Ayah Masih Menjadi Cinta Pertama Bagi Anak Perempuan Fatherless?

Ilustrasi (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: FATRISYA FABIONA, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Andalas

Banyak orang yang mengatakan bahwa, cinta pertama seorang anak perempuan itu adalah ayahnya sendiri. Lalu bagaimana dengan mereka yang berada pada kondisi fatherless? Apakah asumsi tadi masih sama? Sebelum itu, mari kita bahas sedikit tentang fatherless ini.

Read More

Fatherless merupakan keadaan dimana anak kehilangan sosok ayah. Kehilangan sosok ayah disini bukan hanya karena ayah telah meninggal dunia atau broken home, melainkan dalam keluarga utuh pun seorang anak juga bisa merasakan kondisi fatherless ini.

Istilah fatherless ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang Psikolog asal Amerika Serikat, Edward Elmer Smith. Edward mengatakan bahwa, fatherless merupakan kondisi ketiadaan peran ayah dalam perkembangan seorang anak.
Ketiadaan peran ini dapat berupa ketidakhadiran, baik secara fisik maupun psikologis dalam kehidupan anak. Sebenarnya, keadaaan fatherless ini sudah banyak dialami oleh sebagian anak di Indonesia. Hanya saja istilah ini masih cukup awam bagi masyarakat Indonesia.

Salah satu faktor yang menyebabkan seorang anak mengalami kondisi fatherless ini adalah pola patrilineal yang masih sangat kental di Indonesia. Orang-orang beranggapan bahwa kegiatan mengasuh dan mendidik anak adalah tugas seorang ibu, sedangkan tugas ayah hanya mencari nafkah saja.
Anggapan yang rata-rata sudah tertanam dalam benak masyarakat membuat banyaknya anak-anak di Indonesia menjadi korban. Kondisi ini membuat Indonesia berada di urutan ketiga sebagai negara fatherless terbanyak di dunia.

Tentunya posisi tersebut bukanlah sesuatu yang dapat kita banggakan. Hal ini dikarenakan peran seorang ayah dalam proses tumbuh kembang seorang anak akan berdampak pada kehidupan anak kedepannya.
Peran ayah tidak hanya dibutuhkan oleh anak laki-laki saja, akan tetapi anak perempuan juga membutuhkannya. Bagi anak perempuan, sosok ayah dibutuhkan untuk membentuk kepercayaan diri, bahkan berpengaruh pada hubungan asmara si anak nantinya.

Lalu bagaimana nasib anak perempuan yang tidak merasakan kehadiran sosok ayah dalam kehidupannya? Dampak apa yang mereka rasakan? Dan yang paling penting, apakah mereka juga menyetujui asumsi masyarakat tentang ayah adalah cinta pertama anak perempuan.
Untuk menjawab pertanyaan ini, saya telah melakukan wawancara dengan tiga orang remaja perempuan fatherless di kampus saya.

Setelah di wawancarai, ketiga narasumber sama-sama tidak merasakan peranan ayahnya sejak kecil. Dua diantaranya merupakan anak broken home, sedangkan sisanya memiliki keluarga utuh tapi tidak merasakan peran ayahnya secara maksimal.
Dari wawancara singkat bersama ketiga narasumber, saya mendapati hasil yang sama. Ketiga narasumber menyatakan bahwa ayah bukanlah cinta pertama bagi mereka, melainkan adalah patah hati pertama mereka.
Hal ini dikarenakan peran ayah itu sendiri tidak mereka rasakan. Jadi, bagaimana mereka bisa mengatakan ayah adalah cinta pertama mereka, sedangkan mereka sendiri pun merasa asing dengan ayahnya.

Ketika ditanya dampak yang dirasakan, ketiga narasumber sama-sama merasa sulit untuk bersosialisasi, tidak bisa mengontrol emosi, kurang percaya diri, sulit dalam mengambil keputusan dan sering kali lari dari masalah.

Terakhir, mereka juga memiliki perasaan takut untuk menjalin hubungan yang serius dengan lawan jenis, bahkan sekedar untuk berkomunikasi saja mereka merasa takut. Hal ini dikarenakan mereka berpikir semua laki-laki di dunia ini seperti ayah mereka.

Namun, setiap hal di dunia ini pasti memiliki sisi gelap dan terangnya masing-masing. Selain dampak negatif tadi, ketiga narasumber juga mengatakan hal positif yang mereka rasakan, seperti menjadi perempuan yang tangguh dan tidak terlalu bergantung kepada orang lain. Setelah diperhatikan, ternyata fatherless ini memiliki dampak negatif yang lebih banyak dibandingkan dengan dampak positifnya. Dari sini dapat kita lihat bahwa peran ayah dalam pertumbuhan anak itu sangat penting bagi anak.

Mengapa demikian? Karena dampak yang dirasakan oleh anak tidak hanya pada saat itu saja, tetapi dampak yang dirasakan adalah dalam jangka panjang. (***)

Related posts