Wednesday, 15 Jul 2020
Minangkabaunews
headline
home berita Minangkabau

Sirih, Simbol Penghormatan Orang Minang

Senin, 06 Juni 2011 - 23:03:23 WIB - 7091
Sirih, Simbol Penghormatan Orang Minang


Padang, MNC -- Tradisi mengunyah sirih sudah ada sejak ratusan tahun lalu oleh nenk moyang orang minang, sejak masuknya jaran hindu di Minangkabaut, tradisi mengunyah sirih tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Tradisi ini tidak hanya dilakukan oleh golongan rakyat jelata, namun wanita, pria, masyarakat dengan tingkat sosial lebih tinggi, bahkan keluarga kerajaan juga melakukan tradisi ini.

Untuk mengunyah sirih, ada empat bahan yang diperlukan yaitu daun sirih atau buah sirih yang biasa dipakai di Sumatera Barat, pinang, gambir dan kapur sirih. Daun sirih dipercaya memiliki khasiat, untuk mengutakan gigi dan memperpanjang usia

Sirih merupakan simbol di alam yang mewakili kerendahan hati, saling kasih dan menghormati satu sama lain. Filosofi ini didapat dari cara pohon sirih tumbuh yang menjalar ke atas tanpa merusak tempat mereka hidup atau inangnya.

Pinang sebagai simbol dari kerendahan, kejujuran, kehormatan, keinginan untuk bekerja dengan tulus dan ikhlas. Filosofi ini didapatkan dari cara pohon pinang yang tumbuh lurus ke atas dengan buah yang bergerombol banyak.

Kapur sirih yang putih menyimbolkan hati yang murni dan ketulusan, tapi saat dibutuhkan bisa menjadi sesuatu yang agresif dan berbahaya.

Sementara gambir dengan rasa pahitnya melambangkan keberanian dan kesabaran. Makna ini dapat dilihat dari warna daun gambir yang kuning dan harus menggunakan cara yang khas untuk mengunyahnya. Maksudnya adalah saat seseorang menginginkan sesuatu, harus bersabar atas semua proses untuk menerimanya.

Karena hal tersebut, tradisi ini termasuk penting untuk masyarakat minangkabau yang percaya bahwa mengunyah sirih merupakan tradisi yang memiliki makna sebagai pemersatu harapan untuk menjadi seseorang yang selalu rendah hati, memiliki hati yang murni juga tulus tetapi agresif, jujur, juga sabar.

Orang Minang masih menjaga kuat tradisi ini hingga sekarang. Semua kegiatan, seperti upacara kelahiran, pernikahan, penyambutan tamu, atau pun ritual yang sakral tradisi ini terus dilakukan. Karena mengunyah sirih dijadikan sebuah isyarat komunikasi yang terbuka dan membangun tali persaudaraan. Tidak ada orang yang boleh menolak, jika sudah ditawarkan sirih karena itu simbol penghormatan. (rahmat)

Editor/Sumber:
Tag: padang,seni-budaya,sumatra-barat

SILAHKAN BERBAGI


BE SMART, READ MORE

Sumbar Tambah 5 Kasus Positif Covid-19 Hari Ini

Sumbar Tambah 5 Kasus Positif Covid-19 Hari Ini

PADANG -- Pemprov Sumbar mengumumkan 5 kasus baru Covid-19 di Sumbar pada 7 Juli 2020 dari pemeriksaan sebanyak 460...

Maling Gondol Duit BOS Rp 40 Juta di Pariaman

Maling Gondol Duit BOS Rp 40 Juta di Pariaman

PARIAMAN -- Kepala Sekolah SMP N1 Kampung Dalam Yurnalis terpaksa menelan pil pahit akibat uang Bantuan Operasional...

SE Bupati Mentawai Terkait Fasilitas Rapid Test Mandiri Ditunda, Pemda Lakukan Kaji Ulang

SE Bupati Mentawai Terkait Fasilitas Rapid Test Mandiri Ditunda, Pemda Lakukan Kaji Ulang

MENTAWAI - Surat Edaran (SE) Bupati Nomor 36/351/BUP-2020, Pemkab Mentawai melalui tim gugus tugas Covid-19 menuai...

Tidak Ada Penambahan Kasus Baru di Padang, 45 Kelurahan Bebas Covid-19

Tidak Ada Penambahan Kasus Baru di Padang, 45 Kelurahan Bebas Covid-19

PADANG -- Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Padang melaporkan hari ini tidak ada penambahan kasus baru pasien...

Masih Banyak Warga Yang Belum Menerima BLT di Pesisir Selatan

Masih Banyak Warga Yang Belum Menerima BLT di Pesisir Selatan

PESISIR SELATAN - Sejumlah masyarakat penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) dari Kementerian Sosial (Kemensos) di...


KOMENTAR ANDA



Eka putra, SE for Tanah Datar 1
kaos minang unik dan lucu