Asal Usul Berdirinya Silek Pauh Limo Sakato

  • Whatsapp

Oleh: Geby Aprideliankar

Silek Pauh Pertama kali dipimpin oleh Rajo Putih Anak merupakan Datuk Bandaro Sungai Tarap, yang mendapat titah dari Sungai Tarap dan diangkat Pagaruyuang untuk menjadi Raja Rantau Pauh XIV (Alam Ampek Baleh). Sebab itu Pauh XIV (Pauh V dan Pauh IX), mempunyai adat nan salingka Nagari, bacupak nan salingka batung, bedaulat ke Pagaruyuang/ Minangkabau.

Read More

Pada masa zaman penjajahan, Silat Pauh untuk menjaga kemungkinan atau kampung-kampung dari serangan bangsa asing yaitu IIC dan VOC, untuk itu Rajo Putih membentuk tuo-tuo Nagari di Pauh Siampek baleh, (Pauh V dan Pauh IX). Rajo Putih ini berhak atau dibolehkan untuk membuat peraturan sendiri. Beliau merupakan perwakilan dari Pagaruyuang/Minangkabau seperti meminta Upeti. Silat Minang yang berkembang di Pauh XIV dengan nama silat Pauh sebelum diajarkan dibuatlah suatu perjanjian bersatu untuk membela Nagari dan Adat.

Menurut Nenek moyang Pauah, Silek Pauh Limau Sakato itu dari Datuak Rajo Api saudara dari Datuk Rajo Putih, kemudian Dipurungkan( diwariskan) kepada Bapak Buyuang Basri dan membentuk perguruan Alang Bangkeh, kemudian perguruan Alang Bangkeh yang didirikan oleh Buyung Basri itu pecah, dan di Pauh hanya tersisa beberapa perguruan Silek Pauh seperti Lima Sakato, Alang Bangkeh, Pauh Nan Saiyo, Gumarang Sati, Kinantan Sati itu yang ada di Pauh saat ini.

Kemudian Bapak Basri tersebut Mempunyai murid yang bernama Bapak Yusuf Rajo Alam dan Bapak Masri, kemudian Bapak Yusuf Rajo Alam memimpin perguruan Silek Alam Babangkeh tersebut, alirannya termasuk kedalam aliran Silek Pauh juga, dan Bapak Masri mempunyai perguruan Limau Sakato , yang mana Bapak Yusuf Rajo Alam dan Bapak Masri tersebut satu perguruan sama-sama Silek Pauh. Kemudian gerakan jurus perguruan ini sama karena bersaudara tidak ada bedanya sama sekali hanya nama perguruan masing-masing yang membedakannya.

Perguruan Silek Alang Bangkeh dan Limau Sakato sama- sama dan gerakannya pun sama , kalau Gerakan di Silek Pauh Limau Sakato tidak begitu banyak gerakannya yaitu :

Pertama. Gerak langkah kaki, dan gerak langkah tangan di Silek Pauh. Gerakan di kaki ada bermacam jenis langkah seperti Langkah Ampang, Serong, Papek, Runciang. Kemudian ada gerakan tambahan seperti Gerakan Kabau Gadang, Langkah Sabalik, Langkah Simpi, Gantuang Kaki kemudian gerakan langkah Patiang.

Kedua. Gerakan Tangan, ada empat seperti Kalatik, Tinju, Tampa, Siduk, dan adapun gerakan tambahan lainnya seperti Sipak, Lajang, Hantam kemudian Patiang Balakang.

Makna dari nama Aliran Silek Pauh Limau Sakato . Kita teliti makna dari Limau Sakato sendiri adalah Rukun Islam yang lebih ditekankan kepada ibadah, sopan jo santun, dan Akhlakul karimah.

Syarat masuk ke perguruan Silek Pauh Limau Sakato sudah bersifat Umum seperti Mendaftar, Pas Photo, dan Uang Pendaftaran. Kemudian setelah anak didik yang masuk di perguruan Silek Pauh tersebut sudah mulai bisa menghafalkan gerakan maka ada persyaratan khusus:

Syarat-Syarat Khusus saat Latihan Silek adalah :

1. Pakaian Hitam : Pakaian murid itu adalah pakaian yang bersih. Silek ini akan menjadi pakaian bagi murid.
2. Pisau : setelah latihan ini, maka si Murid tidak akan dilukai oleh pisau, karena memiliki ilmu setajam Pisau.
3. Lado kutu (cabe rawit), Garam dan Gulo (Gula-red) : ilmu silat ini memakai raso (rasa), karena semakin mahir orang melakukan sesuatu biasanya mereka tidak berpikir lagi, tetapi menggunakan raso (Perasaan-red). Contoh, ahli masak terkenal jarang menimbang bahan-bahan yang mereka butuhkan, tetapi tetap juga menghasilkan masakan yang enak dan khas, seperti itu pulalah silat nantinya pada tingkat mahir.
4. Endong Sapatagak (Baju Silat satu Stel) : Untuk mengajar Silat kepada anak sasiannya (murid) seorang guru memerlukan pakaian Silat yang bagus yang bisa dipakai selama melatih muridnya sampai tamat (Putuih Kaji), maka sudah sepatutnya dan sepantasnya bagi seorang murid untuk menyediakan seragam latihan bagi gurunya untuk melatih para muridnya, jangan sampai malah merepotkan guru yang akan menurunkan ilmunya kepada muridnya.
5. Bareh jo Pitih (Beras dan Uang-red) : belajar Silat akan menyita waktu guru, oleh karena itu sudah menjadi kewajiban bagi murid mempertimbangkan nilai dari waktu yang dihabiskan oleh guru. Di samping itu Beras yang dibawa juga akan dimakan bersama sesama anggota sasaran silek (tempat berlatih Silat dinamai sasaran ada juga yang menyebut laman). Nilai Uang dan Beras tidak ditentukan jumlahnya. Namun setidaknya beras itu dibawa satu atau dua liter, sedangkah untuk Uang, itu terpulang kepada kemampuan ekonomi si murid untuk mempertimbangkannya.

Larangan dalam perguruan Silek Limau Sakato adalah tidak boleh meninggalkan Sholat, tidak boleh Berpacaran dalam satu perguruan karna lebih ke system Kekeluargaan dalam perguruan tersebut. Selain untuk Ilmu Bela diri, Silek juga termasuk kedalam Kesenian yang masih ada dan masih lestari pada saat ini.

/*Penulis :Mahasiswa, Fakultas Ilmu Budaya, Sastra Daerah Minangkabau, Universitas Andalas.

Related posts