Tuesday, 02 Jun 2020
Minangkabaunews
headline
Pemko Pariaman home berita Pariaman

Gerhana adalah Fenomena Alam Biasa, Masyarakat Dihimbau Tidak Perlu Takut

Selasa, 08 Maret 2016 - 12:21:17 WIB - 1456
Gerhana adalah Fenomena Alam Biasa, Masyarakat Dihimbau Tidak Perlu Takut


Pariaman -- Kantor Kementrian Agama melalui Kasi Penyelenggara Syariah telah mengirimkan surat edaran ke seluruh Mesjid di Kota Pariaman yang berisi himbauan kepada masyarakat untuk melaksanakan shalat gerhana pada Rabu (9/3/2016).

Dedi Wandra Sag MA Kasubag TU Kemenag Pariaman mengatakan, surat himbauan telah berisi petunjuk tekhnis untuk melaksanakan shalat sunat gerhana, yang diturunkan dari Ka.KanKemenag ke KUA dan diteruskan ke setiap Mesjid yang ada di Pariaman.

"Disinilah letak kekuasaan Allah yang akan mempertebal keimanan kita, karena kejadian ini tidak setiap tahun dan jarang sekali terjadi, dan di himbau kepada masyarakat bahwa gerhana adalah fenomen alam yang tidak perlu ditakuti, namun harus dipahami bahwa kekuasaan Allah itu meliputi segala yang ada di langit dan bumi. Tetapi yang harus kita hindari adalah jangan melihat langsung ke gerhana matahari dengan mata telanjang, karena dapat menimbulkan kerusakan pada penglihatan mata, atau bisa juga memakai kaca mata tebal khusus untuk melihat gerhana untuk melihatnya," ulas Dedi pada awak media di ruang kerjanya.

Di kesempatan yang sama Kasi Penyelenggara Syariah Kemenag Pariaman Tk. Amril Spd.I mengatakan gerhana merupakan sesuatu fenomena alam yang tak perlu ditakuti, yang mana sebagaian masyarakat ada yang takut akan munculnya gerhana matahari karena terjadinya kegelapan yang secara tiba-tiba di waktu pagi/siang hari.

"Sebetulnya dalam surat Al-furQan ayat 46 itu sudah dijekaskan. Yang maknanya jika kita lihat dalam setiap bulan itu tidak lah sama terkadang bilangan ganjil dan kadangkala genap, kemudian contohnya lagi, terkadang siang lebih panjang dari pada malam dan kadang pula malam lebih lama dari pada siang, dan ada juga seperti pelangi yang muncul tiba-tiba dilangit, demikianlah kekuasaan Allah yang mengatur jagad raya ini dalam genggamannya," sebut Amril.

Ia melanjutkan berkenaan dengan surat edaran yang kita terima dari Kementrian Agama Wilayah Sumbar, untuk melaksanakan shalat sunat gerhana, maka setiap Kemenag di daerah juga harus melaksanakannya. Pada dasarnya gerhana itu ada dua yaitu Khusuf ( gerhana matahari) dan Qhusuf (gerhana bulan), jadi berlandaskan dalil hadist dan alquran, terjadinya gerhana matahari ataupun bulan bukanlah karena mati dan hidupnya seseorang, yang mengacu pada pemahaman jahiliyah di masa Rasulullah bahwa orang yahudi beranggapan telah terjadi peristiwa meninggalnya orang terkemuka/penting dimasa itu.

"Sedangkan tata cara pelaksanaan shalat gerhana itu sendiri sama dengan shalat sunat biasa dua rakaat, bedanya disetiap rakaat dua kali membaca alfatiah, dua kali ayat, dua kali rukuk, dan dua kali itidal dan sujud hanya sekali. Contoh di awali dengan niat kemudian takbir, setelah itu membaca surat alfatiah dan ayat pendek, kemudian rukuk dan itidal, setelah itidal ini kita tidak langsung sujud namun kembali membaca surat alfatiah dan ayat, begitu juga dengan rakaat kedua prosesnya sama dengan yang pertama dan tidak ada ayat khusus yang di anjurkan," ulas Alumni STIT-SB Pariaman ini.

"Setelah shalat sunat gerhana di anjurkan juga khutbah dua kali seperti shalat Jumat, dan sesuai dalil anjurkan di Mesjid. Setelah berkoordinasi dengan Pemko Pariaman untuk tempatnya Mesjid Annur Zainul Kampung Panas pukul07.00wib di saat gerhana matahari mulai berjalan. Sebagai imam dari Kemenag Pariaman Zahardi Kasi Pendais dan Khatib Drs. Jauhar Muis ketua MUI. Kemudian baru melaksanakan zikir dan doa," sambungnya.

Ia juga mengatakan, shalat sunat gerhana dilaksanakan pas gerhana mulai muncul, karena itu dianjurkan untuk membaca ayat yang panjang, karena durasi gerhana bermacam-macam ada yang 10, 15 atau 25 menit. Namun tidak diperbolehkan menambah rakat karena dalam ibadah panduan nya adalah Sunnah Nabi, dan Rasul sendiri hanya dua rakaat melaksanakan shalat sunat gerhana. (Warman).

Editor/Sumber: Warman
Tag: pariaman,sumatra-barat

SILAHKAN BERBAGI


BE SMART, READ MORE

Lagi, Hari ini 72 Orang Masuk Karantina di Pessel, Kontak dengan Pasien Positif

Lagi, Hari ini 72 Orang Masuk Karantina di Pessel, Kontak dengan Pasien Positif

PESISIR SELATAN - Sebanyak 72 Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Orang Tanpa Gejala (OTG)di Kabupaten Pesisir Selatan...

Gawat! Kerusuhan di AS Menggila, Jenderal Perang Terganas Ini Mendadak Muncul di Gedung Putih

Gawat! Kerusuhan di AS Menggila, Jenderal Perang Terganas Ini Mendadak Muncul di Gedung Putih

INTERNASIONAL - Sosok paling berpengaruh di militer Amerika dan terkenal paling ganas di dunia mendadak muncul di...

Namanya Ade Armando Si Dosen Jumawa Penebar Kebencian

Namanya Ade Armando Si Dosen Jumawa Penebar Kebencian

oleh : Farid Anshar Alghifari, Mahasiswa Hukum Tata Negara Fakultas Syariah UIN Imam Bonjol Padang Namanya Ade...

Laskar Merah Putih Markas Kota Bukittinggi Terima SK, Siap Emban Mandat Tugas

Laskar Merah Putih Markas Kota Bukittinggi Terima SK, Siap Emban Mandat Tugas

BUKITTINGGI - Laskar Merah Putih Daerah Provinsi Sumatera Barat Gelar acara Halal bihalal yang berlangsung di Markas...

UPDATE 2 Juni: Tambah 7, Kini Ada 574 Kasus Covid-19 di Sumbar

UPDATE 2 Juni: Tambah 7, Kini Ada 574 Kasus Covid-19 di Sumbar

PADANG -- Pemerintah Sumbar memperlihatkan bahwa masih terjadi penularan virus corona di masyarakat yang menyebabkan...


KOMENTAR ANDA



Eka putra, SE for Tanah Datar 1
kaos minang unik dan lucu