Asal Usul Penamaan Parak Laweh

  • Whatsapp
kota padang
Kota Padang (Foto: Dok. Dinsos Kota Padang)

Oleh: Fajar Rizal Maulana

Penamaan daerah-daerah di indonesia biasanya didasarkan pada faktor geografis yakni seperti penamaan itu berkenan dengan permukaan bumi, tumbuh-tumbuhan, dan penduduk. Titik lebih jelasnya, penamaan daerah-daerah di Indonesia khususnya Padang dapat dikelompokkan menjadi 7 yaitu penamaan berdasarkan topografi atau keadaan permukaan bumi, nama-nama tumbuhan, bentuk atau posisi daerah, sejarah, gabungan topografis dan sifat manusia, suku penduduk dan fungsi daerah atau profesi penduduknya.

Read More

Penamaan berdasarkan topografis itu terjadi atau terbentuk dalam dua model yang pertama yaitu daerah itu diberi nama berdasarkan bentuk dengan mempergunakan panca indera penglihatan saja misalnya orang-orang memberi nama suatu daerah seperti apa yang mereka lihat yang, kedua daerah itu diberi nama berdasarkan bentuk keadaan dengan mempergunakan gabungan panca indra penglihatan dan pengecapan serta perasaan. Misalnya Daerah Parak Laweh.

Parak Laweh merupakan salah satu kelurahan yang berada di Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang, Sumatera Barat, Indonesia. Daerah Parak Laweh dekat dengan daerah Banuaran dan bersebelahan dengan daerah Pampangan.

Berdasarkan hasil wawancara tentang Asal-usul nama Parak Laweh dengan masyarakat atau penduduk asli pribumi daerah Parak Laweh, nama Parak Laweh berasal dari 2 kata yaitu Parak yang artinya (kebun) dan Laweh yang artinya (luas).

Diberi nama Parak Laweh dikarenakan daerah ini dulunya terdapat kebun yang sangat luas dan ditumbuhi dengan ilalang, jalan raya yang saat ini digunakan untuk menjadi jalan lalu lintas dahulunya adalah jalan-jalan kecil dan jalan-jalan setapak yang hanya bisa dilalui oleh 1 orang.

Dikarenakan tanah yang sangat luas yang kosong yang hanya diisi dengan tumbuhan maka masyarakat Minangkabau mulai membangun tempat tinggal mereka satu persatu di daerah ini, maka sebagai masyarakat pendatang masyarakat yang tinggal di wilayah ini menamakan daerah ini sebagai Parak Laweh, alasannya karena wilayah ini yang dahulunya tidak mempunyai nama maka masyarakat yang tinggal di sini memberi nama Parak Laweh sebagai identitas daerah mereka, masyarakat setempat mengambil nama Parak Laweh berdasarkan letak dan kondisinya.

Setelahnya daerah ini diisi, masyarakat yang tinggal di daerah ini menjadikan parak (kebun) yang luas itu menjadi sawah dan ladang mereka. Dengan dialih fungsikan parak tadi menjadi sawah, itu tidak membuat masyarakat setempat mengubah nama pertama yang telah diberikan pada daerah ini. Bisa kita simpulkan penamaan daerah Parak Laweh diberi nama berdasarkan bentuk atau posisi daerah.

Ada juga beberapa orang masyarakat pribumi Parak Laweh mengatakan bahwa daerah itu sendiri termasuk wilayah Banuaran. Banuaran sendiri diberi nama dikarenakan di wilayah ini ada seorang laki-laki yang mempunyai pekerjaan sebagai pemancing ikan. Ia sering dijumpai di sungai yang melewati daerah ini. Oleh karena pekerjaannya itulah, penduduk setempat memanggilnya dengan sebutan ‘Banu’ Banu berasal dari kata banyu yang artinya orang yang selalu berada di air. Alat perlengkapan yang harus dipakai untuk memancing adalah joaran atau joran. Setiap pergi memancing dia selalu membawa joaran ini akhirnya orang memanggilnya dengan Banuaran, artinya Banuaran yang selalu membawa joran panggilan inilah yang dijadikan nama daerahnya itu. Penamaan daerah Banuaran sendiri berdasarkan gabungan topografis dan sifat manusianya.

Menurut saya hampir tidak ada yang mengetahui hal itu, baik begitu pula secara lisan hanya sedikit dari generasi tua mengetahui informasi mengenai hal itu sedangkan generasi muda dapat dipastikan tidak ada yang mengetahuinya hal ini kemungkinan karena pengaruh yang datang dari berbagai hal seperti kemajuan teknologi yang membuat cerita asal-usul nama tempat ini hampir punah dan jarang ditemukan lagi di tengah masyarakat setempat, apalagi sampai sekarang ini banyak masyarakat pendatang yang berdomisili di Kota Padang atau tempatnya di daerah-daerah Parak Laweh sehingga terjadinya pembauran budaya antar pendatang dengan penduduk aslinya dan dapat menyebabkan hilangnya kesenian budaya yang dimiliki oleh masyarakat oleh karena itu dan perlu upaya untuk pendokumentasian agar tidak hilang begitu saja. (*)

/* Penulis adalah Mahasiswa Universitas Andalas.

Related posts