Sunday, 07 Mar 2021
Minangkabaunews
headline
home berita Nasional

Gila! Indonesia Bisa Kaya Mendadak Gara-gara Harta Karun Ini, Benilai Ratusan Triliun

Sabtu, 23 Januari 2021 - 13:12:15 WIB - 84180
Gila! Indonesia Bisa Kaya Mendadak Gara-gara Harta Karun Ini, Benilai Ratusan Triliun
Sup sarang Burung Walet (Foto: Dok. Istimewa)

MINANGKABAUNEWS, NASIONAL -- Menteri Perdagangan M Lutfi menyebut Indonesia punya produk ekspor yang bernilai tinggi dan menjadi "harta karun" nasional. Komoditas itu adalah sarang burung walet.

Sejak dahulu kala, sarang burung walet sudah dikenal sebagai sumber nutrisi yang berguna bagi kesehatan. Sarang buruh walet yang bentuknya mirip mangkuk ini tinggi protein.

Layaknya ginseng dari Korea Selatan atau jamur shitake dari Jepang, sarang burung walet adalah kekayaan alam yang bernilai ekonomi tinggi. Sarang burung walet dijuluki kaviar dari Timur karena kelezatannya yang melegenda sekaligus harganya yang luar biasa.

Di Hong Kong, negara yang banyak mengimpor sarang burun walet, semangkuk sup sarang burung walet bisa dihargai lebih dari US$ 100 per porsi. Dengan asumsi US$ 1 setara dengan Rp 14.080 seperti kurs referensi Bank Indonesia (BI) 18 Januari 2020, itu sama dengan Rp 1.408.000 per porsi.

itu kalau sudah jadi sup per mangkuk. Kalau masih bahan mentah gelondongan, harganya bisa sampai US$ 10.000/kg. Kalau dirupiahkan mencapai Rp 140.800.000/kg.

Indonesia adalah negara penghasil sarang burung walet terbesar di dunia. Data Kementerian Perdagangan menyebutkan, Indonesia memasok 38,57% kebutuhan sarang burung walet dunia. Disusul oleh Singapura (28%), China (9,15%), Hong Kong (4,69%), dan Malaysia (4,64%).

"Perdagangan sarang burung walet sangat penting. Nilai ekonomi sarang burung walet mencapai 0,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional," sebut laporan Kementerian Perdagangan.
Meski menjanjikan, tetapi sarang burung walet belum bisa menjadi komoditas andalan ekspor seperti batu bara, minyak sawit mentah (CPO), atau karet. Sampai saat ini, nilai ekspor sarang burung walet masih belum ada apa-apanya ketimbang komoditas-komoditas tersebut.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, ekspor sarang burung yang bisa dimakan (HS 04100010) selama Januari-Oktober 2020 adalah U$ 392,62 juta (Rp 5,53 triliun). Dibandingkan dengan total ekspor Indonesia yang pada periode tersebut mencapai US$ 131,51 miliar (Rp 1.851,64 triliun), kontribusi sarang burung walet hanya 0,29%.

Namun ada sinyal positif. Laju pertumbuhan nilai ekspor komoditas ini terus melesat, bahkan sangat cepat.

Pada Oktober 2020, ekspor sarang burung walet tumbuh 66,57% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/YoY). Lebih tinggi ketimbang pertumbuhan bulan sebelumnya yaitu 57,35% YoY.

Meskipun sarang burung walet menjadi komoditas yang seksi, namun di balik itu ada produksi proses yang tidak mudah.

"Kemungkinan success rate budidaya sarang burung itu di bawah 10%. Harus dipertimbangkan juga. Yang gagal banyak. Kalau kita lihat rumah burung Indonesia 100.000 lebih yang berhasil 5.000, nggak semua rumah burung berhasil," kata Ketua umum Perkumpulan Pengusaha Sarang Burung Indonesia (PPSBI) Boedi Mranata.

Ia bilang peluangnya kecil untuk berhasil membuat produksi sarang burung walet tidak mudah. Alhasil, meski harga satu Kg mencapai Rp 30 juta, namun pengembangan komoditas ini memiliki tantangan besar.

"Banyak tantangannya. Jenis ini kita bisa kategorikan binatang liar, sebab dia nggak ada knowlegde beri artificial beri makanan seperti ayam. Jadi tergantung alam, kalau alam rusak maka produksi turun. Kita cari area yang masih bagus untuk produksi, ketika rusak produksi turun. Jadi perlu dicari tempatnya," sebut Boedi.

Selain sulitnya produksi, nyatanya masih ada hal lain yang kerap menjadi kendala, yakni regulasi tumpang tindih. Pelaku usaha harus melewati itu, baik di tingkat pusat maupun daerah.

"ini perlu didorong bersama agar sejalan. Bisa juga di daerah, masing-masing daerah buat pajak daerah berbeda-beda, karena melihat dari sisi harga, ini duitnya banyak. Padahal success rate-nya nggak besar," paparnya.

Boedi mengatakan, nilai potensi sarang burun walet bisa mencapai ratusan triliun apabila dimaksimalkan pemasarannya. Namun, komoditas itu menjadi baku dengan pengolahan produksi lebih lanjut, maka nilainya akan menjadi lebih besar lagi.

"Kalau diversifikasi produk kita berhasil, contohnya tidak jual sarang mentah saja, sekarang banyak dibuat seperti kosmetik, industri seperti itu lagi marak di China. Kalau itu kenyaataan, itu potensial lebih dari sekarang. Nilai tambah makin naik," kata Boedi.

Selama ini, Indonesia menjadi eksportir terbesar sarang burung walet ke China, dengan pangsa pasar 75% di dunia. Nilai itu bisa berkembang, baik dari segi nilai maupun diversifikasinya asal ada roadmap yang jelas dari Pemerintah untuk pengembangannya. Apalagi, ada banyak jenis komoditas ini, totalnya bisa sampai 20 tingkatan kualitas, tergantung ukuran, kebersihan dan aspek lainnya.

"Namun, secara garis besar ada 2 jenis, ada sarang buruh putih dan sarang burung hitam. Yang hitam produksinya makin dikit, ini jauh lebih murah dari sarang burung putih. Yang putih kualitasnya sangat bagus, khususnya dari daerah-daerah yang belum tercemar sarang putih kualitasnya bagus. dan kita masih banyak area-area seperti itu di pedalaman," sebutnya.

Akibat perbedaan kualitas itu, hanya sarang burung hitam putih yang mendapat tempat atau kuota untuk masuk dalam pengiriman ke China. Harga paling murah dibanderol dengan harga di atas Rp 5-6 juta per kg.

"Yang bagus di atas Rp. 30 juta. Kalau ekspor ke China pasar ini setiap konsumen milih kemampuan masing. Tapi mereka fanatik terhadap produk itu, kalau uangnya dikit Rp. 5-6 juta, kalo bagus ambil kualitas terbaik," sebutnya. (CNBC)

Editor/Sumber: Rahmat/cnbcindonesia.com

SILAHKAN BERBAGI


KOMENTAR ANDA