Asap Hitam Mengepul di Sanaa, Puluhan Jet Tempur Israel Gempur Ibu Kota Yaman

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Langit Sanaa kembali berdarah. Puluhan jet tempur Israel menghujani ibu kota Yaman dengan serangan udara masif pada Kamis pekan lalu, menewaskan sejumlah warga dan melukai puluhan lainnya. Gumpalan asap hitam membubung tinggi, terekam kamera TV Al Masirah.

Militer Israel mengklaim sasaran mereka adalah markas Staf Umum Houthi beserta kompleks militer dan intelijen kelompok itu. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, bahkan menyebut “puluhan militan teroris Houthi” tewas dalam operasi tersebut.

Versi berbeda datang dari pihak Houthi. Media yang berafiliasi dengan kelompok bersenjata itu melaporkan hanya dua orang tewas dan 48 luka-luka—angka jauh lebih rendah dari klaim Israel.

Serangan berlangsung tepat saat pemimpin Houthi, Abdel-Malik al-Houthi, menyampaikan pidato televisi. Dia mengecam Israel atas agresi terhadap Palestina di Gaza yang sudah berlangsung hampir dua tahun. “Amerika Serikat menggunakan hak veto untuk menggagalkan resolusi gencatan senjata. Sikap itu makin memberanikan Israel melanjutkan kejahatannya,” katanya.

Al-Houthi juga memuji perlawanan Palestina yang dilakukan “meski dengan sarana sangat terbatas”.

Militer Israel menyebut target lain yang dihantam meliputi markas propaganda militer dan kamp penyimpanan senjata. Mereka menegaskan serangan adalah respons atas rentetan serangan drone dan rudal Houthi ke wilayah Israel.

Sehari sebelumnya, Houthi mengaku bertanggung jawab atas serangan drone ke hotel di pelabuhan Eilat, Laut Merah. Insiden itu muncul beberapa jam setelah Israel menghantam pelabuhan Hodeidah—pelabuhan vital Yaman—dengan 12 serangan.

Warga Sanaa menyebutkan serangan kali ini menghantam kawasan selatan dan barat ibu kota. Serangan Israel ke Yaman memang bukan hal baru dan kerap menimbulkan korban sipil massal. Infrastruktur sipil, termasuk hunian dan bandara internasional, sering jadi sasaran.

Awal bulan ini, serangan Israel di Sanaa dan provinsi al-Jawf menewaskan lebih dari 40 orang, termasuk jurnalis dan anak-anak.

Sejak Israel melancarkan operasi besar-besaran di Gaza pada Oktober 2023, Houthi rutin menyerang Israel dengan rudal dan drone sebagai bentuk solidaritas kepada Palestina. Mereka berjanji hanya akan berhenti jika ada gencatan senjata permanen. Houthi juga menargetkan kapal dagang di Laut Merah.

Aksi terhadap jalur pelayaran internasional itu memicu serangan balasan dari Amerika Serikat dan Inggris, yang khawatir terhadap ancaman bagi perdagangan global.

Related posts