggi arti sebuah tanggung jawab. Perjuangan mahasiswa dilandasi oleh nilai-nilai karakter yang tertanam dalam sanubarinya dan tertuang dalam bentuk idealisme. Selain itu kapasitas intelektual mahasiswa memberikan nilai tambah bagi daya juang mahasiswa. Cita-cita luhur perjuangan mahasiswa akan sulit tercapai jika tidak diisi dengan individu-individu yang berstatus mahasiswa yang unggul, berjiwa sosial, dan berkarakter baik.

Semua Perguruan Tinggi mengharapkan mahasiswanya memiliki seperti yang dimiliki karakter mahasiswa ideal yang disebutkan. Namun fakta di lapangan, belum sesuai dengan yang diharapkan, karena masih ada mahasiswa yang menunjukkan sikap kurang peduli terhadap lingkungan soaialnya, seperti, masih banyaknya mahasiswa yang kurang peduli terhadap lingkungan belajarnya dan tidak peka terhadap permasalahan-permasalahan yang terjadi di sekitarnya. Sehingga memunculkan persepsi bagi masyarakat bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang maka semakin tidak peduli orang tersebut terhadap lingkungan sekitar. Hal ini tentu bertentangan dengan tujuan pendidikan yang ingin menumbuhkan nilai-nilai karakter yang luhur pada setiap peserta didik.
Salah satu bentuk upaya untuk menumbuhkan serta meningkatkan nilai karakter peduli mahasiswa terhadap lingkungan adalah dengan mengembangkan abiotik dan biotik berdasarkan karakter peduli mahasiswa. Istilah abiotik dan biotik digunakan karena tujuan untuk menumbuhkan dan mengembangkan nilai karakter terkait dengan hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan alam. Adapun komponen abiotik seperti; air, udara, tanah dan sinar matahari, sementara komponen biotiknya seperti; manusia, dan tumbuhan. Selanjutnya, untuk mengembangkan karakter peduli mahasiswa berdasarkan abiotik dan biotik maka dikembangkan sebuah model pembelajaran yaitu model pembelajaran outbound.

Pembelajaran outbound merupakan kegiatan yang sering dilakukan pada pendidikan pengembangan pribadi yang menggunakan tantangan alam sebagai medianya. Bentuk kegiatan pembelajaran outbound berupa simulasi kehidupan melalui permainan kreatif, rekreasi, dan edukatif baik untuk individu maupun kelompok dan bertujuan untuk pengembangan potensi diri. Lebih lanjut, pembelajaran outbound adalah kegiatan belajar di luar ruangan (learning out door) yang bersifat petualangan dan penuh tantangan sebagai proses pembelajaran untuk meningkatkan karakter peduli terhadap lingkungan sosial mahasiswa. Adapun tujuan pembelajaran outbound itu sendiri adalah agar peserta didik terutama mahasiswa dapat menumbuhkan serta mengembangkan karakter peduli terhadap sesama manusia dan alam di sekitar.

Melalui penelitian yang telah dilakukan serta didukung pendapat dari para ahli, model pembelajaran outbound layak digunakan untuk meningkatkan karakter peduli peserta didik terutama mahasiswa. Hal ini dibuktikan oleh pengamatan yang penulis lakukan terhadap pelaksanaan model pembelajaran outbound. Melalui pengamatan yang dilakukan diperoleh informasi bahwa model pembelajaran outbound dapat meningkatkan kedisiplinan, solidaritas, toleransi, kepedulian, keberanian, tanggung jawab, kekompakan, kreativitas, kemandirian, kejujuran, keterampilan sosial dan kompetensi mahasiswa. Selanjutnya, model pembelajaran outbound dinyatakan valid oleh expert yang menjadi penilai dari model tersebut. Untuk praktikalitas model ini juga telah dilakukan melalui serangkaian uji coba. Dan hasil akhir yang diperoleh dinyatakan bahwa model pembelajaran outbound dinyatakan praktis untuk digunakan.

Konstruksi model pembelajaran outbound untuk meningkakan karakter peduli terhadap lingkungan sosial mahasiswa, terdiri dari Komponen, Isi Model, Efek Model dan Target Model. Komponen model terdiri dari sintaks, sistim sosial, prinsip reaksi dan sistim pendukung. Komponen sintaks terdiri dari tiga tahap, yaitu 1) Ice breaking, yang jika dilaksanakan dapat memudahkan pemecahan masalah-masalah dan mempermudahkan ditemukanya solusi pada setiap permasalahan yang terjadi terutama pada proses pelaksanaan outbound. 2) Pelaksanaan kegiatan river tubing dan voli pantai, yang difokuskan untuk proses semua kegiatan yang dapat membangangun karakter mahasiswa, sehingga karakter peduli mahasiswa dapat meningkat setelah mengikuti kegiatan outbound. 3) Tanya jawab (debriefing) pada tahap ini, dosen melakukan evaluasi karakter dengan melakukan Tanya jawab kepada mahasiswa sebagai peserta outbound, dari hasil debreafing tadi, dosen dapat secara langsung menemukan jawaban apakah setelah mengikuti kegiatan pembelajaran outbound tersebut.

Artikel ini ditulis berdasarkan Disertasi untuk penyelesaian S3 penulis pada Program studi Ilmu Pendidikan Pascasarjana, Universitas Negeri Padang, dengan Tim Promotor/ penguji: (1) Prof. Dr. Neviyarni S., M.S., Kons., (2) Prof. Dr. Herman Nirwana, M.Pd., Kons., (3) Afriva Khaidir MAPA., Ph.D., (4) Prof. Dr. Firman, M.S., Kons., (5) Prof. Dr. Eri Barlian, M.S. (**)

Editor/Sumber: Rahmat Ilahi (Kang Rie)
Tag: opini,pendidikan,sumatra-barat

SILAHKAN BERBAGI


BE SMART, READ MORE

Pj Sekda Solok Selatan: Keterbatasan Bukan Penghalang Dalam Pelaksanaan Tugas

Pj Sekda Solok Selatan: Keterbatasan Bukan Penghalang Dalam Pelaksanaan Tugas

SOLOK SELATAN - Keterbatasan ketersediaan tenaga dan armada menjadi salah satu penunjang aktivitas kehumasan dan...

Mardiansyah Didaulat Jadi Ketua dan Formatur Tunggal DPD PAN Padang Panjang

Mardiansyah Didaulat Jadi Ketua dan Formatur Tunggal DPD PAN Padang Panjang

MINANGKABAUNEWS, PADANG PANJANG -- Ketua DPP PAN Zulkifli Hasan menunjuk Mardiansyah sebagai Ketua DPD dan Formatur...

Pemkot Pariaman Pererat Kerjasama dengan Kejari

Pemkot Pariaman Pererat Kerjasama dengan Kejari

MINANGKABAUNEWS, PARIAMAN -- Pemerintah Kota Pariaman semakin mempererat kerjasama dengan Kejaksaan Tinggi Pariaman....

Polisi Sebut Raffi Ahmad Tidak Melanggar Prokes, Kok Begitu?

Polisi Sebut Raffi Ahmad Tidak Melanggar Prokes, Kok Begitu?

MINANGKABAUNEWS, JAKARTA -- Polda Metro Jaya menyebut tidak ada pelanggaran protokol kesehatan (Prokes) pada acara...

Fadli Zon Bantah Gerindra Keluarkan Putusan Dukung Bubarkan Ormas Intoleran

Fadli Zon Bantah Gerindra Keluarkan Putusan Dukung Bubarkan Ormas Intoleran

MINANGKABAUNEWS, JAKARTA -- Anggota DPR RI Fadli Zon membantah pernyataan Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai...


KOMENTAR ANDA