MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Ketika banjir bandang dan tanah longsor menerjang tiga provinsi di Sumatra pada akhir 2025, ribuan hektare sawah terancam gagal panen. Kini, pemerintah bergerak cepat dengan mengerahkan dua kementerian sekaligus untuk menyelamatkan salah satu lumbung padi terpenting di Indonesia.
Kementerian Pertanian dan Kementerian Pekerjaan Umum menggabungkan kekuatan mereka dalam sebuah operasi pemulihan darurat. Target utama: mengembalikan fungsi jaringan irigasi yang rusak parah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
“Koordinasi kami sangat intens. Kami membagi tugas dengan jelas—mana yang ditangani PU, mana yang dikerjakan Pertanian. Tujuannya satu: percepatan,” ungkap Sam Herodian, Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Kebijakan Pertanian, saat meninjau lokasi bencana di Kabupaten Solok.
## Batang Gawan: Urat Nadi Persawahan yang Kritis
Di tengah kawasan persawahan Nagari Salayo, Kecamatan Kubung, mengalir Batang Gawan—sebuah sungai yang menjadi sumber kehidupan bagi petani lokal. Namun bencana mengubah segalanya. Aliran sungai tersumbat material longsor, mengancam ribuan hektare sawah kehilangan pasokan air.
Pemerintah menetapkan lokasi ini sebagai prioritas utama. Balai Wilayah Sungai Sumatera V langsung menerjunkan tim untuk normalisasi sepanjang 2.650 meter. Hingga kini, 650 meter sudah berhasil dibersihkan.
Kawasan ini bukan sembarang area pertanian—ini adalah salah satu pusat lumbung padi Ranah Minang yang menyuplai kebutuhan beras regional.
## Strategi Dua Jalur: Ringan vs Berat
Pembagian kerja antara kedua kementerian dirancang berdasarkan tingkat kerusakan. Kementerian Pertanian akan menangani jaringan irigasi dengan kerusakan ringan, sementara Kementerian PU fokus pada infrastruktur dengan kerusakan sedang hingga berat.
“Kami mendorong pemda untuk segera mengajukan usulan perbaikan irigasi yang rusak ringan. Untuk yang berat, serahkan kepada Kementerian PU,” jelas Sam Herodian.
Langkah ini bukan hanya soal pertanian. Normalisasi sungai juga menjadi benteng perlindungan bagi pemukiman warga dari ancaman banjir susulan yang bisa datang kapan saja.
## Suara dari Lapangan: Harapan Petani
Ni Men, seorang petani di Kabupaten Solok, tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Pengalamannya menghadapi banjir membuatnya paham betul urgensi perbaikan Batang Gawan.
“Kalau hujan tiga jam saja, air sudah meluap ke sawah dan rumah-rumah kami. Sungai ini harus segera diperbaiki,” katanya dengan nada penuh harap.
Bagi ribuan petani seperti Ni Men, normalisasi sungai ini bukan sekadar proyek pemerintah—ini adalah jaminan masa depan mereka, jaminan bahwa sawah mereka bisa kembali menghijau dan menghasilkan.






