Sunday, 18 Aug 2019
Minangkabaunews
headline
home berita Pariaman

Tiga Kakak Beradik di Pariaman Penderita Kerapuhan Tulang Butuh Uluran Tangan

Rabu, 03 Februari 2016 - 07:56:18 WIB - 12931
Tiga Kakak Beradik di Pariaman Penderita Kerapuhan Tulang Butuh Uluran Tangan


Pariaman -- Tiga buah hati dari Azwardi warga Dusun Tarok Desa Cubadak Mentawai Kecamatan Pariaman Timur. Mereka bersaudara, Muhammad Iqbal (15), Muhammad Ridwan (12) dan Nurfadilla (11), mengalami kelainan pada tulang tangan dan kaki, sangat mudah patah bila digerakkan.

Azwardi (58) orang tua dari penderita tulang rapuh/Osteogenesis Imperfecta atau brittle bones (istilah Kedokteran) mengatakan, ketiga anak nya mulai mengalami patah tulang pertama sekitar usia 8 bulan. "Iqbal anak saya yang pertama mengalami patah tulang saat di gendong oleh ibunya, kemudian yang ke dua Ridwan saat di pelukkan saya ketika nonton TV, begitu juga yang ke tiga Dila sedang duduk bermain tiba-tiba ia menjerit, setelah diperiksa ternyata tulang kakinya yang patah," terang Azwar pada wartawan MNK News, Selasa(2/2).

Menurut penjelasan Ridwan, ketiga anaknya tersebut yang merupakan anak yang ke 4, 5 dan 6 dari enam orang bersaudara menderita kelainan tulang rapuh ketika ia masih bekerja sebagai tukang jahit di medan sekitar 15 tahun yang lalu. Sedangkan anak Azwar yang pertama, ke dua dan ke tiga, kondisinya normal seperti kebanyakan orang, bahkan anak tertua nya telah bekerja di perusahaan Jepang di Jakarta, begitu juga yang ke dua merupakan alumni sekolah kebidanan dan yang ketiga juga sedang bekerja di Jepang.

Sewaktu masih di Medan lanjut nya, sudah pernah dibawa berobat ke rumah sakit Metodis yang ditangani langsung oleh Direktur Ariyanto. "Direkturnya mengatakan tidak ditemukan penyebabnya, namun hanya mengatakan anak saya ini menderita penyakit tulang rapuh. Sempat juga memakai obat yang dianjurkan pihak rumah sakit sekira setahun, kata nya obat tersebut dari Kanada, pemakaian obatnya dengan cara melalui infus, memang pada saat menggunakan obat tadi, kondisi anak-anak cukup membaik, namun karena perubahan managemen rumah sakit, akhirnya obat itu terputus," ulas Azwar.

Karena kondisi ekonomi yang terus terjepit dengan pengeluaran yang cukup besar untuk mengobati anak-anaknya, sehingga ia memutuskan untuk pulang kampung pada awal tahun 2009. "Sampai di rumah, ibu mereka meninggal, sekarang hanya saya dengan anak perempuan yang kedua merawat dan membersihkan mereka. Semua nya harus dengan kesabaran dan extra hati-hati, karena bila terbentur atau tangan nya sampai di angkat dan terlepas, ia akan menjerit kesakitan karena tulangnya akan patah lagi," tutur ayah 6 anak ini.

Azwar juga menceritakan, apabila ketiga anak nya ingin mandi dengan terpaksa Azwar menyeret kepala nya saja ke kamar mandi, karena hanya bagian susunan tulang leher punggung dan panggul saja yang bisa digerakkan, sedangkan tulang tangan dan kaki sangat mudah patah bila bergerak. Ia juga mengatakan kedua tangan dan kaki, ketiga anak nya tersebut sudah beberapa kali patah, sehingga telah berbentuk seperti ruas-ruas bengkok.

"Kalau bicara normal, cuma kondisi fisiknya saja yang berbeda, meskipun mereka telah berusia belasan tahun, namun hanya memiliki tinggi antara 50-70 cm, dengan berat 15-20 kg. Kami sekeluarga sangat berharap pemerintah bisa meringankan beban ini, dengan cara mencarikan solusi pengobatan serta menyediakan alat bantu gerak, untuk ketiga anak saya supaya lebih memudahkan merawat nya, bayangkan saja hanya badan mereka yang bisa di gerakkan dalam kondisi tidur telentang, sementara kedua tangan dan kakinya tidak bisa di gunakan," ujar Azwar berharap dengan mata berkaca-kaca.

Penjelasan dari Kepala Dinas Kesehatan Yutiardi Rifai saat berada di lokasi dalam rangka kunjungan dan evaluasi anak-anak disabilitas se Kota Pariaman mengatakan, kemungkinan ke tiga anak Azwar terkena dampak merkuri/logam berat dari makanan yang di konsumsi si ibu ketika sedang hamil.

"Berdasarkan keterangan dari Bapak Azwar, ketika saat tinggal di Belawan Medan yang mana merupakan areal industri, saat istrinya hamil, sering sekali mengkonsumsi ikan dari laut Belawan, sedangkan lautnya merupakan jalur pelabuhan dan industri, jadi dugaan kita sementara, anak-anak nya ini terkena dampak logam berat melalui makanan yang di konsumsi si ibu ketika hamil," jelas Yutiardi.

Ia juga memberikan contoh dampak logam berat dari industri yang menyebabkan janin tidak bisa berkembang dalam kandungan melalui makanan ataupun ikan laut dan sungai yang tercemar. "Seperti yang terjadi di Jepang tahun 1970, ada di satu kawasan industri di pinggir pantai, yang mana semua ibu-ibu hamil saat itu kemudian melahirkan, anak-anak nya cacat fisik, di Tanjung Priok pada 1980 yang juga areal industri, banyak juga ibu-ibu hamil yang melahirkan anaknya dengan kondisi cacat tanpa tangan dan kaki," terang Yutiardi.

"Seiring dengan program Pemko bagaimana anak-anak disabilitas ini mendapatkan kehidupan yang layak dan nyaman, jadi kita dari Dinas Kesehatan bekerjasama dengan Dinas Sosial. Untuk penaganan ke tiga anak ini terlebih dahulu kita akan meminta dokter anak memeriksa ketiga nya, kemudian setelah di temukan diagnosa baru kita carikan dan berikan obat, sedangkan untuk alat bantu gerak akan ditangani oleh pihak Dinsos," Ucap Yutiardi. (Warman)

Editor/Sumber: -
Tag: pariaman,sumatra-barat

SILAHKAN BERBAGI


REKOMENDASI


BE SMART, READ MORE

Dituding Netizen Bermain Dalam Kasus Dokter Romi, Sekda Solok Selatan Meradang

Dituding Netizen Bermain Dalam Kasus Dokter Romi, Sekda Solok Selatan Meradang

SOLOK SELATAN -- Ulah postingan di media sosial, Sekda Solok Selatan meradang. Pasalnya dalam postingan salah satu...

Ternyata Kota Pariaman Pernah Menjadi Pangkalan Pertama TNI AL di Pulau Sumatera

Ternyata Kota Pariaman Pernah Menjadi Pangkalan Pertama TNI AL di Pulau Sumatera

PARIAMAN - Komandan Pangkalan Utama TNI AL (Danlantamal) II Padang, Laksamana Pertama TNI, Agus Sulaeman, letakan batu...

40 Warga Binaan Rutan Kelas II B Painan Dapat Remisi Usai Upacara Peringatan HUT RI ke 74

40 Warga Binaan Rutan Kelas II B Painan Dapat Remisi Usai Upacara Peringatan HUT RI ke 74

PESIAIR SELATAN - Sebanyak 40 orang warga binaan di Rumah Tahanan (Rutan) kelas II B Painan memperoleh remisi saat hari...

HUT RI ke-74, Sat Narkoba Polres Jakbar Terima Penghargaan Dari Kemenristekdikti

HUT RI ke-74, Sat Narkoba Polres Jakbar Terima Penghargaan Dari Kemenristekdikti

JAKARTA -- Di Hari Kemerdekaan RI ke 74 Satuan Narkoba Polres Metro Jakarta Barat kesekian kalinya Menerima Penghargaan...

Seorang Nelayan yang Dilaporkan Hilang di Perairan Mentawai Sudah Ditemukan

Seorang Nelayan yang Dilaporkan Hilang di Perairan Mentawai Sudah Ditemukan

MENTAWAI - Team Sar gabungan telah menemukan seorang nelayan yang hilang saat pergi memancing di Pulau Nukok Desa...


KOMENTAR ANDA



kaos minang unik dan lucu
minangkabaunews social media