Tuesday, 22 Oct 2019
Minangkabaunews
headline
home berita Minangkabau

Sirih, Simbol Penghormatan Orang Minang

Senin, 06 Juni 2011 - 23:03:23 WIB - 5718
Sirih, Simbol Penghormatan Orang Minang


Padang, MNC -- Tradisi mengunyah sirih sudah ada sejak ratusan tahun lalu oleh nenk moyang orang minang, sejak masuknya jaran hindu di Minangkabaut, tradisi mengunyah sirih tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Tradisi ini tidak hanya dilakukan oleh golongan rakyat jelata, namun wanita, pria, masyarakat dengan tingkat sosial lebih tinggi, bahkan keluarga kerajaan juga melakukan tradisi ini.

Untuk mengunyah sirih, ada empat bahan yang diperlukan yaitu daun sirih atau buah sirih yang biasa dipakai di Sumatera Barat, pinang, gambir dan kapur sirih. Daun sirih dipercaya memiliki khasiat, untuk mengutakan gigi dan memperpanjang usia

Sirih merupakan simbol di alam yang mewakili kerendahan hati, saling kasih dan menghormati satu sama lain. Filosofi ini didapat dari cara pohon sirih tumbuh yang menjalar ke atas tanpa merusak tempat mereka hidup atau inangnya.

Pinang sebagai simbol dari kerendahan, kejujuran, kehormatan, keinginan untuk bekerja dengan tulus dan ikhlas. Filosofi ini didapatkan dari cara pohon pinang yang tumbuh lurus ke atas dengan buah yang bergerombol banyak.

Kapur sirih yang putih menyimbolkan hati yang murni dan ketulusan, tapi saat dibutuhkan bisa menjadi sesuatu yang agresif dan berbahaya.

Sementara gambir dengan rasa pahitnya melambangkan keberanian dan kesabaran. Makna ini dapat dilihat dari warna daun gambir yang kuning dan harus menggunakan cara yang khas untuk mengunyahnya. Maksudnya adalah saat seseorang menginginkan sesuatu, harus bersabar atas semua proses untuk menerimanya.

Karena hal tersebut, tradisi ini termasuk penting untuk masyarakat minangkabau yang percaya bahwa mengunyah sirih merupakan tradisi yang memiliki makna sebagai pemersatu harapan untuk menjadi seseorang yang selalu rendah hati, memiliki hati yang murni juga tulus tetapi agresif, jujur, juga sabar.

Orang Minang masih menjaga kuat tradisi ini hingga sekarang. Semua kegiatan, seperti upacara kelahiran, pernikahan, penyambutan tamu, atau pun ritual yang sakral tradisi ini terus dilakukan. Karena mengunyah sirih dijadikan sebuah isyarat komunikasi yang terbuka dan membangun tali persaudaraan. Tidak ada orang yang boleh menolak, jika sudah ditawarkan sirih karena itu simbol penghormatan. (rahmat)

Editor/Sumber:
Tag: padang,seni-budaya,sumatra-barat

SILAHKAN BERBAGI


REKOMENDASI


BE SMART, READ MORE

Timbulkan Kemacetan, Tim Sabhara dan Warga Bersihkan Pohon Tumbang di Baso

Timbulkan Kemacetan, Tim Sabhara dan Warga Bersihkan Pohon Tumbang di Baso

AGAM -- Sebuah pohon tumbang ditengah Jalan Raya Baso-Batusangkar, Kabupaten Agam tepatnya di dekat SMPN 4 Baso...

Menunjang Pelayanan Pencarian dan Pertolongan, Gedung Basarnas Mentawai Dibangun

Menunjang Pelayanan Pencarian dan Pertolongan, Gedung Basarnas Mentawai Dibangun

MENTAWAI - Untuk menunjang pelayanan Pencarian dan Pertolongan Badan Sar Nasional (Basarnas) Kabupaten Kepulauan...

Alat Kelengkapan DPRD Sumbar Ditetapkan, PKS Tak Dapat Kursi Ketua Komisi

Alat Kelengkapan DPRD Sumbar Ditetapkan, PKS Tak Dapat Kursi Ketua Komisi

PADANG -- Sejumlah nama-nama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sumatera Barat yang duduk di kursi pimpinan...

Wiranto Ditusuk Jadi Headline Media Asing dari AFP Hingga Straitstimes

Wiranto Ditusuk Jadi Headline Media Asing dari AFP Hingga Straitstimes

JAKARTA -- Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Wiranto diserang oleh pasangan suami istri saat...

Tahun ini 215 Kasus Kebakaran di Padang, Damkar Gencarkan Sosialisasi Pencegahan

Tahun ini 215 Kasus Kebakaran di Padang, Damkar Gencarkan Sosialisasi Pencegahan

PADANG -- Dinas Pemadaman Kebakaran Kota Padang, Sumatera Barat, gencar melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang...


KOMENTAR ANDA



kaos minang unik dan lucu
minangkabaunews social media