Bangkit dari Keterpurukan: Muhammadiyah Sumatera Barat di Persimpangan Sejarah

  • Whatsapp
Wakil Ketua PWM Sumbar, Buya Ki Jal Atri Tanjung (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: Advokat Ki Jal Atri Tanjung (Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat

Malam itu, Sabtu 27 Desember 2025, sebuah peringatan bersejarah berlangsung di Gedung Dakwah Muhammadiyah Provinsi Sumatera Barat, Sawahan, Kota Padang. Bukan perayaan dengan gemerlap lampu atau kemegahan panggung, melainkan sebuah momentum sederhana yang sarat makna—peringatan satu abad kehadiran Muhammadiyah di tanah Minangkabau. Kesederhanaan acara bukanlah cerminan dari ketidakpedulian, tetapi sebuah penghormatan terhadap duka yang tengah melanda. Sumatera Barat sedang berduka, beberapa kabupaten dan kota dilanda bencana alam, namun di tengah kesedihan itu, api semangat perjuangan Muhammadiyah tetap menyala, tidak kunjung padam.

Read More

Seratus tahun. Satu abad penuh. Angka yang monumental bagi sebuah gerakan yang telah mengukir sejarah panjang dalam perjalanan Islam di Nusantara. Namun, di balik angka yang membanggakan itu, tersimpan sebuah kegelisahan yang tak bisa diabaikan: mengapa Muhammadiyah Sumatera Barat justru tertinggal dari wilayah-wilayah lain? Pertanyaan ini bukan sekadar retorika, melainkan sebuah alarm yang harus segera dijawab dengan tindakan nyata.

Ketika Sejarah Berbicara: Dari Mana Kita Berasal

Untuk memahami di mana kita berdiri hari ini, kita perlu menoleh ke belakang, merenungkan jejak langkah para pendiri Muhammadiyah di tanah Minangkabau. Mereka datang dengan semangat pembaruan, membawa obor pencerahan di tengah kegelapan. Dengan visi tajdid—pemurnian dan pembaruan—mereka membangun fondasi yang kokoh: sekolah-sekolah modern, rumah sakit, panti asuhan, masjid-masjid, dan berbagai institusi sosial yang menjadi tulang punggung kesejahteraan masyarakat.

Para tokoh perintis Muhammadiyah Sumatera Barat tidak hanya membangun gedung atau organisasi, mereka membangun karakter, menumbuhkan kesadaran, dan menanamkan nilai-nilai Islam yang sejati. Mereka adalah teladan yang kini harus kita jadikan cermin. Apakah kita masih memiliki semangat yang sama? Apakah kita masih berani bermimpi besar seperti mereka?

James L. Peacock, seorang antropolog Belanda, dalam bukunya Purifying The Faith: The Muhammadiyah Movement in Indonesia Islam, dengan tegas menyatakan bahwa Muhammadiyah adalah “gerakan reformis yang terkuat yang ada di kalangan Islam di Asia Tenggara, bahkan mungkin di seluruh dunia Islam.” Pengakuan ini bukan sekadar pujian kosong, melainkan sebuah tanggung jawab besar yang harus kita pikul. Jika Muhammadiyah diakui sebagai gerakan pembaruan terkuat, maka kita tidak boleh membiarkan organisasi ini menjadi statis, tertinggal, atau kehilangan relevansinya.

Realitas yang Menyakitkan: Mengakui Ketertinggalan

Namun, kenyataan berbicara lain. Di tengah pencapaian-pencapaian yang telah ditorehkan selama satu abad, Muhammadiyah Sumatera Barat menghadapi sebuah paradoks yang menyakitkan. Di saat wilayah-wilayah Muhammadiyah lain di Indonesia berlari kencang dengan inovasi dan terobosan, kita masih berjalan dengan langkah yang lambat. Di saat daerah lain membangun universitas berkelas internasional, rumah sakit dengan fasilitas canggih, dan program-program ekonomi yang memberdayakan, kita masih berkutat dengan persoalan-persoalan mendasar.

Ketertinggalan ini bukan hanya soal infrastruktur atau angka statistik, tetapi juga soal semangat dan mentalitas. Ada yang salah dalam cara kita bergerak. Ada yang hilang dalam dinamika organisasi kita. Mungkin kita terlalu nyaman dengan pencapaian masa lalu, atau mungkin kita kehilangan keberanian untuk mengambil risiko dan melakukan terobosan-terobosan besar.

Pertanyaan mendasar harus kita ajukan: apakah para pimpinan Muhammadiyah di semua tingkatan memiliki waktu yang cukup untuk memimpin secara profesional? Apakah pembagian amanah, tugas, fungsi, dan tanggung jawab telah dilakukan dengan jelas dan tegas? Atau jangan-jangan kita masih terjebak dalam pola kepemimpinan yang setengah hati, di mana para pengurus menjalankan tugasnya sambil lalu, tanpa dedikasi penuh?

Kembali ke Substansi: Perserikatan dan Pergerakan

Momentum satu abad Muhammadiyah Minangkabau harus menjadi titik balik. Ini bukan sekadar peringatan seremonial, tetapi sebuah panggilan untuk bangkit, untuk berlari cepat mengejar ketertinggalan, untuk kembali kepada substansi sejati Muhammadiyah sebagai organisasi perserikatan dan pergerakan.

Perserikatan berarti kesatuan dan kebersamaan. Ini bukan sekadar slogan, melainkan jiwa yang harus menghidupi setiap aktivitas Muhammadiyah. Ukhwah—persaudaraan, solidaritas, dan kerja sama—harus menjadi fondasi yang kokoh. Tanpa ukhwah yang kuat, Muhammadiyah hanyalah sekumpulan individu yang berjalan sendiri-sendiri, tanpa arah dan tujuan yang jelas. Kita harus menyatukan seluruh potensi yang ada, menggerakkan semua elemen dalam Perserikatan Muhammadiyah Sumatera Barat untuk bekerja bersama demi kebajikan dan ketakwaan.

Pergerakan berarti dinamika, perubahan, dan kemajuan. Muhammadiyah lahir sebagai gerakan tajdid, gerakan pembaruan yang tidak pernah berhenti berinovasi. Kita tidak boleh membiarkan organisasi ini menjadi organisasi yang jumud—kaku dan stagnan. Kita harus terus bergerak, terus berinovasi, terus mencari cara-cara baru untuk meningkatkan kualitas hidup umat Islam dan masyarakat luas.

Empat Pilar Kebangkitan: Pendidikan, Sosial, Ekonomi, dan Keagamaan

Kebangkitan Muhammadiyah Sumatera Barat harus ditopang oleh empat pilar utama: pendidikan, sosial, ekonomi, dan keagamaan. Keempat bidang ini bukan berdiri sendiri, melainkan saling terkait dan saling menguatkan.

Di bidang pendidikan, Muhammadiyah Sumatera Barat telah memiliki fondasi yang kuat. Sekolah-sekolah, pondok pesantren modern dan internasional, serta perguruan tinggi telah dibangun. Namun, pertanyaannya: apakah kualitas pendidikan kita sudah setara dengan wilayah lain? Apakah kurikulum kita sudah berorientasi pada kebutuhan zaman? Apakah guru-guru kita sudah mendapatkan pelatihan dan pengembangan profesi yang memadai?

Kita harus berani melakukan revolusi pendidikan. Bukan hanya sekadar menambah jumlah sekolah, tetapi meningkatkan kualitas secara signifikan. Kita harus mengembangkan kurikulum yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga ilmu pengetahuan dan teknologi yang relevan dengan kebutuhan zaman. Kita harus menyediakan pendidikan gratis bagi masyarakat yang tidak mampu melalui program beasiswa dan bantuan pendidikan yang lebih luas. Kita harus mengembangkan pendidikan kejuruan yang dapat meningkatkan keterampilan dan kemampuan siswa untuk bersaing di dunia kerja. Dan yang tidak kalah penting, kita harus mengadakan program pendidikan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran tentang kesehatan, hukum, lingkungan, dan keagamaan.

Di bidang sosial, Muhammadiyah Sumatera Barat harus lebih aktif dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Rumah sakit dan klinik yang telah dibangun harus dilengkapi dengan fasilitas yang memadai dan tenaga medis yang profesional. Panti asuhan harus menjadi tempat yang nyaman bagi anak yatim, janda, dan orang tua yang tidak mampu. Ketika bencana alam melanda, Muhammadiyah harus menjadi garda terdepan dalam memberikan bantuan kepada korban.

Di bidang ekonomi, kita harus mengembangkan program-program yang dapat memberdayakan masyarakat. Pelatihan keterampilan, pengembangan entrepreneur, pendirian koperasi, pembentukan kelompok tani dan gabungan kelompok tani—semua ini harus dilakukan secara sistematis dan terukur. Kita tidak boleh hanya memberikan ikan, tetapi mengajarkan cara memancing, bahkan membangun kolam ikan.

Di bidang keagamaan, Muhammadiyah harus tetap menjadi pusat dakwah dan penyebaran Islam di Sumatera Barat. Masjid-masjid dan pusat-pusat keagamaan harus menjadi ruang yang hidup, bukan hanya untuk ibadah ritual, tetapi juga untuk pengkajian, diskusi, dan pengembangan pemahaman Islam yang moderat dan rahmatan lil alamin. Majelis Tabligh harus digerakkan secara masif, dakwah komunitas dan dakwah kultural harus dikembangkan. Pengajian dan pengkajian keagamaan harus dilakukan secara berkala untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang Islam. Pelayanan haji dan umrah harus ditingkatkan, dan pendidikan keagamaan—termasuk bimbingan bahasa Arab dan pendalaman fikih—harus relevan dengan perkembangan zaman.


Kepemimpinan yang Profesional: Kunci Kebangkitan

Namun, semua program dan rencana tidak akan berarti apa-apa tanpa kepemimpinan yang profesional. Inilah kunci sejati kebangkitan Muhammadiyah Sumatera Barat. Para pimpinan di semua tingkatan—dari tingkat cabang hingga wilayah—harus memiliki waktu yang cukup untuk memimpin, mengurus organisasi dengan serius, dan profesional di bidang masing-masing.

Tidak boleh ada lagi kepemimpinan yang setengah hati, kepemimpinan yang menjalankan tugas sambil lalu tanpa dedikasi penuh. Pembagian amanah, tugas, fungsi, dan tanggung jawab harus jelas dan tegas. Setiap pimpinan harus tahu apa yang menjadi tanggung jawabnya dan harus bekerja dengan penuh komitmen untuk mencapai target yang telah ditetapkan.

Kepemimpinan yang profesional juga berarti kepemimpinan yang berani mengambil keputusan, berani melakukan terobosan, dan berani menghadapi risiko. Kita tidak boleh terjebak dalam zona nyaman, dalam pola pikir yang defensif dan reaktif. Kita harus menjadi pemimpin yang proaktif, yang mampu melihat peluang di tengah tantangan, yang mampu mengubah krisis menjadi momentum kebangkitan.

Panggilan untuk Bangkit: Sekarang atau Tidak Sama Sekali

Momentum satu abad Muhammadiyah Minangkabau adalah panggilan untuk bangkit. Ini adalah momen krusial dalam sejarah Muhammadiyah Sumatera Barat. Jika kita tidak bangkit sekarang, jika kita tidak berlari cepat mengejar ketertinggalan sekarang, maka kesempatan itu akan hilang, dan kita akan semakin tertinggal jauh dari wilayah-wilayah lain.

Kebangkitan ini bukan hanya tanggung jawab pimpinan, tetapi tanggung jawab kita semua—setiap anggota Muhammadiyah, setiap warga Persyarikatan, setiap muslim yang peduli dengan kemajuan Islam dan kesejahteraan umat. Kita harus bersatu, bekerja sama, dan bergerak bersama dengan semangat tajdid yang tidak pernah padam.

Seratus tahun yang lalu, para pendiri Muhammadiyah di Minangkabau bermimpi membangun masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, masyarakat yang maju, sejahtera, dan berakhlak mulia. Mimpi itu belum sepenuhnya terwujud. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Tetapi dengan semangat ukhwah, dengan kerja keras, dengan inovasi dan kreativitas, dengan kepemimpinan yang profesional, dan dengan doa serta ridho Allah SWT, kita pasti bisa bangkit.

Bangkitlah, Muhammadiyah Minangkabau Sumatera Barat! Bangkitlah dari ketertinggalan! Bangkitlah dengan semangat tajdid yang membara! Jadilah kembali gerakan reformis yang terkuat, tidak hanya di Asia Tenggara, tetapi di seluruh dunia Islam!

Ini adalah momentum kita. Ini adalah panggilan sejarah. Sekarang atau tidak sama sekali.

Salam pergerakan. Salam kebangkitan. Salam Muhammadiyah!

Related posts